opini
Rentetan Musibah Menimpa Negeri, Saatnya Kita Muhasabah Diri
Oleh: Shintia Rizki Nursayyidah, S.Pd.
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Pilu rasanya, ketika membuka media sosial, kita dengar dan lihat rentetan musibah yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai pelosok negeri. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terhitung sejak 1 Januari hingga 19 Oktober 2025, Indonesia mengalami 2.606 kejadian bencana alam sepanjang 2025. Bencana alam ini didominasi oleh banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), longsor, hingga kekeringan. BNPB mencatat, di wilayah Pulau Sumatra, khususnya Sumut dan Riau, masih menjadi daerah dengan paling sering terjadi bencana. Sementara wilayah Kalimantan, karhutla mendominasi laporan kejadian (sumut.inews, 21-10-2025).
Di Sumatra, kita saksikan hari ini ribuan orang terdampak dan ratusan nyawa melayang akibat banjir bandang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.180 orang. Selain itu, 145 orang masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian (cakaplah.com, 11-1-2026) Belum lagi, tak terhitung bangunan dan infrastruktur publik yang hancur.
Di tengah banyaknya korban dan sudah banyak desakan dari berbagai pihak, anehnya pemerintah pusat hingga saat ini masih belum menetapkan bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dengan status tanggap darurat bencana nasional. Padahal, situasinya sudah sangat memprihatinkan. Pemerintah daerah pun kewalahan lantaran akses yang sulit dijangkau. Akibatnya, banyak wilayah-wilayah yang belum tersentuh bantuan. Listrik belum menyala, tidak ada makanan sehingga mereka kelaparan dan terpaksa minum genangan air hujan yang keruh untuk bisa bertahan hidup.
Ditambah lagi klaim Pemerintah, mengatakan bahwa bencana banjir dan longsor ini diakibatkan karena cuaca ekstrem. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut pemicu utama bencana ini adalah hujan ekstrem akibat sistem siklon tropis Koto yang berkembang di Laut Sulu dan bibit Siklon 95B muncul di Selat Malaka. Benarkah bencana ini terjadi karena peristiwa alam?
Akibat Keserakahan Manusia
Jika kita cermati, bencana di Sumatra bukan hanya akibat fenomena alam, tetapi akibat keserakahan manusia, buah dari kebijakan kapitalistik yang mengorbankan lingkungan demi keuntungan semata, yang akhirnya rakyat terzalimi dan harus merasakan akibatnya. Curah hujan ekstrem berubah menjadi petaka karena hutan-hutan ditebang dan gunung-gunung digunduli.
Menurut data yang dilansir GFW, di Indonesia dari 2001-2004, 76% kehilangan tutupan pohon yang dominan menyebabkan deforestasi. Pada 2002-2023, Indonesia juga kehilangan 10,5 juta hektare, temasuk hutan primer tropis yang berfungsi menahan curah hujan.
Selain itu, banyak izin usaha pertambangan, perkebunan sawit, dan proyek energi yang justru kegiatan eksploitasi SDA-nya memperparah kerapuhan infrastruktur ekologis.
Saatnya Muhasabah
Sebagai orang yang beriman, memang kita harus bersabar. Namun, kita pun harus senantiasa melakukan muhasabah, baik bagi diri, keluarga, masyarakat, dan juga negara, tidak terkecuali para pemimpin atau pejabat kita saat ini.
Saatnya kita kembali merenung, mengapa rentetan musibah terus menimpa negeri ini. Hal itu diakibatkan karena dosa yang kita lakukan. Salah satunya, dosa karena tidak menjaga alam ini. Di negeri yang dijuluki zamrud katulistiwa ini, justru banyak tangan-tangan rakus yang tidak bertanggung jawab. Eksploitasi besar-besaran yang tidak mengindahkan keamanan lingkungan, mulai dari perut bumi, hutan, laut semua jadi santapan mafia berdasi. Secara sistematis menghisap kekayaan negeri ini bak lintah darat. Belum lagi kejahatan dan kemaksiatan lainnya seperti korupsi berjamaah, prostitusi, miras, narkoba, pembunuhan, lgbt begitu marak terjadi.
Di saat dosa semakin menyebar dan merajalela, justru upaya amar ma’ruf nahiy mungkar dari orang-orang dan elemen masyarakat yang selama ini nyaring bersuara, malah diteror, dibubarkan dan dikriminalisasi. Padahal, berhentinya amar ma’ruf nahiy mungkar menjadi salah satu pengundang bencana. Allah Swt berfirman yang artinya, "Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah Mahakeras hukuman-Nya." (TQS. Al-Anfal:25)
Maka, mari kita kembali kepada aturan Islam kaffah dalam naungan Khilafah sebagai muhasabah ditengah rentetan musibah.
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (TQS. Al-Araf: 96)
Via
opini
Posting Komentar