OPINI
Ironi Dunia Pendidikan, Semakin Buram dan Memprihatinkan
Oleh: Fitria Indra Wati, S.Pd, Gr
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Dunia pendidikan saat ini semakin buram dan memprihatinkan. Kalangan pelajar dan mahasiswa yang seharusnya ketika mendapatkan pendidikan memiliki tingkah laku yang sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Namun faktanya, begitu banyak kasus kejahatan secara berulang-ulang yang dilakukan oleh para pelajar maupun mahasiswa saat ini seperti kasus kekerasan, pembulian, pelecehan seksual, penggunaan obat-obat terlarang (Narkoba) bahkan sampai kecurangan pada bidang akademik.
Tewasnya seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16 tahun) di Bantul yang diakibatkan karena pengeroyokan dan di lindas menggunakan sepeda motor oleh beberapa orang yang tak dikenal pada 14 April 2026 di wilayah Pandak merupakan fakta kejahatan kekerasan yang terjadi. Dwi sempat mendapatkan perawatan namun akhirnya dinayatakan meninggal di rumah sakit akibat begitu banyaknya luka yang dideritanya. Sedangkan terhadap pelakunya dua orang sudah ditangkap, lima pelaku lainnya polisi sudah mengantongi idenditas mereka (KumparanNews, 24-4-2026).
Tak hanya itu, terungkap kasus kecurangan berupa praktik perjokian dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) di tiga perguruan tinggi di Surabaya, Jawa Timur. Selain itu, adanya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa juga menampakkan tren yang semakin mengkhawatirkan dan tentunya menjadi salah satu faktor rusaknya generasi di lingkungan pendidikan. Apatah lagi keadaannya akses untuk mendapatkan semakin mudah, baik melalui pergaulan yang tidak sehat dan bebas maupun melalui kemajuan digital saat ini.
Inilah berbagai fenomena buram dan memprihatinkan di dunia pendidikan saat ini. Adanya peningkatan kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh kalangan pelajar ataupun mahasiswa merupakan kasus yang semakin mengkhawatirkan. Hal ini menunnjukkan bahwa bukan hanya sekadar krisisnya pada aspek pengawasan, namun tak bisa dipungkiri adanya krisis pada nilai, moral, adab dan terutama sistem yang menaungi dunia pendidikan. Menyikapi kasus-kasus yang terjadi ini, wajar saja timbul pertanyaan tentang apa faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi?
Kapitalisme sebagai Biang Kerok Kerusakan Dunia Pendidikan
Peringatan Hardiknas harusnya menjadi alarm setiap tahunnya bagi semua pihak untuk melakukan evaluasi mendalam bagaimana kondisi dunia pendidikan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Namun keadaannya, adanya kegagalan implementasi arah/peta jalan pendidikan yang krisis akan kepribadiannya, yaitu cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis, serta longgarnya pengawasan yang terjadi baik itu dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat bahkan negara mengakibatkan kalangan intelektual ini jauh dari predikat beradab dan bermoral.
Pada hakikatnya, penerapan sistem sekuler kapitalisme di dunia pendidikan saat ini telah menjadikan kalangan intelektual yang seharusnya dengan adanya dunia pendidikan mereka memiliki kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) menjadi orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius bahkan sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi atau sesuatu dalam jumlah besar sesuai yang mereka inginkan. Sehingga tidak heran jika saat ini kita mendapati mereka yang tanpa rasa malu melakukan kecurangan-kecurangan eperti mencontek saat ujian bahkan sampai menggunakan jasa joki tanpa mempertimbnagkan berapa besar pahala dan dosa atas apa yang mereka lakukan.
Faktor lain dari semua kejadian yang terjadi pada kalangan pelajar maupun mahasiswa saat ini tentu tidak lepas dari longgarnya sistem sanksi yang diterapkan oleh negara. Apatah lagi ada alasan bagi pelaku “di bawah umur”. Sanksi yang diberikan kerap kali terlalu ringan sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku dan rasa takut melakukan hal yang sama bagi yang melihat. Selain itu, minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler, juga memperlebar ruang kebebasan bagi pelaku yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan. Hal ini karena di sistem pendidikan sekuler ini memisahkan agama dari dunia pendidikan, bahkan parahnya agama hanya sebagai pelengkap saja.
Bagaimana Pendidikan dalam Islam?
Islam memandang bahwa pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas akidah pada sistem pendidikan Islam menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa kepada Allah Swt. sehingga tidak mau melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan atau sampai menghilangkan nyawa saudaranya. Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang takut (azab) Tuhannya mereka berhati-hati…” (TQS. Al-Mu’minun:56-60)
Pendidikan Islam memfokuskan pada pembentukan karakter (syakhsiyah Islamiyah) yang di mana para pelajar harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikapnya. Islam juga menerapkan sanksi yang tegas bagi para pelaku kejahatan termasuk pelajar maupun mahasiswa. Allah Swt. berfirman:
“Dan dalam qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa.” (TQS. Al-Baqarah:179)
Negara Islam akan membangun suasana hidup yang penuh dengan ketakwaan dan mendorong setiap orang untuk berlomba-lomba dalam amal kebaikan. Hal ini tentunya dilakukan dengan penyusunan kurikulum yang sesuai aturan Islam dalam program pembinaan, menyiapkan guru-guru yang kompeten pada bidangnya, fasilitas yang tentunya memadai baik untuk kalangan sekolah, akademik maupun universitas. Walhasil jelas bahwa sinergi pendidikan dalam keluarga, lingkungan, dan sistem pendidikan Islam yang diterapkan oleh negara harus berpijak pada akidah dan syari’at Islam.
Wallahu a'lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar