OPINI
Dehumanisasi Gaza dan Hilangnya Nurani Dunia
Oleh: Poppy Kamelia P. BA (Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)
TanahRibathMedia.Com—Tangisan Gaza belum juga berhenti. Di tanah yang sempit dan terkepung itu, manusia dibunuh bukan hanya ketika hidup, tetapi juga setelah meninggal. Anak-anak ditembak, rumah-rumah dihancurkan, tubuh manusia tercerai-berai, sementara jenazah pun tak lagi dihormati. Banyak warga Palestina bahkan tidak diizinkan dimakamkan di tanah mereka sendiri. Kuburan dibongkar, jasad dipindahkan, dan kehormatan manusia dirampas tanpa rasa malu. Inilah wajah dehumanisasi paling mengerikan yang dilakukan Zionis terhadap rakyat Palestina hari ini.
Agresi Zionis terus meluas tanpa memedulikan gencatan senjata ataupun kecaman dunia. Wilayah pendudukan semakin diperbesar dan serangan baru terus disiapkan untuk menguasai Gaza lebih jauh lagi. Serangan demi serangan dilancarkan dengan dukungan politik, militer, dan keuangan dari Amerika Serikat serta negara-negara Barat yang terus menjaga eksistensi penjajahan Zionis di tanah Palestina (Antaranews.com, 4-5-2026).
Korban terus berjatuhan setiap hari. Hingga kini, lebih dari 72 ribu warga Gaza dilaporkan tewas dan lebih dari 172 ribu lainnya mengalami luka-luka sejak agresi dimulai pada Oktober 2023 (Antaranews.com, 10-5-2026). Angka itu bukan sekadar statistik, di baliknya ada ayah yang kehilangan anak, ibu yang memeluk tubuh putranya yang hancur, dan ribuan anak yang tumbuh bersama trauma, kelaparan, serta ketakutan tanpa akhir.
Yang paling menyayat hati, banyak anak Palestina harus kehilangan anggota tubuh akibat ledakan dan serangan brutal. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut satu dari lima korban amputasi di Gaza adalah anak-anak (Tempo.co, 5-5-2026). Mereka kehilangan tangan, kaki, bahkan masa kecilnya sebelum sempat memahami arti kehidupan. Dunia modern yang mengaku menjunjung hak asasi manusia justru membiarkan generasi kecil Palestina hidup dalam penderitaan yang sulit dibayangkan.
Bukan hanya rakyat sipil yang menjadi sasaran. Para jurnalis yang mencoba menyiarkan kenyataan dari Gaza pun ikut dibungkam. Jalur Gaza kini disebut sebagai tempat paling mematikan bagi jurnalis di dunia. Lebih dari 300 jurnalis terbunuh sejak Oktober 2023 (Antaranews.com, 4-5-2026). Ini menunjukkan bahwa Zionis tidak hanya ingin membunuh manusia Palestina, tetapi juga berusaha membunuh fakta agar dunia tidak melihat kejahatan mereka.
Dehumanisasi ini terjadi karena Zionis memandang rakyat Palestina bukan sebagai manusia yang memiliki hak hidup, tetapi sebagai hambatan bagi proyek penjajahan mereka. Karena itu, pembunuhan massal, penghancuran rumah sakit, blokade makanan, hingga pembongkaran makam dilakukan tanpa rasa bersalah. Semua dijalankan demi memperluas pendudukan dan menghapus identitas Palestina dari tanahnya sendiri.
Yang lebih menyedihkan, dunia internasional sebagian besar hanya memberikan kecaman tanpa tindakan nyata. Negeri-negeri Muslim yang jumlahnya puluhan pun belum mampu menghentikan penjajahan ini. Mereka terpecah oleh batas nasionalisme dan kepentingan politik masing-masing sehingga ukhuwah Islamiah perlahan melemah. Palestina akhirnya dibiarkan menghadapi penjajahan sendirian, sementara umat Islam hanya mampu menyaksikan kehancuran melalui layar berita.
Padahal Palestina bukan sekadar persoalan satu bangsa atau satu wilayah. Palestina adalah tanah kaum Muslimin yang wajib dijaga dan dibela. Ketika Masjid Al-Aqsa dinodai dan rakyat Palestina dibantai, maka sesungguhnya seluruh umat Islam sedang terluka. Diam terhadap penjajahan ini berarti membiarkan kemungkaran besar terus berlangsung di hadapan mata. Akar persoalan Gaza sejatinya bukan sekadar perang atau konflik wilayah, tetapi keberadaan entitas Zionis penjajah di tanah Palestina. Selama entitas ini tetap dipertahankan oleh kekuatan Barat, maka pembantaian dan pendudukan akan terus berulang. Karena itu, solusi hakiki tidak cukup dengan bantuan kemanusiaan, diplomasi, ataupun gencatan senjata sementara.
Islam memiliki cara pandang yang berbeda dalam menyelesaikan persoalan Palestina. Islam memandang kaum Muslim sebagai satu tubuh yang terikat oleh aqidah, bukan oleh batas negara bangsa. Karena itu, penderitaan Gaza wajib dijawab dengan persatuan umat Islam sedunia dalam ikatan ukhuwah Islamiah yang hakiki. Persatuan semacam ini tidak mungkin lahir dari sistem nasionalisme yang memecah negeri-negeri Muslim menjadi negara kecil dengan kepentingannya masing-masing. Umat membutuhkan institusi pemersatu yang mampu menyatukan kekuatan politik, militer, dan ekonomi kaum Muslimin. Dalam Islam, institusi itu adalah Khilafah Islamiyyah.
Khilafah bukan sekadar simbol persatuan, tetapi kepemimpinan yang memiliki kewajiban syar’i melindungi kaum Muslimin dari penjajahan dan kezaliman. Khilafah akan mengerahkan kekuatan militer umat Islam untuk menghentikan genosida di Gaza, membebaskan Palestina, serta mengembalikan tanah itu kepada pemiliknya yang sah. Lebih dari itu, Khilafah akan meriayah rakyat Palestina agar dapat hidup mulia, aman, dan terjaga kehormatannya. Anak-anak Palestina tidak lagi tumbuh di bawah suara bom dan reruntuhan bangunan, tetapi dalam perlindungan negara yang menjaga jiwa, harta, dan agama mereka.
Karena itu, agenda besar umat Islam hari ini bukan hanya mengutuk Zionis atau menangisi Gaza di media sosial. Umat harus menyadari pentingnya perjuangan menegakkan kembali kepemimpinan Islam yang mampu menjadi perisai bagi kaum Muslimin. Sebab tanpa kekuatan politik yang berlandaskan aqidah Islam, penjajahan terhadap Palestina akan terus berulang dalam bentuk yang lebih kejam.
Gaza hari ini sedang mengajarkan kepada dunia tentang mahalnya harga sebuah persatuan. Ketika umat kehilangan pelindungnya, darah kaum Muslim menjadi murah di hadapan penjajah. Dan selama umat masih tercerai-berai dalam sekat nasionalisme, tangisan anak-anak Palestina akan terus menggema bersama sunyinya nurani dunia.
Via
OPINI
Posting Komentar