OPINI
Tragedi Tren Freestyle, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Oleh: Rahmi Lubis
(Pendidik Generasi)
TanahRibathMedia.Com—Heboh, tren freestyle dalam berbagai media sosial dan game online membahana di kalangan anak dan remaja saat ini. Aksi ini dianggap keren dan bergaya di kalangan remaja. Namun, ada hal yang tidak terpikir dan terlewatkan bagi mereka yaitu keselamatan diri. Aksi ini sungguh berbahaya bukan hanya menyangkut adrenalin melainkan hilangnya nyawa. Terbukti, baru-baru ini seorang siswa taman kanak-kanak (TK) meninggal dunia setelah mengalami cedera fatal pada tulang leher (5-5-2026). Peristiwa serupa juga menimpa Hamad Izan Wadi (8), siswa kelas 1 SDN 3 Lenek, Lombok Timur. Siswa tersebut meninggal dunia setelah mengalami patah leher. Selanjutnya, di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel), seorang pengendara motor gede (moge) berinisial RR (42) melakukan aksi FreeStyle hingga lepas kendali dan menabrak bocah berusia 10 tahun berinisial J sampai tewas di Lingkungan Sendana Buntu Pare, Kelurahan Nanggala Sangpiak Salu, Kecamatan Nanggala, pada Kamis (30/4) sekitar pukul 17.00 Wita (detik.com, 7-5-2026).
Ironis, aksi freestyle muncul di berbagai media sosial dan game online bahkan viral hingga kaum remaja tertarik untuk meniru aksi tersebut. Akhirnya aksi yang disebut trend dan kekinian malah menimbulkan tragedi kematian. Inilah yang disebut dengan gaya anak muda saat ini. Trend kekinian yang merenggut nyawa. Lantas, ketika semua ini sudah menjadi tragedi, muncul pertanyaan bagi kita semua, mengapa ini bisa terjadi dan siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini?
FreeStyle, Buah Sistem Kapitalisme
Aksi freestyle adalah aksi menirukan gerakan akrobatik dengan tubuh bertumpu pada kepala atau leher, kemudian disertai berbagai gerakan bebas. Gerakan ini muncul dari game online yang populer yaitu Freefire dan berbagai media sosial lainnya. Aksi ini dianggap keren oleh kaum remaja karena meningkatkan adrenalin dan bergaya di hadapan orang lain tanpa memandang keselamatan diri sendiri dan orang lain. Inilah yang disebut nilai dalam sistem kapitalisme. Sebuah sistem kehidupan yang memandang tolak ukur perbuatan dari manfaat kepentingan pribadi. Baik dan buruk tergantung dari nilai materinya bukan dari hakikat perbuatan itu sendiri. Maka wajar saja, sistem kehidupan kapitalisme saat ini yang diterapkan pada kehidupan kita jelas merusak semua segi kehidupan. Aksi yang dianggap keren dan viral disebarluaskan oleh media sosial dan game online yang berpacu atas keuntungan materi bisnis bukan hukum sebab-akibat yang terdapat di dalamnya. Minimnya pengawasan dan perlindungan menjadi pelengkap akan sistem kapitalis ini karena kaum yang bermodal pasti akan untung dan yang tak bermodal akan mendapatkan buntung atau kerugian bahkan kehilangan nyawa merupakan hal yang biasa pada sistem ini.
Rendahnya pemikiran remaja saat ini juga menambah panjang kerusakan sebab cabang dari permasalahan gaya hidup kapitalis, "yang penting keren”, "yang penting gaya”. Pola pikir ini tertanam pada kaum remaja. Pendidikan tak lagi meninggikan derajat orang yang berilmu karena Pendidikan pun tak lepas dari sasaran bisnis pada sistem ini. Jelas sudah, akar yang bermasalah akan mematikan pohon di atasnya. Aksi freestyle saat ini hanya merupakan satu dari sekian banyak cabang permasalahan yang muncul pada kaum remaja. Lantas, siapakah yang harus bertanggung jawab atas hal ini?
Sistem Islam Solusi Hakiki Problematika Umat
Mungkin, sebagian dari kaum muslimin tidak pernah menyadari bahwa agama yang mereka anut adalah agama paripurna untuk seluruh umat. Bahkan, untuk segolongan umat muslim malah menyamakan islam dengan agama lainnya yang disebut dengan moderasi beragama. Inilah fakta permasalahan umat saat ini. Jauhnya pemikiran umat dari agama dan memisahkan kehidupan dari aturan agama menjadi akar permasalahan kehidupan yang terjadi saat ini. Lantas, apa itu islam sebenarnya? Islam adalah aturan kehidupan yang berasal dari sang pencipta yang mengatur 3 hubungan yaitu hubungan dirinya dengan sang pencipta, hubungan dirinya sendiri, dan hubungan dirinya dengan orang lain dan sesama mahluk hidup. Aturan yang bersandarkan akan hukum syariat. Bukan hanya pahala dan dosa yang didapatkan namun hukum syariat sesuai dengan fitrahnya manusia. Misalnya hukum berpuasa yang diwajibkan untuk umat muslim saat bulan Ramadhan ternyata juga bagus untuk kesehatan berdasarkan riset ilmiah kesehatan dr. Rony M. Santoso, SpJP(K), FIHA, FSCAI, FESC, FAPSC dalam tulisannya di situs web resmi jaringan RS EMC menyatakan puasa dapat membantu menurunkan faktor risiko penyakit jantung karena membuat seseorang belajar mengontrol apa yang ingin dimakan dan diminum. Maka wajar saja ketika peraturan islam diterapkan dalam kehidupan, keberkahan dalam semua segi kehidupan juga akan didapat. Aksi freestyle tidak akan muncul sebagai gaya hidup trending karena pola pkir dan pola sikap islam tidak akan memunculkan hal tersebut.
Adapun penyelewengan atau ketidak teraturan akan disanksi tegas oleh pemerintahan islam. Inilah hidup yang paripurna. Sungguh dalam islam nyawa satu orang yang melayang atas kelalaian manusia seperti hadist yang diriwayatkan dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ù„َزَÙˆَالُ الدُّÙ†ْÙŠَا Ø£َÙ‡ْÙˆَÙ†ُ عَÙ„َÙ‰ اللَّÙ‡ِ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َتْÙ„ِ Ù…ُؤْÙ…ِÙ†ٍ بِغَÙŠْرِ ØَÙ‚ٍّ
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.”
Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Maka jawabannya adalah kita sebagai umat muslim yang masih bernaung di sistem kapitalisme. Mari kita mewujudkan Islam yang menyeluruh (kaffah) demi peradaban dunia yang menghasilkan generasi anti cemas nan gemilang sebab taraf berfikir yang cemerlang dengan memakai Islam, bukan generasi cemas membebek kebiasaan Barat sebab nyawa kian waktu kian melayang.
Wallahu a'lam bishshowab.
Via
OPINI
Posting Komentar