OPINI
Dominasi Kepentingan Industri, Orientasi Pendidikan Masa Kini
Oleh: Ayuningtiyas
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Pada hakikatnya pendidikan merupakan proses pembentukan individu, karakter, daya kritis, moralitas, serta kesadaran sosial dalam bermasyarakat. Namun, dalam perkembangan pendidikan masa kini, orientasi tersebut perlahan mengalami pergeseran. Ketimbang membangun kualitas sumber daya manusia (SDM), pendidikan semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri dan pasar kerja.
Fakta ini dapat dilihat dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan. Di mana salah satu wacananya adalah penghapusan jurusan perkuliahan yang dianggap tidak relevan demi tembus target pertumbuhan ekonomi. Hal ini memicu polemik publik dan kontra dari praktisi pendidikan, Profesor Arief Anshory Yusuf selaku Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, berpendapat bahwa menurutnya hal ini tidak berkaitan dengan relevansi sebuah program studi, melainkan tergerusnya paradigma kampus oleh neoliberalisasi (bbc.com, 29-4-2026).
Praktisi pendidikan dari Vox Populi Institute Indonesia Indra Charismiadji menilai, penghapusan jurusan perkuliahan dapat memicu potensi munculnya persaingan tidak sehat antar kampus dalam memperebutkan mahasiswa baru karena terbatasnya prodi. Banyaknya prodi menjadi tidak relevan bukan karena tidak penting, melainkan tidak seriusnya pemerintah dalam membangun industri pendukungnya (cnbcindonesia.com, 27-4-2026).
Orientasi industri membuat dunia pendidikan kehilangan keberanian moral. Kampus yang seharusnya menjadi pusat kritik sosial justru sibuk membangun kerja sama korporasi. Penelitian diarahkan pada proyek-proyek yang memiliki nilai komersial tinggi, sementara isu kemiskinan, lingkungan, ketidakadilan agraria, atau krisis kemanusiaan sering kalah prioritas karena dianggap tidak menghasilkan keuntungan finansial. Ilmu akhirnya tunduk pada sponsor.
Impitan Kapitalisme dalam Pendidikan
Karut-marut dunia pendidikan tentu tidak terjadi begitu saja, tetapi kesalahan struktural dari penerapan sistem kapitalisme. Di mana pendidikan tidak lagi dipandang sebagai hak dasar untuk mencerdaskan manusia, melainkan sebagai instrumen ekonomi untuk mendukung pertumbuhan pasar dan kepentingan industri. Sekolah dan kampus diarahkan agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang siap pakai, kompetitif, dan sesuai kebutuhan dunia kerja. Akibatnya, orientasi pendidikan bergeser, dari pembentukan karakter dan kesadaran sosial menjadi produksi tenaga kerja yang efisien.
Kapitalisme menempatkan nilai ekonomi sebagai ukuran utama keberhasilan pendidikan. Jurusan yang dianggap menghasilkan keuntungan finansial tinggi mendapat perhatian besar, sementara bidang ilmu yang menumbuhkan refleksi kritis seperti filsafat, seni, sastra, dan ilmu sosial sering dianggap kurang “menjual". Di sisi lain, sistem kapitalisme juga mendorong persaingan ekstrem dalam dunia pendidikan. Peserta didik dididik untuk menjadi individu yang kompetitif demi memenangkan pasar kerja. Nilai, ranking, sertifikat, dan prestasi dijadikan ukuran utama keberhasilan. Akibatnya, banyak siswa kehilangan makna belajar yang sesungguhnya. Mereka belajar bukan untuk memahami ilmu atau membangun kesadaran, tetapi demi angka dan peluang kerja.
Lebih jauh, pendidikan kapitalistik cenderung menghasilkan manusia yang patuh terhadap sistem ekonomi. Sekolah jarang mengajarkan keberanian untuk mengkritik ketimpangan sosial, eksploitasi tenaga kerja, atau kerusakan lingkungan yang lahir dari kapitalisme itu sendiri. Sebaliknya, peserta didik diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan mekanisme pasar dan budaya produktivitas tanpa banyak mempertanyakan dampaknya terhadap kemanusiaan.
Islam Menjunjung Tinggi Pendidikan
Berbeda dengan sistem pendidikan yang berorientasi kapitalisme, pendidikan Islam memiliki pandangan yang jauh lebih luas, di antaranya:
1. Pendidikan menjadi tanggung jawab negara.
Dalam Islam, negara membutuhkan generasi ahli yang sesuai dengan kebutuhan sumber daya manusia dalam melayani kepentingan rakyatnya. Sebab, salah satu tugas pokok negara dalam islam adalah melayani rakyatnya. Sehingga pendidikan menjadi tanggung jawab negara, baik dari segi sarana prasarana maupun biaya hingga kurikulum dan sumber daya manusia (SDM).
2. Tidak menjadikan materi dan pasar sebagai tujuan utama. Pendidikan bukan alat untuk mencetak buruh bagi industri semata, tetapi sarana membangun peradaban yang berkeadilan. Nilai manusia dalam Islam ditentukan oleh ketakwaan dan manfaatnya bagi sesama.
3. Bukan sekadar transfer ilmu semata. Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan atau persiapan memasuki dunia kerja, melainkan usaha membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Tujuannya pun jauh lebih luas daripada kepentingan ekonomi, yaitu membangun manusia seutuhnya agar mampu menjalankan tugas sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi.
4. Islam menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi, wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw adalah perintah membaca: Iqra’. Perintah ini menunjukkan bahwa peradaban Islam dibangun di atas ilmu pengetahuan. Namun ilmu dalam Islam tidak hanya dipahami sebagai kemampuan teknis atau kecerdasan intelektual, melainkan juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.
5. Pendidikan adalah hak seluruh manusia. Islam memandang pendidikan sebagai hak seluruh manusia, bukan hak kelompok tertentu yang memiliki kekuatan ekonomi. Oleh karena itu, dalam konsep Islam, negara memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan pendidikan dapat diakses semua lapisan masyarakat tanpa diskriminasi. Pendidikan tidak boleh menjadi komoditas yang hanya dinikmati kaum elite.
6. Pendidikan Islam mengutamakan keseimbangan. Pendidikan Islam juga menanamkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Peserta didik diajarkan untuk bekerja keras dan mencari ilmu setinggi mungkin, tetapi tetap menyadari bahwa kehidupan tidak hanya tentang materi, jabatan, dan kekayaan. Kesuksesan sejati bukan hanya keberhasilan duniawi, melainkan keberhasilan menjaga iman, akhlak, dan tanggung jawab sosial.
Dalam sejarah Islam, pendidikan berkembang sangat luas dan terbuka. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat ilmu pengetahuan, diskusi, dan pembentukan karakter. Para ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Ibnu Khaldun mempelajari berbagai bidang ilmu, mulai dari kedokteran, matematika, filsafat, hingga sosial-politik. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak anti terhadap sains dan kemajuan, tetapi mengarahkan ilmu agar tetap berada dalam nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan.
Di tengah dominasi sistem pendidikan modern yang semakin materialistis, pandangan Islam menghadirkan fokus yang berbeda, bahwa pendidikan harus kembali memanusiakan manusia. Ilmu tidak boleh dipisahkan dari nilai moral dan spiritual. Sebab ketika pendidikan hanya mengejar keuntungan ekonomi, manusia bisa kehilangan arah hidupnya.
Dengan demikian, pendidikan dalam Islam bukan hanya proses mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, dan mampu membawa kebaikan bagi masyarakat. Pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, melainkan jalan menuju kemuliaan. Hal ini akan terwujud jika sistem Islam kaffah diterapkan dan menjadikan syari’at sebagai aturan kehidupan.
Wallahualam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar