SP
Urbanisasi, antara Harapan dan Ancaman
TanahRibathMedia.Com—Urbanisasi setelah lebaran seakan menjadi tradisi, dengan harapan ada perubahan nasib di kota terutama di ibukota. Gedung pencakar langit, jalanan yang mulus, mall, perkantoran dan fasilitas megah lainnya menjadi maghnet tersendiri bagi masyarakat agar kehidupannya menjadi lebih baik dari pada di desa. Pada momen Mudik Lebaran 2026, angka arus balik kembali diprediksi lebih besar dari arus mudik. Hal ini menunjukkan bahwa urbanisasi masih diminati banyak masyarakat pedesaan (www.metrotvnews.com, 27-03-2026).
Para pemerhati sosial mengingatkan agar para urban memiliki ketrampilan, perencanaan, dan emosi yang stabil dalam menghadapi kerasnya persaingan kerja di ibukota. Jika tidak, akan menambah beban kota yang sudah komplek permasalahannya serta ancaman sosial seperti pengangguran, stres, kriminalitas, hunian yang tidak layak dan dampak ekologis karena bertambahnya orang yang tinggal di sana.
Urbanisasi merupakan cermin gagalnya pelayanan negara terhadap kebutuhan masyarakat dan adanya ketimpangan infrastruktur antara di kota dan desa. Pembangunan selama ini lebih diutamakan di kota, seperti jalan, pembangunan pabrik, layanan pendidikan dan lainnya. Wajar jika penduduk desa menaruh harapan besar akan ada perbaikan hidup ketika pergi ke kota.
Ironi negeri kaya sumber daya alam namun salah urus. Sumber daya alam yang melimpah tidak dimanfaatkan untuk memfasilitasi keperluan masyarakat. Mereka hanya menjadi pekerja dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup. Yang menikmati hasil alam hanyalah segelintir kapitalis yang ditopang kebijakan penguasa dengan mengeluarkan UU demi kelancaran usaha mereka. UU Migas, omnibus law, UU minerba, UU PMA adalah bukti penguasa memihak pengusaha. Si papa tetap sulit mendapatkan kesejahteraan.
Islam Memberi Solusi
Islam sebagai sistem kehidupan memberikan jaminan kebutuhan rakyat baik di desa maupun di kota. Pemimpin memastikan bahwa semua rakyat terpenuhi kebutuhan dasarnya tanpa pandang bulu. Pembangunan infrastruktur tidak boleh terpusat di kota ataupun ibukota saja. Para pemimpin takut akan pertanggungjawaban dihadapan Allah jika kebijakannya tidak dirasakan merata, sikap amanah mereka menjadikan pemenuhan keperluan rakyat bukan sekedar janji manis tanpa bukti.
Umar bin Khathab sewaktu menjadi Amirul mukminin pernah menyampaikan ketakutannya akan hari hisab ketika terdapat jalan rusak dan ada onta yang terperosok. Ini menunjukkan bahwa pemimpin melayani bukan membebani bahkan hewan pun mendapat perhatiannya. Rasulullah saw. bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)
Pemimpin adalah pelayan buat rakyat bukan raja yang sekedar menjadi simbol apalagi melayani oligarki. Sikap pemimpin yang melindungi membuat rakyat mencintainya dan pemimpin juga mencintai rakyatnya. Rakyat yang terjamin kebutuhannya akan mendoakan para pemimpin dan pemimpin pun mendoakan rakyatnya. Hubungan yang harmonis menjadi salah satu kekuatan negara untuk bertahan serta tumbuh menjadi peradaban besar.
Islam pasti membawa rahmat buat semuanya, muslim maupun nonmuslim di mana pun berada karena lslam berasal dari Dzat yang Maha Sempurna yaitu Allah Swt. ketika diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.
Wallahu a’lam.
Umi Hanifah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Via
SP
Posting Komentar