Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda opini Urbanisasi setelah Lebaran, Wujud dari Kesenjangan
opini

Urbanisasi setelah Lebaran, Wujud dari Kesenjangan

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
17 Apr, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Basundari 
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Setiap tahun, selepas takbir mereda dan ketupat habis tersaji, arus aktivitas manusia kembali bergerak. Bukan pulang ke desa, melainkan berangkat menuju kota. Koper-koper yang tadi dibawa mudik, kini kembali dipanggul dengan harapan baru, mencari kerja, mencari nasib, mencari sesuatu yang tak tersedia di kampung halaman. Fenomena urbanisasi pascalebaran bukan berita mengejutkan. Ia adalah ritual tahunan yang sudah terlalu biasa, namun menyimpan luka yang belum juga sembuh.

Jakarta masih menjadi magnet. Pun Surabaya, Medan, Bandung, kota-kota besar itu terus memanggil. DPRD DKI bahkan sampai mengingatkan para pendatang agar tidak modal nekat. Sementara Pemkot Surabaya menerbitkan surat edaran pengendalian urbanisasi (RMOL.ID, 27-03-2026). Ironi yang nyata bahwa kota sendiri kewalahan, sedangkan desa ditinggalkan.

Di balik arus itu tersimpan kenyataan pahit ketimpangan ekonomi antara desa dan kota, bukan sekadar statistik, melainkan perbedaan pengalaman hidup jutaan orang. Desa kehilangan tenaga-tenaga mudanya; mereka yang seharusnya menggarap sawah, mengelola usaha lokal, merawat komunitas, dan membangun lingkungan agar berkembang. Di sisi lain, kota justru menanggung beban demografi yang kian berat; permukiman padat, tekanan infrastruktur, dan persaingan kerja yang brutal.

Akar masalahnya bukan sekadar soal preferensi individu. Ini soal sistem. Kapitalisme yang bekerja di bawah logika akumulasi modal secara alamiah menciptakan pusat-pusat pertumbuhan yang timpang. Anggaran negara pun tak luput dari bias ini selama bertahun-tahun, serta kebijakan pembangunan bersifat Jakarta-sentris dan kota-sentris. Desa, dalam banyak hal, hanya menjadi penonton.

Bukan berarti tak ada program untuk desa; ada dana desa, ada BUMDes, ada Koperasi Desa. Namun jujur harus diakui, banyak dari program itu lebih hidup di atas kertas daripada di lapangan. Alih-alih menjadi motor penggerak ekonomi desa, ia kerap menjelma  ajang bancakan proyek yang mengalirkan manfaat hanya ke segelintir tangan. Rakyat desa tetap menunggu, dan akhirnya memilih berangkat ke kota.

Islam, jauh sebelum wacana pembangunan berkeadilan menjadi arus utama, telah menawarkan konstruksi yang kokoh. Politik ekonomi Islam tidak mengenal pembangunan yang terpusat. Prinsipnya sederhana namun kuat; di mana pun ada manusia, di sanalah negara hadir untuk melayani kebutuhannya. Tak ada desa yang dibiarkan layu karena diabaikan kebijakan.

Sektor pertanian dalam bingkai Islam dikelola secara serius sebagai tulang punggung kehidupan rakyat desa. Tanah tidak dibiarkan mati, petani tidak dibiarkan merugi sendirian. Negara turun tangan bukan hanya melalui regulasi, tetapi dengan keberpihakan yang nyata dan terukur. Yang lebih mengesankan adalah tradisi inspeksi langsung seorang khalifah hingga ke pelosok negeri. Bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan upaya sungguh-sungguh untuk mengetahui kondisi riil rakyat. Sebab pemimpin yang tak mengenal kondisi rakyatnya tak akan pernah bisa memimpin dengan adil.

Urbanisasi pascalebaran bukan takdir yang harus diterima. Ia adalah sinyal bahwa sistem yang ada hari ini gagal menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh wilayah dan seluruh rakyat. Selama desa terus dijadikan kelas dua dalam tata kelola negara, selama itulah koper-koper itu akan terus berderet di stasiun dan terminal membawa mimpi yang mestinya bisa tumbuh di tanah sendiri.
Via opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Israel Biadab, Hukum Mati Tahanan Palestina Dilegalkan

Tanah Ribath Media- April 17, 2026 0
Israel Biadab, Hukum Mati Tahanan Palestina Dilegalkan
Oleh: Zahra Tenia  (Aktivis Muslimah) TanahRibathMedia.Com— Dunia Islam digemparkan kembali oleh ulah Israel. Lagi-lagi zionis penjajah tersebut me…

Most Popular

Lebaran yang Tak Lagi Sama

Lebaran yang Tak Lagi Sama

April 11, 2026
Klaim Kemenangan Manusia, Siapakah Pemenang di Sisi Allah?

Klaim Kemenangan Manusia, Siapakah Pemenang di Sisi Allah?

April 13, 2026
Superpower Baru: Khilafah Mengubah Peta Energi Dunia

Superpower Baru: Khilafah Mengubah Peta Energi Dunia

April 13, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Lebaran yang Tak Lagi Sama

Lebaran yang Tak Lagi Sama

April 11, 2026
Klaim Kemenangan Manusia, Siapakah Pemenang di Sisi Allah?

Klaim Kemenangan Manusia, Siapakah Pemenang di Sisi Allah?

April 13, 2026
Superpower Baru: Khilafah Mengubah Peta Energi Dunia

Superpower Baru: Khilafah Mengubah Peta Energi Dunia

April 13, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us