SP
Islam dan Upaya Menahan Laju Kerusakan Moral
TanahRibathMedia.Com—Di tengah zaman yang serba cepat dan penuh distraksi, kita mulai sering melihat fenomena yang cukup mengkhawatirkan yakni krisis moral pada anak dan remaja. Mulai dari menurunnya adab sampai munculnya perilaku kekerasan di lingkungan sekolah. Banyak orang menganggap masa remaja memang identik dengan fase sulit. Tapi kalau dilihat lebih dalam, persoalannya bukan sekadar itu, masalah utamanya justru ada pada hilangnya kesadaran akan fitrah manusia itu sendiri.
Pendidikan hari ini sering terlalu fokus pada nilai, angka, dan prestasi akademik. Padahal, inti dari pendidikan bukan cuma soal kecerdasan otak, tapi juga tentang bagaimana membentuk hati dan karakter. Dalam Islam, setiap anak lahir dalam keadaan suci, membawa potensi kebaikan yang sudah Allah tanamkan sejak awal. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.,: "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah..." Artinya jelas tugas kita bukan membentuk anak dari nol, tapi menjaga dan merawat potensi baik yang sudah ada sejak lahir.
Fitrah bisa dipahami sebagai desain bawaan dari Allah. Setiap anak sudah punya kecenderungan alami untuk mengenal kebenaran dan berbuat baik. Tinggal bagaimana lingkungan terutama orang tua dan pendidik menjaga atau justru merusaknya. Fitrah ini mencakup beberapa aspek penting yakni fitrah keimanan, yaitu kecenderungan untuk mengenal Allah dan mencintai kebenaran, fitrah bakat dan kecerdasan, setiap anak punya keunikan masing-masing dan fitrah fisik dan naluri, termasuk kebutuhan dasar dan insting alami.
Kalau anak dianggap seperti “kertas kosong”, biasanya pendidikan jadi cenderung memaksa. Tapi kalau kita sadar bahwa anak sudah punya potensi, maka peran kita berubah bukan memaksakan, tapi membimbing dan menjaga. Oleh karenanya, pola asuh yang harus digunakan yakni pola asuh acceptance yaitu pola asuh yang menggabungkan kedisiplinan dengan kehangatan. Intinya, anak diterima apa adanya, komunikasi dibuka lebar dan hubungan dibangun dengan kedekatan, bukan ketakutan. Dengan cara ini, anak tidak patuh karena takut, tapi karena sadar dan merasa dihargai.
Pada akhirnya, mendidik anak bukan soal mengisi mereka dengan ilmu saja, tapi menjaga agar fitrah mereka tetap bersih dan hidup. Ketika pengasuhan dilakukan dengan hati, ditambah sistem yang jelas, maka anak akan tumbuh bukan hanya cerdas, tapi juga berakhlak. Di tengah dunia yang semakin kompleks, pendekatan seperti ini bukan lagi pilihan tapi kebutuhan. Karena yang kita jaga bukan sekadar anak hari ini, tapi masa depan umat.
Sri Jandi Jannah
[Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok]
Via
SP
Posting Komentar