OPINI
Buku dan Pulpen Seharga Nyawa
Oleh: Yuliana, S.E
(Muslimah Riau)
TanahRibathMedia.Com—Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyoroti kasus anak Sekolah Dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timu (NTT) yang gantung diri sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen. Ibunya tidak dapat memenuhi karena tak memiliki uang. Saifullah Yusuf, menilai kasus tersebut menjadi atensi Kementrian Sosial. Pihaknya bersama pemerintah daerah akan memperkuat pendampingan untuk kelompok tidak mampu agar kejadian serupa tidak terulang.
Dia menekankan pentingnya penguatan data untuk menjangkau keluarga-keluarga yang tak mampu dan yang membutuhkan rehabilitas. Dia memastikan pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap kasus di NTT. Sebelumnya, YBS siswa SD kelas IV ditemukan tewas gantung diri, Kamis siang (29/1/2026). Korban tergantung seutas tali di pohon cengkeh di dekat sebuah pondo, tempat dia tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun.
Gregorius Kodo, seorang saksi mata, menuturkan kondisi keluarga korban sangat meprihatinkan. Itu yang membuat korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Ketika kejadian berlangsung, nenek korban yang beusia sekita 80 tahun itu sedang berada di rumah tetangga. Menurutnya, korban kurang kasih sayang dari orangtuanya. Ayah koran meninggal dunia pada saat korban masih dalam kandungan. Ayah korban merupakan suami ketiga dari ibunya. Ibunya menafkahi lima orang anak termasuk korban.
Sebelum bunuh diri korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli biku dan pulpen. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan ibunya dikarenakan ibunya tidak memiliki uang. Dalam proses olah TKP, polisi menemukan sepucuk surat untuk ibunya yang ditulis tangan oleh korban di temukan di sekitaran lokasi. Kasi Humas Polres Ngada Ipda Benediktus E Pisort membenarkan bahwa surat tersebut diduga kuat ditulis oleh korban sebelum mengakhiri hidupnya (Liputan6.com, 04 Februari 2026).
Nasib Anak di Tangan Kapitalis
Miris, kebutuhan mendasar rakyat yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara malah hanya sebatas khayalan semata. Pendidikan yang seharusnya menjadi hak anak secara percuma tanpa harus membayar dengan sejumlah dana namun harus dibayar dengan nyawa. Pemimipin segogyanya menjadi priayah bagi rakyatnya malah sebaliknya, berlaku tidak manusiawi membuat rakyatnya tidak bertakwa.
Dalam sistem sekuler, pemimpin menjadikan rakyatnya sebagai sapi perah dan memakan keringatnya melalui pajak yang terus meroket tiap tahunnya. Cuma karena buku dan pulpen saja anak seusia belia itu harus menukarkan dengan nyawanya. Negeri ini kaya tapi rakyatnya papa, pemimpin sibuk bermesra dengan pengusaha, menenteng kuasanya untuk menjadikan dirinya jaya, kaya raya, bahagia, berfoya-foya, menutup mata pada rakyat yang menderita.
Makin ke sini sistem sekuler makin membuat umat sengsara. Semua kebijakan yang dibuat tidak membuat rakyat terjaga. Rakyat makin nelangsa, hukum yang berlaku hukum rimba. Keadilan tidak untuk rakyat miskin, yang menjadi korban malah menjadi tersangka. Negara tidak hadir saat rakyatnya membutuhkan perisai. Rakyat dituntut untuk menanggung semua masalah yang dihadapi tanpa ada riayah dari pemimpin dan negara.
Negara yang seharusnya bertanggung jawab atas kebutuhan dasar rakyatnya. Namun tidak pernah dipenuhi sesuai dengan hak-hak rakyat. Rakyat makin melarat dalam memenuhi kebutuhan hidup yang tak ayal menggadai iman. Sekuler kapitalis bukan sebagai pelayan rakyat tapi sudah menjadi penjajah yang tak terlihat. Selalu melahirkan kabijakan yang tidak memihak kepada rakyat. Kebijakan yang dilahirkan malah membuat rakyat makin tersudut dan terpijak.
Hukum Islam Sebaik-baik bagi Umat
Dalam Islam, hukum yang dijalankan adalah hukum Allah Swt. bukan hukum buatan manusia. Pelaku zina dalam hukum Allah adalah rajam sampai mati karena haram hukumnya. Kalau hukum buatan manusia, pelaku zina kadang hanya dapat pelanggaran sosial, karena dilakukan suka sama suka. Riba haram dalam Islam, tapi boleh pada pandangan dan hukum buatan manusia dengan dalih boleh kalau terdesak, boleh asal tidak besar bunganya.
Oleh sebab itu, kaum muslim wajib menerapkan hukum-hukum Allah Swt. atau syariat Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Tidak lagi memakai hukum-hukum buatan manusia dalam aspek kehidupan. Kewajiban ini mengharuskan adanya Khilafah. Khilafahlah institusi yang akan menerapkan hukum-hukum Allah Swt. secara kaffah atau menyeluruh. Dengan menerapkan hukum secara kaffah masalah yang ada pada umat akan tersolusikan. Hukum-hukum yang tidak bisa ditegakkan oleh individu seperti hudud, junayat, jihad, system ekonomi, pengelolaan sumber daya alam, meriayah rakyat, dan sebagainya.
Negara khilafah akan menjaga umat. Rasulullah saw. menegaskan bahwa Khalifah adalah perisai yang bertanggung jawab menjaga darah umat Islam serta menjaga agama dan kehormatan Islam. Khalifah akan menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Bukti sejarah menunjukkan bahwa Rasulullah saw. menjadi pemimpin negara Madinah. Hanya dalam masa 10 tahun, Islam mampu menguasai seluruh Jazirah Arab. Misi ini dilanjutkan oleh khulafaur rasyidin. Seperti khalifah Umar bin Khottob yang menaklukkan Mesir, Persia, dan Syam. Bandingkan saat ini ketika umat tidak dipimpin oleh seorang khalifah. Negeri-negeri muslim menjadi lemah dan dikuasai oleh penjajah. Seperti Palestina hingga saat ini masih dibantai oleh Zionis laknatullah, tak ada satupun penguasan Muslim melindungi mereka.
Di negeri kita sendiri tidak kalah sengsaranya, mau sekolah saja butuh pengorbanan yang luar biasa. Dalam Islam pendidikan merupakan kebutuhan mendasar yang dijamin oleh negara, rakyat tidak perlu memikirkan biaya untuk mengecap pendidikan setinggi-tingginya. Saat ini kita tidak bisa merasakan kesejahteraan seperti yang diberikan oleh system Islam, sebelum ditegakkannya khilafah.
Penerapan Islam secara kaffah akan menciptakan ketaqwaan secara kolektif, tidak akan ada lagi umat yang menggadaikan iman demi mau sekolah. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-A’rof ayat 96 yang artinya:
“Jika saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka itu.” (TQS AL-A’raf: 96)
Oleh sebab itu, untuk membenahi semua kekacauan yang terjadi di tengah-tengah umat tak lain adalah kembali kepada Islam secara kaffah. Untuk mewujudkan itu butuh khilafah dan untuk menegakkan khilafah butuh persatuan dan kesatuan umat.
Wallahu a’lam bi ash-showab.
Via
OPINI
Posting Komentar