OPINI
Menjamin Gizi Generasi dengan Ambisi
Oleh: Ernawati Rukmana
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Masih tentang MBG yang beritanya sampai saat ini belum padam. Dikutip dari kompas.com (29-1-2026), ratusan pelajar SMA Negeri 2 Kudus Jawa Tengah dilaporkan mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis atau MBG. Berdasarkan data kesehatan Pemkab Kudus per Kamis (29-1-2026), jumlah siswa yang mengalami keracunan hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit mencapai 118 orang.
Sebelum terjadi keracunan di Kudus, hampir di seluruh Indonesia mengalami juga keracunan MBG seperti sebuah sekolah di Cianjur terjadi keracunan masal sebanyak 300 siswa setelah mengkonsumsi MBG. Ini mengakibatkan 3 dapur penyedia dihentikan sementara. Kemudian ada juga di daerah Bengkulu dan masih banyak lagi sekolah-sekolah yang siswanya mengalami keracunan. Banyak pengamat yang menilai lemahnya pengawasan dari tata kelola daerah jadi penyebab utama. Pihak BGN pun berjanji akan memperbaiki sistem.
Publik selalu bertanya-tanya sampai kapan anak-anak jadi korban kasus keracunan akibat MBG ini? Salah satu evaluasi yang pertama adalah soal kedisiplinan dan kualitas makanan di seluruh SPPG serta kebersihan seluruh alat makan dan perbaikan proses sanitasi, khususnya kualitas air dan alur limbah.
Program MBG ini tujuan awalnya memang sangat bagus yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan dan pemenuhan gizi rakyat, sehingga rakyat berharap kebijakan ini menjadi solusi terbaik yang aman dan tepat sasaran.
Tapi faktanya, program ini diberikan kepada anak-anak melalui sekolah, kenapa tidak diberikan ke pihak keluarga langsung yang taraf ekonominya tidak mampu memenuhi gizi anak. Jika melalui sekolah, banyak siswa yang keluarganya dari kalangan menengah ke atas, sehingga dalam pemenuhan gizi pun lebih baik daripada yang diberikan program pemerintah. Tentu ini tidak tepat sasaran, sehingga membuat rakyat bertanya-tanya ada kepentingan apa di balik semua ini? Kemudian, apakah MBG sudah memenuhi standar gizi untuk anak? Atau apakah sudah memenuhi standar ‘quality control’ yang baik sebelum diberikan kepada seluruh siswa? Dan apakah standar gizinya sudah memenuhi untuk generasi?
Di sini kita harus membuka mata lebar-lebar tentang program MBG ini. Kaum kapitalis pasti hanya ingin mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya mulai dari elit politik hingga ke bawah yang mungkin banyak celah korupsinya dari program ini. Karena program ini secara anggaran sangatlah besar. Tapi coba lihat kenyataannya, anak-anak kita diberikan makanan yang standar gizinya kurang memadai dan tidak lebih baik dari apa yang diberikan orangtuanya. Bukannya tambah sehat tetapi dalam fakta di atas banyak sekali yang keracunan karena dari makanan yang sudah tidak segar, cara penyajian tempat ompreng yang kurang bersih dan banyak hal lainnya lagi yang asal-asalan.
Berbeda dengan sistem Islam yang begitu sempurna dalam menerapkan aturan Islam karen merujuk kepada hukum syara dengan standar halal dan haram serta mengharap ridha Allah Swt. Islam sangat berhati-hati dalam mengambil kebijakan apalagi sampai merugikan rakyatnya, karena kebijakannya tertumpu pada syariat Islam. Semua aspek kehidupan tidak akan pernah ditumpangi dengan bisnis yang merugikan rakyat, justru sistem Islam menjadi garda terdepan untuk keamanan, kepentingan, serta keselamatan rakyatnya. Islam mengajarkan agar selalu menghargai nyawa manusia tersebut (al muhafazhah al an nafs wa al insaniyah).
Maka solusi dalam pandangan Islam program MBG itu diganti saja misalkan dengan cara digantikan dengan uang agar keluarga yang memasaknya sehingga pelayanan pemenuhan gizinya lebih terjaga sehingga tidak perlu lagi memerlukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan harus mengeluarkan dana lagi untuk membayarnya. Jika dari pihak keluarga akan aman dan meminimalisir keracunan karena keluarga akan memberikan yang terbaik.
Selain itu, lebih baik memberantas pengangguran dengan menyediakan lapangan kerja agar yang menanggung nafkah bisa memenuhi segala kebutuhan rumah tangganya. Bisa juga dialihkan ke program pendidikan gratis, karena di dalam sistem Islam pendidikan tidak dipungut biaya alias gratis. Jika semua itu terjadi, maka tampak jelas peran negara kepada rakyatnya. Kebijakannya sangat menguntungkan bagi semua terutama rakyat hingga rakyat merasakan keadilan, ketentraman dan kestabilan ekonomi dalam naungan ridho Illahi. Masya Allah, semoga Allah menyegerakan tegaknya daulah Islam yang kaffah
Wallahu alam bishowab.
Via
OPINI
Posting Komentar