OPINI
Rajab dan Isra Mikraj, Momen Membumikan Hukum Langit
Oleh: Sakinah Bunda Naadhira
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Rajab adalah bulan ke 7 dalam kalender Hijriyah. Bulan Rajab merupakan bulan yang mulia, sesuai dengan namanya at-Tarjib yang berarti memuliakan dan termasuk salah satu dari empat bulan yang Allah muliakan (asyhur al-hurum).
Pada bulan Rajab ini banyak terjadi peristiwa penting dalam sejarah umat Islam. Termasuk di antaranya adalah peristiwa Isra Mikraj. Peristiwa ini merupakan mukjizat yang Allah karuniakan kepada Rasulullah dan sebagai momen untuk “menghibur” Nabi-Nya yang sedang berada dalam situasi sempit. Dimulai dari dakwah beliau ditentang, terjadi embargo dari ahli quwwah kafir Quraish untuk mengalienasi dakwah, 6 bukan setelahnya Paman beliau dipanggil oleh Allah, kemudian disusul istri tercinta Khadijah al-Kubro, wanita pertama yang beriman dan pendukung dakwah Rasulullah. Bahkan upaya thalabun nushroh beliau ke Thaif juga di tolak. Inilah runtutan rintangan episode dakwah manusia terbaik yang menjadikan tahun tersebut sebagai tahun kesedihan (‘am al-huzn).
Peristiwa Isra Mikraj selalu menjadi momen istimewa di kalender Islam. Tahun ini peringatan Isra Mikraj jatuh pada tanggal 16 Januari bertepatan di hari jumat. Pemerintah menetapkan sebagai hari libur nasional, sehingga memungkinkan masyarakat memanfaatkan libur panjang ini menjadi momen berkumpul dengan keluarga sembari meningkatkan ibadah dan mendengarkan ceramah islami (liputan6.com, 10-01-2026).
Peringatan Isra Mikraj diolah sekreatif mungkin, seperti menggelar perlombaan yang akan menarik minat anak-anak dan remaja agar nilai-nilai spritual tetap membekas di hati (Detik.com, 10-01-2026).
Seremonial peringatan Isra Mikraj nabi bergelora hampir di seluruh penjuru dunia. Makna yang digaungkan umumnya tentang pengukuhan sallat sebagai tiang agama dan peningkatan ibadah ruhiyah sehingga terbentuk keshalihan individu. Sekilas momen ini menggetarkan hati, karena sejarah perjuangan dakwah Rasulullah masih bercokol di dalam hati umat muslim di seluruh dunia. Tetapi fakta ini juga membuktikan betapa butanya umat muslim terhadap sejarah isra' mikraj dan makna yang Allah siratkan secara menyeluruh dalam peristiwa tersebut.
Jika kita gali lebih dalam secara historis peristiwa Isra Mikraj ditinjau dari proses terjadinya adalah sebuah perjalan spritual sekaligus perjalanan politik, karena pada saat Isra, ditampakkan kepada Nabi saw. bentangan wilayah kekuasaannya yang akan dicapai umatnya. Tahap demi tahap pencapaian kekuasaan Islam ditampakkan dalam peristiwa Isra, dari Masjid al-Haram (Makkah) ke Masjid al-Aqsha (Palestina).
Isra Mikraj terjadi pada fase yang krusial yaitu fase akhir tafa'ul ummah di Mekkah, karena setelah peristiwa tersebut terjadi kesepakatan politik dengan kaum Anshar dan menjadi awal terbuka jalan hijrah ke Madinah, Akhirnya Rasulullah pun menjawab panggilan umat di Madinah dilanjutkan dengan momentum baiat kedua berdirinya daulah Islam pertama di Madinah
Dari rentetan peristiwa tersebut tergambar bahwa peristiwa Isra' Mikraj bukan sekedar perintah sholat, tetapi isyarat suksesi kepemimpinan. Yaitu peralihan kepemimpinan dari Bani Israil kepada umat Islam. Perintah sholat dapat diartikan sebagai kinayah membumikan hukum Allah. Dalam hadits Rasulullah juga melarang kaum Muslim mengangkat senjata kepada pemimpin islam selama pemimpin tersebut masih “mendirikan sholat “, makna ini secara simbolik cakupannya bukan ritual personal, melainkan ketegasan komitmen penguasa menerapkan hukum Allam secara menyeluruh dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Dapat kita tarik kesimpulan Islam yang diwariskan Rasulullah bukan terbatas sebuah agama, melainkan akidah sekaligus seperangkat aturan yang telah Allah sempurnakan untuk diterapkan di seluruh bumi Allah. Idealnya pencipta tentu menyiapkan buku panduan. Al-qur'anul karim bukanlah sekedar bacaan yang mendapat pahala bagi yang membacanya, tetapi wajib dihidupkan di bumi Allah ini. Islam adalah agama sekaligus ideologi yang memancarkan aturan dan metode penerapan dalam seluruh lingkup kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Problematika utama umat Islam hari ini bukan terletak pada kurangnya ibadah personal, melainkan pada absennya penerapan hukum Islam secara menyeluruh akibat sistem sekuler yang diterapkan saat ini.
Pasca runtuhnya institusi Khilafah lebih dari 105 tahun lalu, negara Islam yang awalnya terintegrasi ke dalam satu kepemimpinan, terpisah menjadi 50 bagian, hukum islam yang pernah tegak dialihkan kepada sistem sekuler demokrasi yang memisahkan agama dari kehidupan dan menempatkan kedaulatan hukum di tangan manusia. Karena runtuhnya khilafah bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan bencana besar bagi umat islam. Umat muslim jelas seperti anak ayam yang kehilangan induknya, umat kehilangan perisainya. Ketimpangan ekonomi struktural, konflik geopolitik berkepanjangan, krisis kemanusiaan, hingga kerusakan lingkungan, inilah potret kegagalan sistem kapitalisme global, keadilan dan kesejahteraan hanya ilusi belaka.
Negeri-negeri Muslim yang terpecah ke dalam sekat-sekat nasional buatan kolonial menjadi lemah dan mudah diintervensi. Palestina, tanah suci yang menjadi bagian dari perjalanan Isra' Mikraj, hingga kini masih berada dalam cengkraman penjajah dan imperialis. Dalam konteks inilah, Rajab dan Isra' Mikraj perlu diluruskan dan direkonstruksi maknanya. Agar tidak menjadi seremonial tanpa bekas. Serta menjadikan momen membumikan kembali hukum Allah dari langit, yaitu dengan cara mencampakkan hukum sekuler kapitalisme dan menegakkan syariat Islam Kafah.
Tercatat dalam sejarah bahwa ketika syariat diterapkan secara konsisten, kemuliaan berada di tangan kaum Muslim. Keadilan dan kesejahteraan nonmuslim juga terjamin. Dari masa Khulafaur Rasyidin hingga era para pemimpin besar seperti Shalahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih, Islam tampil sebagai rahmat yang nyata dalam tata kelola dunia.
Umat Islam merupakan bangsa yang besar, kita lebih dari mampu mengembalikan kemuliaan islam, dengan menerapkan kembali daulah islam di bumi Allah ini. Karena kita adalah umat Rasulullah, umat Khulafaur Rasyidin, cucu Al Mu'tasim, cucu Sholahudin Al Ayubi, cucu Al Fatih, cucu Khalifah Salim III, cucu Abdul Hamid, cucu Khalifah. pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam.
Hari ini, berbagai kelompok dakwah dan partai Islam ideologis terus berjuang siang dan malam membimbing umat agar memahami Islam sebagai sistem kehidupan. Menyimpulkan begitu urgennya menjadikan Islam sebagai pedoman hidup di berbagai aspek. Perjuangan menegakkan Khilafah sebagai mahkota kewajiban, karena menyangkut penerapan hukum Allah secara kaffah (menyeluruh). Isra' Miraj, dengan segala isyarat Allah seakan mengingatkan umat bahwa sudah saatnya hukum Allah tidak hanya diyakini tertera di dalam Al-Qur’an, tetapi ditegakkan secara nyata di bumi.
Wallohu a'lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar