OPINI
Gaza dan Ketiadaan Perisai Umat
Oleh: Salma Rafida
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Gencatan senjata kerap dipromosikan sebagai titik harapan di tengah konflik berkepanjangan. Namun, realitas di Gaza justru menunjukkan sebaliknya. Alih-alih menjadi jalan menuju perdamaian, gencatan senjata sering kali hanya menjadi jeda semu—sebuah ilusi yang menenangkan opini publik dunia, sementara kekerasan tetap berlangsung dalam bentuk lain.
Dilansir dari ALJAZEERA (18 Juni 2026), lebih dari 1.000 tewas dalam serangan Israel di Gaza sejak gencatan senjata. Serangan Israel terhadap sebuah kendaraan di Kota Gaza telah menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina. Jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah melampaui 1.000 jiwa sejak gencatan senjata yang dimediasi AS pada Oktober 2025.
Fakta bahwa korban jiwa terus berjatuhan bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata diberlakukan menjadi bukti nyata rapuhnya komitmen tersebut. Lebih dari seribu nyawa melayang sejak kesepakatan itu dimulai, menegaskan bahwa penghentian konflik yang diumumkan tidak benar-benar menghentikan penderitaan di lapangan. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah gencatan senjata benar-benar bertujuan menciptakan perdamaian, atau sekadar strategi politis untuk meredam tekanan internasional?
Peran negara-negara besar, khususnya yang terlibat sebagai mediator, juga patut dikritisi. Ketika pihak yang sama berperan sebagai penjamin perdamaian sekaligus memiliki kepentingan strategis dengan salah satu pihak konflik, objektivitas menjadi sulit dipertahankan. Hal ini memperlemah kepercayaan publik global terhadap proses perdamaian yang sedang berlangsung. Pada akhirnya, akar persoalan tidak hanya terletak pada pelanggaran kesepakatan, tetapi pada belum adanya solusi yang adil dan menyeluruh. Tanpa keadilan yang nyata, setiap gencatan senjata hanya akan menjadi siklus berulang: konflik, jeda, lalu konflik kembali.
Dunia internasional perlu melampaui pendekatan simbolis dan mulai mendorong solusi yang benar-benar berorientasi pada kemanusiaan dan keadilan. Tanpa itu, Gaza akan terus menjadi saksi bisu dari janji-janji perdamaian yang tak pernah benar-benar ditepati. Akar persoalan dari penjajahan yang terjadi bukan sekadar pada konflik di permukaan, tetapi pada ketiadaan perlindungan yang kokoh bagi umat. Umat Islam membutuhkan kekuatan kolektif dan sistem yang mampu menjaga serta melindungi mereka secara menyeluruh. Karena itu, yang dibutuhkan bukan gencatan senjata yang bersifat sementara, melainkan solusi yang menyentuh akar masalah dan mampu menghentikan kezaliman secara nyata.
Permasalahan Palestina seharusnya diselesaikan dengan pendekatan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, yaitu dengan persatuan umat, menegakkan keadilan, melindungi yang tertindas, serta menghapus segala bentuk penjajahan. Perjuangan dalam Islam tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga melalui harta, pemikiran, dan kontribusi nyata untuk menegakkan kebenaran. Hal ini sebagaimana firman Allah, “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun berat, dan berjuanglah dengan harta dan dirimu di jalan Allah…” (TQS At-Taubah: 41).
Kekuatan umat akan semakin besar apabila terbangun persatuan yang kokoh. Dengan persatuan tersebut, umat memiliki kemampuan untuk menghadirkan perlindungan, menjaga kehormatan, dan memperjuangkan keadilan bagi seluruh kaum Muslim. Oleh karena itu, upaya membangun kembali kekuatan umat melalui persatuan, kesadaran, dan penerapan nilai-nilai Islam menjadi hal yang sangat penting. Dengan cara inilah diharapkan akan lahir perlindungan yang mampu menjaga setiap jengkal tanah dan hak-hak umat secara adil dan berkelanjutan. Wallahu a’lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar