OPINI
Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi
Oleh: Anggun Roy Sonda
(Pemerhati Sosial)
TanahRibathMedia.Com—Akhir-akhir ini, kita kerap disuguhi narasi yang terus berulang yaitu Gen Z adalah generasi stroberi atau generasi mentega. Lembek, mudah rapuh, dan hancur hanya karena teguran keras atau beban perkuliahan. Data statistik mengenai lonjakan angka depresi, kecemasan, hingga bunuh diri di kalangan usia 15–24 tahun selalu dijadikan senjata untuk menghakimi mereka agar lebih tegar. Namun, benarkah mereka sekadar lemah? Media sosial dan tekanan sosial hari ini bukan sekadar pemicu sekunder, melainkan bahan bakar utama yang membuat depresi Gen Z berbeda dari generasi sebelumnya melalui jeratan ganda.
Pertama, media sosial sebagai panggung tanpa rehat. Gen Z tumbuh dengan gawai sebagai cermin diri. Setiap guliran layar (scroll) memicu perbandingan tiada henti dengan figur ikonis, teman sebaya, hingga versi ideal diri mereka sendiri yang melahirkan kecemasan status (status anxiety) kronis. Sistem penanda suka (likes), tayangan (views), dan pemenuhan validasi eksternal ini dirancang untuk adiksi, tetapi di saat yang sama memicu kesepian terdalam karena interaksi kehilangan kedalaman nyata.
Kedua, tekanan sosial berupa target yang terus bergerak. Sebagai sandwich generation 2.0, selain dituntut oleh ekspektasi orang tua, mereka harus memikirkan masa depan di tengah krisis iklim dan ketidakpastian geopolitik. Skeptisisme Gen Z bukanlah watak bawaan lahir, melainkan respons logis terhadap dunia yang terus mengingkari janjinya.
Ketidakpastian karier dan masa depan adalah akar dari seluruh kegelisahan tersebut. Jika skeptisisme ini berhenti pada keputusasaan, ia akan menjadi depresi. Namun, jika diterjemahkan menjadi aksi kolektif, ia bertransformasi menjadi daya dorong perubahan. Gelombang resistensi Gen Z berpotensi menjadi titik balik. Bukan karena mereka yang terkuat, tetapi mereka adalah generasi pertama yang menolak patuh pada aturan usang secara membabi buta. Gen Z cemas bukan karena mereka lemah, tetapi indra mereka berfungsi normal di tengah dunia yang tidak lagi normal (www.kompas.id, 20-6-2026).
Gaslighting Struktural dan Abainya Negara
Peradaban sekuler kapitalistik secara sistematis mendisrupsi potensi pemuda karena sistem ini menempatkan materi dan keuntungan ekonomi di atas segalanya. Pemuda sering kali dikomodifikasi, mereka tidak dipandang sebagai agen perubahan yang utuh, tetapi sebatas target pasar atau roda penggerak industri.
Stigma buruk seperti mental lembek atau kurang bersyukur sering kali menjadi tameng bagi abainya fungsi riayah (pengurusan dan pelayanan) negara. Alih-alih mengevaluasi sistem yang gagal menyediakan ruang tumbuh yang layak, beban kesalahan justru dilemparkan ke pundak generasi muda secara personal. Ini adalah bentuk gaslighting struktural yang masif.
Dalam kacamata sekuler kapitalistik, fungsi negara menyusut dari pelindung publik (ra'in) menjadi sekadar regulator atau fasilitator bisnis. Akibatnya, pemuda tidak lagi dipandang sebagai aset peradaban yang harus dibina, tetapi dianggap sebagai beban anggaran atau komoditas ekonomi semata.
Titik Bangkit Menuju Alternatif Sistemis
Di balik krisis, selalu ada dialektika yang melahirkan perubahan besar. Kecemasan yang dialami Gen Z bukanlah titik akhir yang melumpuhkan, tetapi pemantik yang membangunkan kesadaran kritis mereka. Ketika rasa cemas itu ditarik dari wilayah personal ("Kenapa saya gagal?") ke wilayah struktural ("Ada yang salah dengan sistem ini"), di situlah titik bangkit dimulai.
Di tengah kegagalan sistem hari ini, pandangan bahwa Islam merupakan alternatif sistemis yang menawarkan kesejahteraan (rahmatan lil 'alamin) menjadi diskursus yang sangat relevan. Ketika kapitalisme dinilai eksploitatif, Islam hadir membawa paradigma yang menempatkan manusia, alam, dan Pencipta dalam keselarasan yang utuh.
Sejarah mencatat bahwa pada masa kejayaan Islam (Golden Age), dunia tidak kekurangan figur pemuda hebat. Kita mengenal Ibnu Sina yang pada usia 18 tahun sudah menjadi dokter istana sekaligus pakar metafisika, atau Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun dengan strategi geopolitik melampaui zamannya. Kekuatan karakter generasi masa itu tidak lahir secara kebetulan, tetapi hasil dari desain sistemis yang mengawinkan dua pilar utama.
Dua Pilar Karakter Generasi Emas Islam
1. Fondasi Kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah)
Kepribadian ini dibentuk dari keselarasan antara pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang bersandarkan pada akidah Islam. Integritas moral ini melahirkan ketakwaan yang menjadi kontrol internal kuat. Ketika memegang kekuasaan atau ilmu yang tinggi, mereka tidak menggunakannya untuk menindas atau korupsi karena sadar akan pertanggungjawaban di akhirat.
2. Kecakapan Multidisiplin (Polymath)
Sistem pendidikan Islam tidak menyekat antara ilmu agama (tsaqafah Islam) dan ilmu dunia (sains/teknologi). Sebelum mempelajari astronomi atau kedokteran, para pemuda masa itu telah menuntaskan hafalan Al-Qur'an dan fikih sebagai fondasi berpikir yang sistematis. Sains kemudian dipelajari bukan untuk menumpuk materi secara kapitalistik, tetapi sebagai bentuk ibadah untuk melayani kemanusiaan (khidmatul ummah).
Menghadapi Tantangan Zaman
Kehadiran negara sebagai pelindung (junnah) dan pelayan umat (ra'in) menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil melalui mekanisme sistemis, bukan sekadar mengandalkan bantuan sosial yang sifatnya temporer. Menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban ideologi (mabda) Islam dan peduli pada kondisi umat adalah tantangan sekaligus peluang terbesar.
Gen Z memiliki modalitas yang luar biasa yaitu kritis, terhubung global, dan jenuh dengan kepalsuan sistem hari ini. Namun, untuk mengubah kecemasan mereka menjadi kesadaran ideologis yang menggerakkan, kita tidak bisa lagi menggunakan metode indoktrinasi usang yang kaku. Perlu pendekatan taktis yang menyentuh akar pemikiran dan empati mereka.
Islam menawarkan solusi menyeluruh (kafah) melalui tata kelola politik yang melayani, sistem ekonomi yang adil tanpa eksploitasi, serta pendidikan yang mengawinkan keluhuran moral dengan kecerdasan sains. Penerapan sistem inilah yang secara historis mampu melahirkan generasi emas yang tangguh.
Masa depan sebuah peradaban tidak akan pernah lahir dari kepasrahan. Gen Z hari ini berdiri di persimpangan jalan yaitu terus terjebak dalam lingkaran setan depresi kapitalistik atau bangkit mengambil kendali sejarah. Sudah saatnya generasi muda menyudahi fase meratapi keadaan, menyatukan barisan, dan mengemban amanah perjuangan ini. Ketika pemuda menjadikan Islam sebagai poros gerakannya, maka tatanan dunia yang adil, aman, dan membawa keselamatan bukan lagi sebatas angan-angan—ia adalah keniscayaan masa depan.
Wallahualam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar