NAFSIAH
Keberkahan Membelai di Balik Tirai
Oleh: Kartika Soetarjo
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Dikisahkan pada zaman Rasulullah saw., hiduplah sepasang suami-istri yang taat kepada aturan Allah dan Rasul-Nya. Tak pernah sedikit pun akhlak keseharian mereka melenceng dari rambu-rambu Agama-Nya. Namun, walaupun hidup mereka selalu diisi dengan ketaatan, entah kenapa pertengkaran selalu saja menerpa rumah tangga mereka. Bukan pertengkaran hebat, bukan juga perselisihan yang besar. Tetapi percikan-percikan kesalahpahaman yang terlalu sering menyala di antara mereka, dan ketika percikan itu dibiarkan, serta dianggap biasa, maka lama-lama pun membara.
Karena merasa lelah, dan mungkin merasa heran dengan kebiasaan bertengkar tersebut. Akhirnya, suatu hari mereka memutuskan untuk bertanya kepada Rasulullah saw. tentang hal tersebut. Sesampainya di rumah Rasulullah saw. mereka pun dipersilakan duduk oleh Rasul. Kemudian Rasulullah pun bertanya.
"Ada keperluan apakah kalian datang kepadaku?" tanya Rasulullah kepada mereka.
Lalu, si suami pun menjawab: "Ya, Rasulallah... kami selalu mengisi hari-hari dalam kehidupan berumah tangga ini dengan ketaatan kepada Allah dan kepadamu. Tetapi kenapa selalu saja ada pertengkaran di antara kami setiap harinya? Apa gerangan penyebabnya, ya Rasul? Engkau pasti mengetahuinya,” jawab si suami.
Rasulullah saw. pun tersenyum, dan menjawab: "Jendela rumah kalian tidak memakai tirai dan isinya tampak terlihat jelas oleh setiap orang yang lewat di depan rumah kalian. Di antara orang yang melewati itu, ada orang yang sering meninggalkan salat lima waktu ikut melihat isi rumah kalian. Saat itulah keberkahan rumah tangga kalian berkurang, walaupun kalian selalu beribadah. Karena, aurat rumah kalian terlihat oleh orang yang suka meninggalkan salat yang lima waktu."
Sontak saja suami-istri itu pun terkejut. Mereka menyadari, selama ini jendela rumah mereka memang tidak memakai tirai/gorden. Setelah berpamitan, mereka pun pulang.
Sesampainya di rumah, mereka segera menutup jendela rumahnya dengan tirai.
Takdir Allah Swt., setelah jendela rumahnya memakai tirai, mereka hidup rukun, jarang sekali ada pertengkaran. Rumah tangga mereka pun dipenuhi keberkahan. Maasyaa Allah.
Kisah di atas saya dapatkan dari ceramahnya seorang ustaz ketika mengisi sebuah acara memperingati salah satu hari besar Islam. Terlepas dari shahih atau dhaif, kisah ini banyak memberi pelajaran kepada kita. Di antaranya:
Ketika seseorang meninggalkan salat, yang hilang bukan hanya pahalanya, yang hilang keberkahan hidupnya. Bahkan, pandangan matanya pun bisa menjadi penyebab berkurangnya keberkahan hidup orang lain.
Kemudian, kisah ini pun menasihati kita agar tidak memperlihatkan atau memamerkan kehidupan pribadi kepada orang lain. Tidak disengaja saja, seperti kisah di atas, sudah berdampak buruk kepada kehidupan berumah tangga. Apalagi jika benar-benar secara sengaja dibuka, agar dilihat oleh khalayak.
Di zaman timbangan berat badan lebih dikhawatirkan daripada timbangan amal seperti sekarang ini, mungkin semua rumah sudah memakai tirai, termasuk rumah kita. Sehingga isi rumah tidak akan tampak terlihat jelas dari luar. Insyaa Allah, dunia nyata kita sedikit lebih aman, karena terhindar dari pandangan.
Namun, apa kabar dengan dunia maya atau media sosial kita? Sudahkah media sosial kita memakai tirai? Pertanyaan ini mungkin terasa menggelitik, masa iya sih, medsos pakai tirai?
Loh, kenapa engga?
Medsos juga harus memakai tirai, dong! Tirai yang dimaksud di sini adalah berupa rasa takut dan sifat malu.
Dalam Islam, keharusan merasa malu memamerkan kehidupan didasari oleh prinsip kerendahan hati (tawadhu) dan larangan riya atau pamer bersumber dari Al-Quran dan hadis. Rasa malu dipandang sebagai bagian integral dari keimanan. Malu yang dimaksud adalah malu kepada Allah dan kepada manusia, yang mencegah seseorang dari perbuatan tercela atau pamer.
Rasulullah saw. bersabda:
"Malu adalah sebagian dari Iman." (HR Bukhari dan Muslim)
Memamerkan kehidupan, termasuk dalam kategori riya. Contohnya melakukan perbuatan baik, atau menampakkan nikmat agar dilihat dan dipuji oleh orang lain, itu sangat dilarang oleh Islam. Seperti memposting dapur, atau ruang tengah yang baru selesai dipel, hingga terlihat bening. Memposting pasangan, memposting anak yang lucu, atau memposting sebuah prestasi, memposting kendaraan baru, dan nikmat-nikmat lainnya yang ada dalam kehidupan kita.
"Ups", sebenarnya saya juga agak malu menulis ini. Karena jujur saja, saya sendiri pun masih suka memposting di antara hal tesebut di atas. Tapi walau pun begitu, kebenaran wajib disampaikan.
Larangan memamerkan kenikmatan pun telah ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran surah Luqman ayat 18:
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."
Pun, tidak semata-mata Allah melarang kita agar tidak memamerkan kehidupan, atau nikmat yang kita miliki kepada orang lain, jika tidak ada efek buruk di dalamnya. Karena, ketika kita memamerkan nikmat tersebut, dikhawatirkan akan menimbulkan rasa kagum yang berlebihan, atau rasa iri dari sebagian pandangan yang melihat hal tersebut, dan dari pandangan tersebut maka timbulah satu penyakit, yang bernama penyakit 'ain.
Jika seseorang sudah terkena penyakit 'ain, maka akan berkurang sebagian keberkahan dalam hidupnya. Seperti dalam kesehatan, harta, dan urusan lainnya. Rasulullah saw. bersabda:
“Al-'Ainu haqqu." (Penyakit 'ain itu benar adanya).
Seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir, itulah 'ain. Ini menunjukkan, betapa seriusnya dampak 'ain pada kehidupan.
Kesimpulan
Jika kita merasa hidup tidak nyaman, sering mempunyai masalah, hati tidak tenteram, atau dengan pasangan sering ada pertengkaran walau penyebabnya hal yang sangat sepele. Padahal mapan dari segi finansial, salat tak pernah terlewat, sedekah selalu istiqamah, serta perbuatan-perbuatan baik lainnya selalu mewarnai hari-hari. Coba cek media sosial kita!
Sudahkah medsos kita memakai tirai? Jika belum, yuk, mulai sekarang halangi dunia maya/medsos kita dengan tirai takut dan tirai malu! Tirai tersebut pun berfungsi sebagai filter. Yaitu, untung menyaring hal mana yang layak dan yang tidak layak diposting. Jika sudah menggunakan tirai sebagai filter dalam bermedsos, Insyaa Allah kehidupan kita tidak terlihat jelas oleh pandangan orang lain. Keberkahan hidup didapat dan 'ain pun menjauh.
Tujuan hidup ini bukan mencari validasi dunia, tetapi mencari validasi Allah Ta'ala. Ketika validasi Sang Maha Penguasa jagat sudah didapat, maka keberkahan hidup pun akan selalu merapat. Ada nasihat lembut dari Syekh Jalaludin Rumi.
"Belajarlah merahasiakan kehidupan pribadi. Tetaplah rendah hati, tidak semua orang perlu tahu segalanya tentangmu"
Pakailah tirai! Insyaa Allah keberkahan hidup akan selalu membelai. Semoga tulisan ini, menjadi asbab hidayah untuk saya, dan semua para pembaca. Aamiin ya Rabbal 'alamin
Wallahu a'lam bishawab.
Via
NAFSIAH
Posting Komentar