OPINI
Genjatan Senjata Palsu, Air Mata Gaza, dan Solusi yang Selalu Dilupakan
Oleh: Ekke Ummu Khoirunnisa
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Setiap kali kata “gencatan senjata” diucapkan, dunia menarik napas lega. Media menyiarkan damai. Tapi di Gaza, tanah masih basah oleh darah. Tangis anak-anak tak berhenti, meski perjanjian sudah ditandatangani. Inilah realita yang harus kita baca dengan kacamata Islam yang jernih - Islam yang mustanir, Islam yang mencerahkan akal dan hati.
Fakta yang Menusuk Hati
Korban terus berjatuhan. Data menunjukkan korban tewas akibat serangan Zionis telah melampaui 1.000 jiwa sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diberlakukan pada Oktober 2025. Gencatan senjata di atas kertas, namun terjadi pembantaian di lapangan. Zionis terus melanggar gencatan senjata secara terstruktur. Sementara Amerika Serikat, sebagai penjamin dan sponsor utama, terus mengalirkan bantuan militer dan politik dengan segala cara. Penjamin sekaligus pemasok senjata, adakah keadilan?
Gencatan senjata bukan perdamaian, tapi penenang opini, sejarah membuktikan, perjanjian yang digagas Barat sering kali menjadi strategi untuk meredakan kemarahan dunia internasional. Sementara di lapangan, pembunuhan berjalan “terukur” dan terencana. Darah Muslimin dianggap murah, selama citra “pejuang HAM” tetap terjaga. Menggantungkan nasib pada musuh adalah kesalahan fatal. Amerika Serikat tidak mungkin menjadi penjamin yang adil. Ia adalah sekutu utama Zionis.
Allah Swt. berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang di luar kalanganmu sebagai teman kepercayaan." (TQS. Ali Imran: 118)
Mengandalkan penjajah untuk menyelesaikan urusan umat Islam sama saja menyerahkan kunci rumah kepada pencuri. Hasilnya hanya satu: penjajahan akan terus dilanggengkan. Akar masalahnya bukan “pelanggaran”, tapi ketiadaan junnah.
Nabi Saw bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
"Sesungguhnya imam itu adalah perisai, umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya" HR. Bukhari & Muslim.
Hari ini umat Islam tidak memiliki junnah - perisai yang menjaga darah, kehormatan, dan tanahnya. Perisai itu adalah Khilafah Islamiyyah, institusi yang menerapkan Islam secara kafah dan melindungi seluruh umat. Tanpa perisai ini, setiap perjanjian hanya menjadi jeda untuk membunuh gelombang berikutnya.
Putuskan harapan dari musuh Islam. Umat Islam tidak boleh lagi menggantungkan nasib pada PBB, Amerika, atau negara-negara kafir penjajah.Jihad fi sabilillah adalah kewajiban syar’i. Membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis bukan pilihan politik, melainkan kewajiban yang Allah bebankan. Nabi saw bersabda:
جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ
"Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian." (HR. Abu Dawud)
Jihad ini akan menjadi kekuatan yang luar biasa jika umat bersatu di bawah satu kepemimpinan, satu komando, satu panji: Khilafah. Perjuangkan kembalinya Khilafah sebagai perisai umat. Khilafah bukan nostalgia sejarah. Ia adalah janji Allah dan kabar gembira Rasulullah saw.
ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
"Kemudian akan ada Khilafah di atas manhaj kenabian" HR. Ahmad.
Khilafah akan menjaga setiap jengkal tanah kaum Muslimin. Tidak akan ada lagi gencatan senjata palsu, karena darah umat dijaga oleh negara yang takut hanya kepada Allah Swt
Wahai umat Nabi Muhammad saw., Gaza bukan sekadar berita. Gaza adalah cermin. Cermin yang menunjukkan betapa rapuhnya kita tanpa Islam sebagai sistem, tanpa Khilafah sebagai pelindung. Air mata Ibu-ibu Gaza adalah saksi. Darah anak-anak adalah dalil. Dan Al-Qur’an adalah solusi. Sudah cukup kita tertipu oleh slogan damai yang lahir dari mulut penjajah. Saatnya kita menuntut yang hakiki: tegaknya syariat, kembalinya Khilafah, dan pembebasan Palestina dengan jihad fi sabilillah. Takbirr الله أكبر
Wallahu a’lam bish-shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar