Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Banjir dan Longsor Aceh: Melumpuhkan Aktivitas dan Ekonomi Rakyat
OPINI

Banjir dan Longsor Aceh: Melumpuhkan Aktivitas dan Ekonomi Rakyat

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
05 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)


TanahRibathMedia.Com—Setelah bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2025, dampaknya tidak hanya terasa pada kerusakan lahan persawahan yang luas. Tetapi juga pada perekonomian masyarakat pegunungan yang sangat bergantung pada hasil pertanian dan perkebunan.

Penetapan tanggap darurat untuk keempat kalinya menandakan pemulihan pascabencana masih belum tuntas. Terlebih hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber penghidupan warga di Aceh masih terpuruk karena akses transportasi darat belum sepenuhnya pulih, sehingga panen sulit dijual.

Saat ini, sedikitnya 56.652 hektare lahan persawahan yang tersebar di 18 kabupaten dan kota di Aceh mengalami kerusakan akibat bencana banjir bandang dan longsor. Kerusakan ini tidak hanya menghilangkan sumber penghidupan petani, tetapi juga mengganggu rantai produksi pangan daerah. Sawah yang tertimbun lumpur, hingga sistem irigasi yang rusak memperlihatkan bahwa dampak bencana belum berhenti pada fase darurat, melainkan berlanjut sebagai krisis ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat (MediaIndonesia, 25-1-2026).

Bahkan analisis Bank Indonesia menegaskan bahwa gangguan pada jalur distribusi akibat infrastruktur yang terputus memberi tekanan langsung pada sektor pertanian dan perdagangan di Aceh, terutama di daerah pegunungan yang menjadi basis banyak komoditas pertanian dan perkebunan (acehnews.id, 17-12-2025).

Pemulihan pascabencana bisa dikatakan berjalan lambat sehingga berdampak langsung pada perekonomian warga terdampak. Banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian dan kesulitan mencari pekerjaan karena aktivitas ekonomi belum kembali normal. Di sektor pertanian dan perkebunan, kerusakan lahan, serta belum pulihnya akses transportasi membuat hasil panen sulit dipasarkan, sehingga pendapatan petani terus menurun. 

Paradigma bernegara yang berorientasi pada untung-rugi menjadikan alokasi dana pemulihan pascabencana serba terbatas. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa negara gagal menjalankan perannya sebagai raa’in (pengurus rakyat) yang seharusnya hadir penuh menjamin keselamatan dan kesejahteraan masyarakat terdampak. Selama ini, sistem pengelolaan bencana juga lemah secara struktural. Minimnya koordinasi antar lembaga membuat status tanggap darurat terus berulang, tanpa diiringi upaya pemulihan menyeluruh dan pencegahan jangka panjang.

Lebih jauh dikatakan, dalam sistem kapitalisme anggaran negara lebih diprioritaskan untuk kepentingan investasi dan pertumbuhan ekonomi, sementara rakyat “dipaksa” mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, termasuk saat menghadapi dampak bencana. Seharusnya negara wajib bertindak sebagai pengurus rakyat, dengan memastikan pemulihan infrastruktur, lahan pertanian, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak bencana berlangsung secara cepat, menyeluruh, dan adil.

Bantuan pun harus disalurkan secara langsung dan tepat sasaran sesuai kebutuhan warga terdampak, seperti mereka yang sakit, lanjut usia, penyandang disabilitas, atau kehilangan mata pencaharian. Bukan sekadar program seremonial dan alat pencitraan.

Pendanaan pemulihan bersumber dari Baitul Maal yang memiliki dana jumlahnya besar, dan dialokasikan berdasarkan prinsip kemaslahatan umat, baik untuk pemulihan ekonomi, pendidikan, maupun penyediaan layanan dasar bagi masyarakat terdampak. Karena itu, sudah saatnya kita semua menyadari bahwa memperjuangkan tegaknya sistem Islam merupakan kebutuhan mendesak agar manusia kembali diperlakukan secara manusiawi. Sistem Islam tidak sekadar hadir saat krisis, tetapi mengatur kehidupan manusia dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahualam bissawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

September 25, 2025
Borok Pendidikan akibat Meninggalkan Aturan Tuhan

Borok Pendidikan akibat Meninggalkan Aturan Tuhan

Februari 03, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

September 25, 2025
Borok Pendidikan akibat Meninggalkan Aturan Tuhan

Borok Pendidikan akibat Meninggalkan Aturan Tuhan

Februari 03, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us