OPINI
Pendidikan dan Generasi
Oleh: Asti
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Salah satu hal yang selalu diingat dari Bulan Mei adalah Hari Pendidikan Nasional yang diperingati tanggal 2 Mei tiap tahunnya. Pendidikan menjadi satu aspek penting yang menentukan kemajuan suatu negara. Biasanya, negara-negara maju ditopang dengan sistem pendidikan yang juga mumpuni. Pendidikan akan mencetak calon pemimpin masa depan, generasi-generasi yang unggul dalam berbagai bidang demi kemajuan negara. Sayangnya saat ini, jika berkaca pada sistem pendidikan kita, harus diakui masih banyak PR yang menunggu untuk diselesaikan. Selama ini Hari Pendidikan Nasional menjadi seolah aspek rutinitas tahunan semata, tanpa benar-benar ada evaluasi untuk memperbaiki PR-PR pendidikan yang masih ada.
Diakui ataupun tidak, saat ini marak kasus memprihatinkan terkait dunia pendidikan, yang seolah datang silih berganti. Masih hangat dibicarakan bagaimana kualitas moral mahasiswa dipertanyakan terkait kasus pelecehan seksual terhadap wanita. Selain itu, Bulan April kemarin, terungkap kasus joki UTBK di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Selasa 21 April 2026. Pelaku diketahui menggunakan identitas palsu berupa KTP dan ijazah (surabaya.kompas.com, 24-04-2026).
Joki untuk ujian menjadi salah satu contoh kasus kecurangan. Kasus kecurangan ini seolah dianggap lumrah terjadi, mulai dari kegiatan mencontek, plagiarisme, bahkan menggunakan joki saat mendaftar universitas. Jika sampai praktik ini marak terjadi, maka terbayang seperti apa kualitas output generasi kita kedepannya. Belum lagi, jika kita bicara kasus peredaran narkoba di kalangan anak sekolah dan mahasiswa yang juga masih perlu diselesaikan. Selain dari hal-hal yang disebutkan di atas masih banyak PR dunia pendidikan yang harus diselesaikan.
Peringatan hardiknas menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk benar-benar memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan hari ini. Hardiknas harus menjadi momen evaluasi besar-besaran untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Berbicara tentang perbaikan kualitas pendidikan, tentu kita perlu mengetahui dulu akar masalah kerusakan dalam dunia pendidikan ini.
Saat ini kita sedang hidup dalam sistem demokrasi kapitalisme. Demokrasi telah memisahkan agama dari kehidupan. Agama dibatasi dalam aspek ritual semata, sementara aspek kehidupan lainnya justru menggunakan aturan buatan manusia, termasuk dalam sistem pendidikan. Harus diakui minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler saat ini, telah memperluas ruang kebebasan yang akhirnya berujung pada mengikis moral dan kepribadian. Pelajar dan mahasiswa sangat mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.
Seringkali output pendidikan sekuler kapitalistik adalah orang-orang yang hanya ingin “sukses" instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar. Jika pun ada yang benar-benar mumpuni secara akademik, tak jarang mereka cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis. Jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral. Hal ini bisa terjadi karena kebebasan dijunjung tinggi, segala sesuatu dinilai dari materi semata. Dalam hal ini halal dan haram sudah tidak lagi menjadi patokan.
Hal lainnya adalah masyarakat cenderung diam, abai dengan kondisi kualitas saat ini. Bisa jadi mereka belum terbayang seperti apa pendidikan yang ideal itu, karena memang gambarannya sangat jauh dari kondisi yang ada, bisa juga masyarakat sudah terlalu lelah dan disibukkan dengan beratnya perjuangan memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari, ditambah masyarakat belum sadar peran besar mereka sebagai kontrol sosial. Hal terakhir yang perlu dikritisi adalah longgarnya sanksi negara bagi pelaku pelajar (mayoritas masih di bawah umur). Negara cenderung mentoleransi tindakan kriminal yang dilakukan pelajar, karena menganggap hal itu sebagai kenakalan anak semata. Hal ini benar-benar perlu segera diperbaiki dan perbaikan ini hanya bisa dilakukan dengan mengembalikan solusinya pada Islam.
Islam sebagai agama yang syamilan wa kamilan (sempurna dan menyeluruh) telah menyediakan solusi untuk setiap masalah kehidupan, termasuk di dalamnya masalah pendidikan. Pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas akidah pada sistem pendidikan Islam mampu menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa. Generasi yang dididik dengan Islam tidak akan melakukan kecurangan hanya demi meraih kesuksesan.
Dalam Islam, pendidikan tidak hanya diterapkan di sekolah semata, tetapi terjadi sinergi berbagai pihak pendidikan, baik itu dari keluarga, lingkungan masyarakat, sekolah, dan negara. Sistem pendidikan Islam harus berpijak pada aqidah dan syariat Islam. Pendidikan Islam akan berfokus pada pembentukan karakter (syakhsiyah Islamiyah). Para pelajar akan dididik untuk memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikapnya. Sehingga mereka akan senantiasa mengaitkan tindakan- tindakan, serta keputusan yang mereka buat pada standar halal dan haram. Ridha Allah akan selalu menjadi tujuan.
Negara Islam akan membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong setiap orang untuk berlomba dalam amal kebaikan. Para pelajar dalam Islam akan berlomba untuk mencari ilmu yang bermanfaat sebanyak-banyaknya dan menggunakannya untuk sebesar-besarnya kemajuan umat. Hal ini semata-semata untuk mendapatkan ridha Allah semata. Dalam Islam masyarakat akan senantiasa menjadi kontrol sosial. Mereka tidak akan diam jika melihat kemungkaran dalam kehidupan. Mereka akan senantiasa beramar Ma'ruf nahi mungkar. Tak lupa Islam menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi para pelaku kejahatan termasuk pelajar. Akhir kata, untuk bisa menyelesaikan masalah pendidikan ini dibutuhkan penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Wallahu’alam bishowab.
Via
OPINI
Posting Komentar