SP
Selamatkan Peradaban Dunia dengan Hukum Syariat
TanahRibathMedia.Com—Di tengah gejolak dunia yang semakin kompleks, kepemimpinan global yang penuh rahmat bukan isapan jempol semata. Tetapi, merupakan kebutuhan kekuasaan bagi umat manusia. Kepemimpinan yang dominan saat ini, terutama yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan ideologi kapitalisme liberal, menunjukkan kecenderungan terhadap hegemonisme, eksploitasi sumber daya, dan militerisme yang sering kali mengorbankan umat Islam sehingga terjajah, lemah, menderita, dan semakin sekuler.
Berbagai bencana ekologis yang melanda dunia tidak bisa dilepaskan dari keserakahan kepemimpinan kapitalisme global. Alam diperlakukan semata sebagai komoditas ekonomi. Hutan ditebang tanpa kendali, laut dieksploitasi tanpa batas, dan sumber daya alam dikeruk demi keuntungan segelintir korporasi dan negara kuat. Ketika banjir, kekeringan, dan krisis iklim menghantam rakyat kecil, para aktor kapitalisme justru cuci tangan, berlindung di balik jargon “pembangunan” dan “pertumbuhan ekonomi”.
Di sisi lain, kepemimpinan global yang didominasi Amerika Serikat semakin menunjukkan arogansinya. Dengan dalih menjaga stabilitas dan demokrasi. AS terus melakukan intervensi, ancaman, bahkan serangan ke berbagai negara yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingannya, termasuk Venezuela. Politik standar ganda menjadi wajah asli tatanan dunia hari ini: pelanggaran hukum internasional dibenarkan selama dilakukan oleh negara kuat, sementara negara lemah dipaksa tunduk melalui sanksi dan tekanan politik.
Sesungguhnya, ideologi kapitalisme sekuler terbukti telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam secara sistemik. Di samping menghancurkan sistem ekonomi, juga memisahkan agama dari pengaturan kehidupan dan politik. Akibatnya, akidah umat digerus oleh sekularisme, muamalah diatur oleh logika untung-rugi semata. Akhlak terdegradasi oleh budaya liberal, sementara sistem ekonomi, politik, sosial-budaya, dan pendidikan disetir oleh kepentingan pasar dan kekuasaan.
Amerika Serikat sebagai motor utama kapitalisme global menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan hegemoninya atas dunia. Intervensi politik, tekanan ekonomi, sanksi sepihak, hingga aneksasi dan ancaman militer dilakukan demi menguasai sumber daya alam negara lain. Semua itu dilakukan tanpa mengindahkan tatanan hukum internasional maupun kecaman masyarakat dunia.
Negara-negara yang menolak tunduk pada kepentingan AS, seperti Venezuela, diposisikan sebagai ancaman, lalu ditekan secara sistematis. Fakta ini menegaskan bahwa hukum internasional dalam sistem global hari ini tidak lebih dari alat legitimasi bagi negara kuat, bukan instrumen keadilan bagi seluruh bangsa. Realitas ini semakin memperjelas kegagalan kepemimpinan global berbasis kapitalisme sekuler.
Sistem ini tidak hanya gagal menghadirkan keadilan dan kesejahteraan, tetapi juga melahirkan kerusakan multidimensi spiritual, sosial, politik, hingga ekologis. Karena itu, wajar jika dunia terus dilanda krisis yang tak kunjung usai. Tanpa perubahan mendasar pada paradigma berpikir dan arah kepemimpinan global, penderitaan umat manusia akan terus berulang dari masa ke masa.
Menghadapi kerusakan global yang lahir dari kapitalisme sekuler dan hegemoni Amerika Serikat, umat Islam sejatinya tidak berada dalam kondisi tanpa harapan. Islam memiliki mabda’ (ideologi) yang sempurna, yang tidak hanya mengatur urusan ibadah, tetapi juga seluruh aspek kehidupan. Karena itu, penting untuk kembali mengingatkan umat Islam akan identitas dan potensi peradabannya sendiri. Kebangkitan umat tidak akan lahir dari mengikuti sistem kufur yang telah terbukti gagal, melainkan dari tegaknya kepemimpinan Islam yang berani melawan dominasi dan hegemoni global yang zalim.
Oleh karena itu, kepemimpinan Islam merupakan satu-satunya harapan untuk mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang penuh rahmat. Berbeda dengan kepemimpinan kapitalisme yang bertumpu pada kepentingan materi dan kekuatan militer. Kepemimpinan Islam berpijak pada akidah, keadilan, dan tanggung jawab di hadapan Allah Swt. Dalam sistem ini, kekuasaan dijalankan sebagai amanah untuk mengurus urusan manusia, menjaga keseimbangan alam, serta memastikan terpenuhinya hak-hak seluruh rakyat tanpa diskriminasi. Inilah makna hakiki dari kepemimpinan rahmatan lil ‘alamin.
Karena itu, perjuangan menghadirkan kembali kepemimpinan Islam bukanlah utopia atau romantisme sejarah, melainkan sebuah keniscayaan ideologis. Dunia yang lelah oleh ketidakadilan, peperangan, dan kerusakan membutuhkan sistem alternatif yang benar-benar membawa rahmat. Islam, dengan kepemimpinan globalnya, menawarkan solusi nyata bagi krisis peradaban dunia hari ini.
Wallahualam Bisshawab
Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)
Via
SP
Posting Komentar