OPINI
Kasus Venezuela, Bukti Tatanan Dunia Tanpa Norma
Oleh: Yuli Ummu Raihan
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Tatanan dunia di bawah kepemimpinan sistem kapitalis dipenuhi kekacauan dan kerusakan. Sistem ini menciptakan krisis multidimensi yang tidak berkesudahan. Pada awal Januari lalu dunia dikejutkan oleh aksi semena-mena AS yang melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan istrinya di Caracas dengan dalih menegakkan hukum dan membawa Maduro ke pengadilan atas tuduhan terorisme narkotika pada tahun 2020.
Tidak cukup sampai di situ, Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan memperluas aksinya ke negara Amerika Latin lainnya seperti Kolombia, Kuba, dan Meksiko. Bahkan dalam pidatonya dengan arogan ia mengatakan tidak butuh hukum internasional dan batas terbesar negara hanyalah moralitas pribadinya sendiri. Trump memiliki mimpi mewujudkan visi America Frist dengan slogannya "Make America Great Again (MAGA)". Ia ingin menjadikan negaranya kembali menjadi satu-satunya yang terkuat, terkaya, dihormati dan menjadikan Amerika sebagai prioritas dalam keamanan, ekonomi dan setiap keputusan internasional. Saat ini AS memang sedang ketar-ketir dengan bangkitnya ekonomi China yang sedang membangun kekuatan politik bersama Rusia, Brasil, Iran dan lainnya.
AS ingin melanggengkan hegemoninya di dunia terutama negara-negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam seperti emas, minyak dan sebagainya. AS menganggap dirinya sebagai polisi dunia yang bisa melakukan apa saja termasuk ikut campur dalam urusan negara lain dengan berbagai dalihnya. Padahal penangkapan yang dilakukan AS menurut Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana, merupakan pelanggaran hukum internasional. Hal ini diatur dalam Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB (detikNews, 6-1-2026).
Dalam kasus Venezuela ini misalnya, banyak politisi yang meyakini tidak sekadar masalah narkoba, melainkan ada ambisi AS untuk menguasai cadangan minyak Venezuela yang sangat besar. Bahkan hal ini terkonfirmasi pascakudeta dalam sebuah konferensi pers Trump mengakui sendiri bahwa motif utamanya adalah minyak.
Hal ini membuktikan bahwa AS sedang benar-benar menjalankan peran ideologisnya sebagai negara pengusung kapitalisme yang memiliki metode penjajahan. AS akan melakukan berbagai cara untuk melanggengkan penjajahannya. AS tidak peduli meskipun dunia mengecamnya. Arogansi tanpa batas ini tidak menunjukkan kekuatan hakiki sistem kepemimpinan kapitalisme global yang dipimpinnya. Semua terlihat seakan kuat karena tidak ada satu pun kekuatan yang bisa mengimbangi, apalagi mengalahkan. Ini karena seluruh dunia saat ini menganut ideologi yang sama dan masuk dalam arena permainan yang dibuat oleh AS. Di sini hukum rimba terjadi, siapa yang kuat dialah rajanya. Sehingga wajar muncul istilah negara kapitalis subjek sebagai pemenang dan kapitalis objek sebagai pecundang.
Sebenarnya secara ideologi, kapitalisme sangat lemah sehingga sistem kepemimpinan yang lahir dari sistem ini juga lemah. Semua karena asasnya yang sudah cacat yaitu akidah sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, dan mengagungkan kebebasan serta menjadikan akal manusia yang terbatas untuk membuat aturan. Karena asasnya sudah cacat atau rusak, maka turunannya pun dipastikan rusak.
Telah terbukti dengan jelas bahwa ideologi kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan dalam segala aspek. Maka kita butuh sebuah kepemimpinan ideal untuk memimpin dunia ini.
Butuh Kepemilikan Ideal
Ideologi di dunia ini hanya ada tiga. Setelah sosialisme yang diusung oleh Uni Soviet runtuh, maka tidak ada lagi ideologi yang berpotensi mengalahkan kapitalisme selain Islam. Namun sayangnya Sejak 3 Maret 1924 lalu Islam tidak lagi menjadi sebuah ideologi. Islam hanya sebatas identitas yang tidak mampu melahirkan peradaban mulia.
Islam sebagai agama memang masih eksis, tapi sebagai ideologi terus dikubur dan dikaburkan oleh Barat melalui berbagai cara. Pendidikan sekuler, perang pemikiran, perang budaya, terus terjadi sehingga umat Islam semakin sekuler. Agama hanya mengurusi urusan ibadah, nikah, kematian dan beberapa masalah lain. Sementara untuk urusan, politik, sosial, ekonomi hingga pemerintahan Islam tidak dilibatkan. Padahal inilah modal untuk kebangkitan agar negeri-negeri Islam khususnya tidak terus menjadi jajahan.
Tidak cukup hanya itu, Barat pun terus memerangi gerakan Islam politik melalui propaganda perang melawan terorisme. Khilafah digambarkan sebagai monster dan ancaman. Umat Islam dipecah belah dengan ide moderasi.
Semua ini dilakukan karena Barat yakin bahwa kepemimpinan Islam (Khilafah) adalah satu-satunya kepemimpinan yang bisa mengalahkan kapitalisme. Khilafah juga akan menghentikan mimpi-mimpi besar mereka untuk menguasai dunia. Sehingga tidak heran berbagai upaya dilakukan untuk menjegal munculnya kepemimpinan Islam ideologis ini.
Dunia memang butuh kepemimpinan ideal yaitu Islam. Karena sistem Islam berdiri atas dasar yang benar yaitu akidah Islam yang menjadikan kedaulatan berada ditangan Allah bukan manusia. Allah yang menciptakan manusia, sehingga Dialah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk manusia. Berbeda dengan manusia yang sarat akan berbagai kepentingan.
Aturan Islam datang untuk memberikan solusi bagi segala permasalahan kehidupan manusia. Menjaga harta, jiwa, akal, kehormatan, agama dan negara. Semua tercatat dengan tinta emas sejarah. Bagaimana kepemimpinan Islam mampu memberikan kesejahteraan, kedamaian, dan role model kemajuan.
Kepemilikan global yang benar hanyalah Islam. Satu-satunya harapan untuk mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang penuh kebaikan. Kepemimpinan Islam tidak hanya melindungi umat Islam melainkan seluruh alam. Manusia terlindungi dari berbagai kezaliman, kemungkaran, kerusakan dan bencana. Maka sudah saatnya kita menata ulang dunia dengan sistem Islam bukan yang lain.
Khilafah bukan uthopis, melainkan janji Allah dan kabar gembira untuk umat Islam. Allah telah berfirman dalam QS An-Nur ayat 55:
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan Allah akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai (Islam), dan Dia benar-benar akan mengubah keadaan mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa...."
Allah juga telah menjanjikan dalam QS Al- A'raf ayat 96: "Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, maka pasti Kami akan limpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."
Wallahua'lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar