OPINI
Rajab dan Isra Mikraj, Momen Membumikan Hukum Langit
Oleh: Anggia Widianingrum
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Peringatan Isra Mikraj setiap tahun selalu disambut meriah oleh umat Islam. Tahun ini pemerintah menetapkan Isra Mikraj pada Jumat, 16 Januari 2026 bertepatan dengan 27 Rajab 1447 Hijriyah.
Secara harfiah Isra' Mikraj merupakan perjalanan spiritual Nabi Muhammad saw. yang terjadi dalam satu malam, dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Allah Swt. dengan kekuasaan-Nya me-Mikraj kan atau mengangkat Rosul Saw menembus langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-10 kenabian, sekitar tahun 620–621 Masehi, yang dikenal sebagai Tahun Kesedihan karena terjadi setelah wafatnya istri tercinta beliau, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib. Pada peristiwa itu pula Rosul Saw mendapat perintah melaksanakan kewajiban solat lima waktu, yang juga menjadi kewajiban bagi seluruh umat Islam.
Dikutip dari laman detik.com (10-1-2026), Isra Mikraj menjadi momen berharga menanam kebaikan, misalnya dengan berbagai kegiatan pengajian akbar, puasa dan sedekah Rajab, hingga ceramah keagamaan. Sementara pada masyarakat urban yang cenderung sibuk, maka isi tausiyah bisa dibuat lucu, dan semenarik mungkin, namun tetap harus menyampaikan nasihat-nasihat kebaikan. Hingga tujuan mengajak meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. tersampaikan.
Peristiwa Tak Kalah Penting setelah Isra' Mikraj
Makna Isra Mikraj memiliki dimensi lain, yang tak kalah penting, yakni sebagai penghibur duka Nabi serta sebagai persiapan mental dan spiritual untuk menghadapi tantangan dakwah yang lebih besar.
Pada abad yang sama, pada tahun ke-13 kenabian, peristiwa Baiat Aqobah 2 terjadi. 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan Anshar memberikan janjinya untuk melindungi, membela Beliau saw. dan Islam.
Momen Isra Mikraj menjadi gerbang menuju perubahan arah politik umat secara ideologis, bukan makna spiritual semata. Yakni, menjadi titik balik bagi Nabi saw. hijrah ke Madinah, menandai persatuan umat Islam Muhajirin dan Anshar kala itu berdasarkan akidah Islam. Pembentukan negara Islam pertama, menjadi pusat dakwah Islam dan penyebaran Islam keseluruh penjuru Jazirah Arab.
Hal demikian terus berlangsung hingga pada tahun 1924 Masehi, setelah negara Islam runtuh oleh makar Barat melalui agennya Mustafa Kemal Attaturk. Menghapus syariat Islam dari konstitusi negara dan aturan hidup kaum muslimin, hingga yang tersisa dari penerapan Islam hanya sebatas agama ritual semata dan itupun dengan peraturan ketat. Kemudian menggantinya dengan hukum sekuler hingga hari ini. Sungguh, hal ini merupakan awal bencana bagi umat.
Pasca runtuhnya institusi politik umat Islam khilafah selama 105 tahun ini, hukum langit (syariat Islam) tidak bisa diterapkan secara kafah oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Umat Islam saat ini memaknai Isra' Mikraj hanya sebatas perintah ibadah shalat dan perbaikan diri sendiri. Padahal shalat erat kaitannya dengan kepemimpinan. Shalat sering digunakan untuk menyebut ungkapan secara tidak langsung (kinayah) pada kepemimpinan.
"Taatlah kepada pemimpin kalian selama mereka menegakkan shalat." (HR. Muslim)
Yang dimaksud selama mereka menegakkan shalat adalah selama pemimpin itu tidak menyuruh bermaksiyat kepada Allah dan menegakkan kitabullah dan as sunnah. Sesuai sabda Baginda Nabi saw. yang artinya:
"Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah meskipun jika dipimpin oleh hamba sahaya dari habasy, dengar dan taatilah dia selama memimpin kalian dengan kitabullah". (HR. Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al Hakim)
Membela dan menyokong sistem Demokrasi Sekuler adalah sebagai bentuk penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Demokrasi yang berasal dari peradaban Barat, bukan berasal dari Islam, yang menjadikan akal manusia sebagai sumber hukum dan ukuran kebenaran, bukan wahyu. Menjadikan hukum buatan manusia diatas kitabullah dan sunnah. Demikian pula mencampakkan syariat Islam hanya akan membawa berbagai kemudaratan, kerusakan alam, politik, ekonomi, agama, keluarga, masyarakat, dan akhlak generasi. Lihatlah betapa banyak syariat Islam yang ditinggalkan, membuat umat manusia jauh dari keselamatan dan keberkahan dunia akhirat.
Runtuhnya khilafah adalah bencana terbesar bagi umat. Setelahnya, dunia menderita di bawah kepemimpinan kapitalisme global. Kaum muslim tercerai-berai lebih dari 50 negara disandera oleh sekat imajiner buatan penjajah bernama Nasionalisme. Hingga menganggap persoalan yang menimpa muslim Palestina, minoritas Uyghur, Rohingya, Kashmir, India adalah permasalahan internal dalam negeri mereka. Jika pun memberikan pertolongan, hanya sebatas dalam bentuk pengiriman makanan, dan obat-obatan, bukan pengiriman tentara yang membebaskan menghadapi kezoliman rezim tiran.
Belum lagi negeri-negeri yang kaya sumber alam yang dieksploitasi secara besar-besaran atas nama investasi yang di sahkan undang-undang. Para penguasa rakus hasil didikan kapitalisme, hanya mementingkan perut dan kroninya, bukan kepentingan rakyat. Walhasil rakyat hanya menjaji alat legitimasi dan dampak kerusakannya.
Rajab dan Isra Mikraj Momen Mengembalikan Hukum Allah
Seharusnya, momen Rajab dan Isra Mikraj bukan sekedar ajang seremonial semata. Memang betul, kita harus memperbanyak amalan-amalan nafilah, zikir, solawat, membaca al Qur'an. Namun juga harus betul-betul mengimaninya sehingga muncul kesadaran untuk bertakwa sepenuhnya kemudian memaknai perjuangan dakwah Rasulullah dan mengittiba' secara totalitas.
Bukankah Al Aqsa merupakan kiblat pertama kaum muslim?
Tempat Rasulullah saw. ber- Isra' Mikraj?
Hari ini tanah yang diberkahi itu sedang dijajah, dirampas oleh entitas Yahudi, AS dan sekutunya. Rumahnya dirampas, orang tua, wanita, anak-anak mereka dibombardir tanpa belas kasihan.
Semestinya hal ini mendapat prioritas oleh penguasa negeri-negeri muslim untuk menolong dengan pengiriman tentara pembebasan dan menegakkan kembali institusi politik Islam global khilafah Rasyidah. Bukan menyerahkan urusan umat Islam pada dewan keamanan dunia yang terbukti gagal.
Umat Islam adalah umat terbaik, umat Rasulullah. Umat Islam memiliki warisan darah pejuang yang mulia, yang dengan pertolongan Allah pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam dan umatnya sebagaimana kakek-kakek buyutnya terdahulu. Sepanjang peradaban Islam berdiri selama 13 abad, yang menaungi 2/3 belahan dunia, bukan waktu yang sebentar dan wilayah yang kecil.
Sepanjang itu pula, umat manusia ditinggikan derajatnya. Berbagai suku bangsa, agama melebur dalam daulah yang dilindungi harta dan jiwanya. Belum pernah ada satupun peradaban yang mampu menandinginya hingga hari ini.
Maka untuk mencapainya, umat Islam harus memiliki kendaraan yang siap menghantarkan pada tujuannya. Yakni, bergabung dalam partai Islam ideologis yang terus konsisten membimbing umat. Menyampaikan pemikiran Islam ditengah umat dengan kesabaran dan keikhlasan. Membongkar makar-makar jahat musuh-musuh Islam, sehingga umat menyadari bahwa menegakkan khilafah adalah sebuah kewajiban, yang merupakan perjuangan pokok, sebagai solusi berbagai problematika yang dibutuhkan dunia hari ini.
Di momen Rajab dan Isra Mikraj ini selayaknya umat Islam memantaskan diri menjadi bagian dari proyek besar membumikan hukum langit dengan tegaknya khilafah. Maka dari itu umat Islam harus meyakini dekatnya pertolongan Allah dengan tegaknya Khilafah Rasyidah kepada kaum muslimin yang berjuang bersungguh-sungguh.
Wallahu alam bisshowab []
Via
OPINI
Posting Komentar