Puisi
Ketika Fitrah Memanggil Pulang
Oleh: Rianti Budi Anggara
TanahRibathMedia.Com—Bukan langit yang berubah,
bukan pula bumi berhenti berputar.
Bukan pula gempa mengguncang dunia ini.
Yang berguncang hanyalah relung hati,
ketika diri mulai bertanya,
"Siapakah sebenarnya aku ini?"
Di sudut kota seorang pilu menangis sendu.
Bukan hujan yang membasahi pelupuk matanya,
bukan pula petir yang menyayat dadanya,
melainkan sunyi yang tak pernah menemukan telinga
untuk mendengar isi jiwanya.
Ada yang memeluk sepi setiap harinya,
menyembunyikan resah
di balik tawa yang dipaksakan.
Ia mencari rumah, tempat pulang,
menitipkan serpihan jiwanya.
Namun yang ditemuinya hanyalah
pintu-pintu penghakiman,
yang perlahan memadamkan harapan.
Di sudut gemerlap lampu kota,
seorang ibu mengangkat kedua tangannya ke langit.
Harapan terbisik lirih bersama air mata,
bukan memohon harta,
bukan pula kemuliaan dunia,
melainkan satu pinta
untuk anaknya yang sedang kehilangan arah.
"Ya Allah...
Jagalah anakku.
Jangan biarkan ia jauh
dari jalan yang Engkau ridai."
"Ya Allah...
Tunjukkanlah jalan-Mu yang lurus.
Jangan biarkan langkahnya tenggelam
dalam gelapnya dunia."
Doanya jatuh bersama air mata,
bukan karena benci,
melainkan karena cinta
yang takut kehilangan arah.
Ada pula seorang ayah,
lebih banyak diam daripada bicara.
Tatapannya kosong,
namun dadanya penuh gelisah.
Amarah dan kasih saling berebut ruang,
sedangkan sajadah menjadi tempatnya pulang.
Ia mulai belajar,
bahwa marah dan benci
tak pernah menyembuhkan.
Dan mencintai,
bukan berarti membenarkan.
Lantunan ayat suci terus mengalun,
zikir membasahi bibir yang tak lelah berharap.
Hati bermunajat dalam hening,
memohon agar cahaya-Nya
kembali menerangi perjalanan.
Allah menciptakan manusia
berpasang-pasangan.
Laki-laki dan perempuan,
dalam fitrah yang Dia tetapkan.
Fitrah adalah anugerah,
dan syariat adalah cahaya,
bukan penjara.
Namun di luar sana,
sebagian insan
menjadikan agama sebagai cambuk,
bukan lagi tuntunan hidup.
Sebagian lagi
menjadikan kebebasan sebagai kiblat,
seolah halal dan haram
tak lagi memiliki batas.
Wahai saudaraku,
yang masih menyimpan iman di dadamu,
engkau bukan dosamu.
Namun dosa
bukan pula sesuatu
yang layak dipelihara.
Lepaskan apa yang tak layak kau genggam,
jangan biarkan ia menguasai
jiwa yang Allah muliakan.
Setiap manusia
mempunyai ujian.
Ada yang diuji dengan harta,
ada yang diuji dengan kuasa,
ada yang diuji dengan syahwat,
dan ada pula yang diuji
dengan pergulatan dalam dirinya.
Bukankah setiap ujian
seharusnya membawa kita pulang,
bukan menjauh dari Tuhan?
Aku melihat manusia berdiri
di antara dua jalan.
Sebagian datang membawa cahaya,
mengulurkan tangan dengan kasih.
Sebagian lagi datang membawa api,
melempar batu,
merasa dirinya paling suci.
Sebagian bahkan menghapus
batas halal dan haram,
mengira itulah kasih sayang.
Padahal Islam mengajarkan
untuk menasihati tanpa mencaci,
merangkul tanpa membenarkan,
serta membuka pintu taubat
tanpa mengubah batas syariat.
Jangan menjadi tembok
yang menghalangi seseorang menemukan cahaya.
Jadilah tangan
yang membantunya berdiri.
Sebab mungkin,
Allah telah lebih dahulu
menerima tangisnya.
Bila hari ini langkahmu masih gontai,
jangan berputus asa dari rahmat-Nya.
Tak ada jiwa yang terlalu jauh
selama masih ingin kembali.
Tak ada hati yang terlalu gelap
selama masih mengetuk pintu ampunan-Nya.
Karena fitrah
tak pernah benar-benar mati.
Ia hanya tertutup oleh debu dunia,
menunggu waktu untuk dibersihkan
oleh taubat, doa, dan hidayah.
Maka ketika fitrah memanggil pulang,
jangan menutup telinga.
Sebab jalan kembali kepada Allah
selalu lebih indah
daripada jalan yang menjauh dari-Nya.
~~
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-Rum: 30)
Via
Puisi
Posting Komentar