OPINI
Peran Strategis Jamaah Dakwah Islam Ideologis dalam Mencetak Ibu dan Generasi Muda menjadi Pelopor Perubahan
Oleh: Yuyun Maslukhah S.Sn
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Arus sekularisasi yang menyasar pemuda, baik di dunia nyata maupun di dunia digital, membuat generasi muda kehilangan identitasnya sebagai seorang muslim dan melumpuhkan peran strategisnya sebagai pelopor perubahan. Realitas ini menunjukkan peningkatan mengkhawatirkan dalam persoalan kesehatan mental, hingga kasus bunuh diri pemuda di era digital saat ini.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap terkait angka bunuh diri. Tercatat setiap tahun setidaknya 720 ribu generasi muda meninggal dikarenakan bunuh diri. Itu menduduki peringkat ketiga kematian tertinggi anak muda, dengan usia terbanyak antara 15-29 tahun (Health.detik.com, 10-9-2025).
Hal ini tentunya tidak semata-mata berasal dari faktor internal individu saja, tetapi juga diperoleh akibat adanya tekanan eksternal, serta rapuhnya sistem kehidupan yang diterapkan saat ini.
Baru-baru ini terdapat unggahan viral dari kisah seorang dokter psikolog yang kliennya tersebut mengalami stres berat hingga depresi. Penyebabnya bukan karena masalah pribadi, tetapi karena memikirkan kondisi negara (Health.detik.com, 17-12-2025).
Di sisi lain, kondisi kaum ibu tak kalah memprihatinkan. Mereka sebagai ummu wa rabbatul bayt, yaitu sebagai ibu dan pendidik generasi, mengalami degradasi akibat tekanan struktural dan budaya modern. Realitasnya di lapangan saat ini menunjukkan peran ibu semakin tersingkirkan oleh logika sistem Kapitalisme berbasis sekuler.
Sekularisme Akar dari Kerusakan Sistematik
Digitalisasi saat ini berada di bawah hegemoni Kapitalisme, yang tidak hanya bertujuan untuk membentuk ekonomi, tetapi juga menyebarkan ideologi batil yang secara sistematis menjauhkan umat dari pemikiran Islam ideologi.
Negara sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan telah melahirkan tujuan hidup yaitu materi. Tak heran, generasi tumbuh dalam arus pemikiran yang menjadikan materi di atas segala-galanya. Akibatnya, mereka berkepribadian rapuh, kehilangan makna hidup, dan tidak siap menghadapai realitas kehidupan.
Pendidikan yang seharusnya bertujuan membentuk karakter dan ketakwaan justru berubah menjadi sistem yang menyingkirkan agama dari seluruh aspek kehidupan. Di bawah sistem kapitalisme, peran seperti mengasuh anak dan pengurus rumah tangga sering tidak diakui sebagai pekerjaan, karena tidak bernilai ekonomi.
Akibat dari penerapan sistem Sekuler, mereka tidak memahami kewajiban dan pahala besar yang Allah janjikan di balik peran seorang ibu. Akibatnya para ibu justru menjadi kelompok yang mengalami eksploitasi ganda. Lelah mengasuh dan mendidik anak, tetapi juga didorong untuk bekerja di luar rumah demi memperoleh pengakuan.
Sekularisme memandang generasi muda dan kaum ibu sebagai objek komersial, sekaligus menjauhkan mereka dari pembekalan Islam kaffah. Dalam konteks ini, sistem Sekuler bukan hanya menjadi ide, melainkan juga sumber kerusakan sistematik yang menurunkan kualitas kepribadian manusia.
Akar persoalan saat ini, terletak pada adopsi Kapitalisme yang berbasis Sekuler sebagai paradigma bernegara, menyebabkan peran agama dibatasi pada ranah privat (ibadah), tidak menjadi landasan dalam pengaturan kehidupan sosial dan bernegara. Tak dimungkiri, hal itu menyebabkan banyak peran termasuk peran keibuan kehilangan pengakuan dan perlindungan yang semestinya.
Ideologi Islam sebagai Solusi Menyeluruh Krisis Generasi
Di tengah penerapan sistem Kapitalisme, kehadiran jamaah dakwah Islam ideologis sangat penting untuk membina ibu dan generasi muda supaya memiliki kepribadian Islam dan siap memperjuangkan kebangkitan Islam kembali. Perlu dipahami bahwa Islam bukan sekadar agama yang sebatas mengatur ritual ibadah saja, melainkan Islam sebuah ideologi sempurna yang harus diyakini, dipegang, dan diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Allah Swt. berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang beruntung.” (TQS. Ali Imran: 104)
Firman di atas menjadi landasan bagi kewajiban jamaah Islam yang memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan sistemik, yakni jamaah yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf, dan mencegah yang mungkar secara terorganisasi dan berkelanjutan. Sebagaimana yang telah diteladankan Rasulullah saw.. Jamaah dakwah Islam Ideologis melakukan pembinaan umat, termasuk para ibu dan generasi muda guna membentuk kepribadian Islam dan menyiapkan mereka menjadi pelopor peradaban yang membela dan mengemban Islam secara kaffah (menyeluruh).
Pembinaan (tatsqif) adalah tahapan awal metode dakwah Rasulullah di fase Makkah. Kemudian dilanjutkan dengan interaksi intensif dengan umat (tafa’ul ma’al ummah), dan berakhir pada isti'lamul hukmi, yakni penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan.
Dengan mengikuti manhaj dakwah Rasulullah secara konsisten, umat Islam akan mampu keluar dari krisis peradaban yang ditimbulkan oleh sistem yang batil, serta kembali bangkit sebagai umat terbaik sebagaimana yang pernah terwujud pada masa-masa sebelumnya, yakni memimpin dunia dengan cahaya Islam.
Wallahu a’lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar