Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Dosa Negara di Balik Nisan Bocah Ngada
OPINI

Dosa Negara di Balik Nisan Bocah Ngada

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
10 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Indri Wulan Pertiwi
(Aktivis Muslimah Semarang)

TanahRibathMedia.Com—Hati siapa yang tidak hancur mendengar kabar dari Ngada NTT, ketika mendengar seorang anak SD nekat mengakhiri hidupnya hanya karena perkara buku dan pena. Ironis, ketika anggaran makan siang diperebutkan di meja elit, nyawa seorang bocah melayang hanya karena benda yang harganya tak lebih dari tarif parkir kita. Pada Kamis (29-1-2026), YBS (10) ditemukan tewas gantung diri. 

Tragedi ini bukan sekadar musibah, melainkan alarm keras bagi bangsa. Sebelum pergi, siswa cerdas ini sempat meminta uang untuk membeli perlengkapan sekolah, namun kemiskinan yang mencekik membuat ibunya tak berdaya. Ia pun memilih menyerah, meninggalkan sepucuk surat terakhir dalam bahasa Ngada: "Mama jao galo mata, mae woe rita... Molo Mama" (Mama, saya pergi, jangan menangis... Selamat tinggal Mama) (kompas.com, 03-02-2026). Inilah potret pahit kegagalan negara dalam mengurus rakyatnya; seorang anak harus menyerah pada maut hanya karena negara abai dalam menjamin hak dasarnya.


Ironi yang Menyakitkan

Jujur saja, rasanya muak melihat standar ganda yang dimainkan negara ini. Di satu sisi, pemerintah begitu "dermawan" mengucurkan anggaran fantastis demi proyek ambisius Makan Bergizi Gratis (MBG) yang penuh polemik, hingga rela menyetor "mahar" senilai Rp17 triliun demi bergabung dalam Board of Peace besutan Donald Trump demi sebuah pengakuan global. Namun di sisi lain, negara mendadak "miskin" dan tak berdaya hanya untuk menjamin peralatan sekolah bagi seorang anak di pelosok negeri.

Coba kita tanya ke lubuk hati terdalam, masihkah ada sisa rasa kemanusiaan jika melihat triliunan rupiah dihamburkan untuk memuaskan syahwat politik dan kenyamanan investor, sementara seorang bocah dibiarkan tewas karena ketiadaan sarana belajar yang paling dasar? Tragedi ini adalah bukti nyata bahwa dalam sistem kapitalisme, rakyat kecil hanya dianggap sebagai beban statistik. Eksistensi di mata dunia dan kenyamanan penguasa adalah prioritas yang tak boleh diganggu gugat. Narasi "Indonesia Emas 2045" hanyalah utopia yang memuakkan, sebuah mimpi muluk yang tega membiarkan nisan anak-anak putus harapan menjadi fondasi pembangunannya.

Dosa Sistemik di Balik Meja Kekuasaan

Absennya negara dalam urusan fundamental seperti ini bukan sekadar kelalaian administratif, melainkan sebuah kejahatan sistemik. Inilah wajah asli sekularisme-kapitalistik: ketika kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai amanah untuk melayani urusan rakyat (ri’ayah), melainkan alat untuk mengamankan kepentingan elit dan korporasi. Bagaimana mungkin nurani penguasa tidak terusik? Mereka bisa tidur nyenyak di atas kursi empuk hasil pajak rakyat, sementara di sudut lain negeri ini, seorang anak meregang nyawa karena merasa "terasing" dari sistem pendidikan yang katanya gratis namun nyatanya mencekik si miskin.

Pihak otoritas mungkin akan berdalih bahwa ini hanyalah masalah kesehatan mental individu. Namun mereka lupa, bahwa kemiskinan struktural yang mereka ciptakan adalah mesin depresi yang paling kejam. Ketika seorang anak kehilangan harapan hanya karena sebatang pena, maka yang sakit bukan mental sang anak, melainkan sistem yang membiarkannya berjuang sendirian.

Kepemimpinan Adalah Pengabdian, Bukan Panggung Kemewahan

Dalam Islam, kepemimpinan adalah pengabdian total, bukan panggung kemewahan. Rasulullah ï·º telah menegaskan bahwa setiap individu yang memegang tampuk kekuasaan pada hakikatnya adalah seorang pengurus yang memikul tanggung jawab penuh atas kondisi rakyat yang dipimpinnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, esensi kepemimpinan terletak pada amanah pengurusan dan pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.

Umar bin Khattab ra. bahkan merasa takut akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah jika ada seekor keledai yang terperosok karena jalanan yang rusak. Jika untuk seekor hewan saja pemimpin Islam begitu gemetar, bayangkan betapa besarnya dosa bagi penguasa yang membiarkan seorang anak manusia bunuh diri karena putus asa oleh kemiskinan.

Dalam sistem Islam kaffah (Khilafah), jaminan kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan, termasuk di dalamnya infrastruktur bangunan hingga perlengkapan belajar mengajar adalah kewajiban mutlak yang dipenuhi negara untuk diberikan kepada rakyatnya secara cuma-cuma namun berkualitas. Hal ini merupakan tanggung jawab syar'i yang pembiayaannya diambil dari Baitulmal, bukan sekadar janji politik atau bantuan musiman penuh pencitraan.

Menggugat Nurani, Menuju Perubahan Hakiki

Nyawa anak di Ngada adalah tumbal dari sistem yang kehilangan rasa kemanusiaan. Kita tidak butuh lagi pidato manis tentang pertumbuhan ekonomi jika di saat yang sama rakyat harus bertaruh nyawa hanya demi membeli alat tulis. Sudah saatnya kita berhenti menggantungkan harapan pada tatanan yang memuja materi dan menyingkirkan aturan Sang Pencipta dari kehidupan.

Tragedi ini bukan sekadar alarm untuk negara tapi pesan nyata bagi kita semua bahwa sistem saat ini telah gagal total. Hanya dengan merombak akar masalahnya dan kembali pada syariat Allah, kita dapat memastikan tidak boleh ada lagi nyawa yang melayang hanya karena sebatang pena.

Wallahu a'lam bish-shawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Februari 10, 2026
Keracunan MBG Berulang; Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi

Keracunan MBG Berulang; Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi

Februari 11, 2026
Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

September 25, 2025

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Potret Buram Pendidikan dalam Sistem yang Suram

Februari 10, 2026
Keracunan MBG Berulang; Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi

Keracunan MBG Berulang; Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi

Februari 11, 2026
Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

September 25, 2025

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us