OPINI
Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis, Makin Mengerikan
Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)
TanahRibathMedia.Com—Israel dilaporkan telah memperluas wilayah pendudukannya di Jalur Gaza hingga sekitar 59 persen wilayah Gaza, meningkat dari sekitar 53 persen sebelum gencatan senjata Oktober 2025. Sementara itu, Hamas menyebut penguasaan militer Israel telah mencapai lebih dari 60 persen wilayah pesisir Palestina tersebut. Di tengah kondisi itu, pejabat militer senior Israel juga mendorong dimulainya kembali serangan besar di Gaza dan menilai saat ini sebagai waktu terbaik untuk “mengalahkan Hamas”. Situasi ini menunjukkan agresi dan tekanan terhadap rakyat Palestina terus meningkat di tengah krisis kemanusiaan yang masih berlangsung (Antara, 4 Mei 2026).
Dehumanisasi terhadap Muslim Palestina oleh Zionis semakin mengerikan. Kekerasan tidak hanya menimpa warga yang masih hidup melalui pembunuhan dan serangan brutal, termasuk terhadap anak-anak, tetapi juga terhadap jenazah warga Palestina yang tidak diberi penghormatan layak, bahkan kuburannya dibongkar dan dipindahkan. Israel juga disebut tengah menyiapkan serangan baru untuk memperbesar penguasaan wilayah Palestina. Hal yang menyayat hati, korban agresi di Gaza terus bertambah.
Diberitakan: sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 300 jurnalis dilaporkan tewas saat meliput agresi di wilayah tersebut. Rakyat Palestina sendiri mencapai sekitar 72.736 orang tewas dan 172.535 orang luka-luka. Bahkan, banyak anak Palestina yang tubuhnya diamputasi akibat perang. Selain itu, keterbatasan layanan kesehatan di tengah blokade serta kehancuran fasilitas medis di Gaza
Penjajahan dan Agresi Zionis Didukung AS
Zionis terus mengabaikan kesepakatan gencatan senjata dan serangan ke Gaza tetap berlanjut dengan dukungan politik, militer, serta finansial dari AS. Agresi ini dilakukan demi memperluas pendudukan dan mempertahankan penjajahan, sehingga korban terus berjatuhan, termasuk perempuan dan anak-anak. Bahkan, demi membatasi tersebarnya fakta kejahatan mereka ke dunia internasional, Zionis juga menargetkan para jurnalis yang meliput kondisi di Gaza.
Dunia dan kaum muslim semestinya tidak tinggal diam terhadap penjajahan dan agresi yang terus terjadi di Gaza. Sesunghuhnya, akar konflik Palestina adalah pendudukan atas tanah Palestina yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan menimbulkan penderitaan berkepanjangan bagi rakyat sipil. Oleh sebab itu, entitas ini tidak layak berada di buminya Allah
Mirisnya, para penguasa di lebih dari 50 negeri-negeri muslim hingga hari ini belum menunjukkan langkah yang serius dan bersatu untuk menghentikan penjajahan di Palestina. Sekat nasionalisme dan kepentingan politik masing-masing negara kerap membuat ukhuwah Islamiah melemah. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan dalam QS. Al- Hujurat: "𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘬𝘮𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢".
Perjuangkan Ukhuwah Islamiyah Hakiki
Pembebasan Palestina membutuhkan ukhuwah Islamiah yang hakiki, yakni persatuan kaum muslim sedunia untuk berjihad. Tentu saja ukhuwah Islamiah hanya terwujud dengan Khilafah yang merupakan institusi pemersatu umat di bawah kepemimpinan yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Dengan persatuan tersebut, umat memiliki kekuatan politik, militer, dan ekonomi untuk melindungi negeri-negeri muslim serta menghentikan penjajahan atas Palestina.
Khilafah akan menghentikan pendudukan dan genosida Zionis terhadap Palestina dan mengembalikan tanah Palestina pada pemiliknya, sekaligus me-riayah warga Palestina agar bisa hidup mulia. menjaga keamanan, serta memastikan masyarakat dapat hidup dengan aman, terhormat, dan sejahtera di tanah mereka sendiri.
Agenda utama (qadhiyah masiriyah) umat Islam hari ini adalah memperjuangkan penegakan Khilafah yang akan mengerahkan militer di dunia Islam untuk melakukan jihad membebaskan Palestina dan menghilangkan entitas Zionis. Memahamkan kepada segenap kaum muslim bahwa Islam harus diyakini sebagai mabda (akidah Islam yang melahirkan seperangkat aturan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia). Artinya, Islam bukan sekadar agama yang mengatur ibadah ritual, tetapi juga menjadi landasan hidup yang menyeluruh. Islam dipahami sebagai akidah sekaligus sistem yang mengatur berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, politik, hingga pemerintahan.
Dengan menjadikan Islam sebagai mabda, kaum muslim didorong untuk menjadikan syariat Islam sebagai standar dalam berpikir, bersikap, dan menyelesaikan problematika kehidupan. Pemahaman ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa kebangkitan umat tidak cukup hanya melalui perbaikan individu, tetapi membutuhkan penerapan nilai dan aturan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan masyarakat.
Wallahu'alam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar