PUISI
Jejak yang Kini Kupijak
Oleh: Rianti Budi Anggara
TanahRibathMedia.Com—Ada langkah berat mengiringi hariku,
Ingat suatu masa kala itu.
Bersama bayangan sosok tak tersentuh ragu,
Bersemayam rapi dalam ruang kalbu.
"Ibu, ini bagaimana?"
Lantang memecah lamunannya.
Bukan marah, senyum dan peluk diberinya,
Lembut hatimu menyiram akalku yang fana.
Di ruang sederhana penuh cerita,
Papan tulis menjadi saksi berjuta makna.
Setiap huruf yang kautulis di sana,
Menjelma cahaya, menuntunku membaca dunia.
Teringat pula kala itu,
Warna dan rupa molek khas milikmu.
Mencium telapak tangan dengan sendu,
Bukan pinta disanjung ataupun dipuja selalu,
Namun sedang menanam adab dalam diriku.
Kala bel berbunyi menutup pagi,
Riuh tawa memenuhi lorong-lorong sepi.
Ada tangis karena salah yang kami sesali,
Ada pula bangga ketika usaha dihargai.
Tak semua hari dihiasi pelangi,
Pernah pula air mata diam-diam menemani.
Tugas yang menumpuk, teguran yang menyakiti,
Baru kini kupahami...
Itulah kasih yang sedang membentuk diri.
Dahulu kupikir engkau hanya menyampaikan ilmu.
Nyatanya, engkau sedang merapikan arah langkahku.
Menguatkan kaki yang hampir membeku,
Menyinari hati yang nyaris kelabu.
Kini waktu, tempat, dan kesempatan baru.
Larangan telah menjadi kewajibanku.
Bukan khianat, namun pilihan sadarku.
Sebuah pesan tersampaikan, harus tersampaikan dariku.
Kini aku berdiri di depan mereka,
Di tempat yang dahulu kupandang penuh takzim dan bangga.
Suara kecil yang dulu bertanya,
Kini berganti mengucap,
"Anak-anak, mari kita mulai belajar."
Barulah kusadari beratnya langkahmu.
Menahan lelah di balik senyummu.
Menyimpan letih tanpa mengeluh,
Agar setiap benih terus bertumbuh.
Aku mulai mengerti mengapa dahulu
Engkau tak pernah bosan mengulang ilmu.
Sebab mendidik bukan sekadar membuka buku,
Melainkan menanam harapan hingga waktu.
Andai kelak namaku terlupa,
Semoga ilmu tetap tinggal di dada mereka.
Sebagaimana jejakmu tak selalu disebut dunia,
Namun doa-doamu hidup dalam setiap langkah yang dewasa.
Hari ini aku bukan lagi anak yang menatapmu dari bangku kayu.
Aku sedang belajar menjadi sosok sepertimu.
Belum seteduh tatapanmu, belum selembut tuturmu,
Namun setiap langkahku adalah ikhtiar meneruskan jejakmu.
Terima kasih, untuk setiap teguran, doa, dan restu.
Untuk setiap sabar yang tak pernah meminta temu.
Sebab dari seluruh pelajaran yang kautanam dahulu,
Pelajaran paling indah bukan sekadar tentang ilmu,
melainkan bagaimana menjadi manusia yang mampu menerangi sesamanya,
sebagaimana dahulu engkau menerangiku.
Via
PUISI
Posting Komentar