OPINI
Ibu, Cita, Cinta, dan Perjuangan di Era Digitalisasi
Oleh: Ummu Saibah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—22 Desember 2025, hari itu dipenuhi dengan riuh peringatan hari ibu, ucapan penuh kasih sayang keluar dari setiap insan yang pernah dilahirkan oleh rahim seorang ibu, meluruhkan luapan emosi haru yang sontak mendorong air mata bahagia para ibu berlinang. Memang semudah itu membuat para ibu bahagia, namun sayang ungkapan terimakasih ataupun penghargaan sering kali hanya didapatkan saat peringatan hari ibu saja, padahal mudah saja mengungkapkannya setiap hari tidak perlu modal lain kecuali ketulusan dan kata-kata indah. Sederhana, tapi aksi kecil dari orang-orang yang dicintainya inilah yang akan mendongkrak semangat ibu dalam menghadapi hari-hari nya yang berat dan penuh tantangan.
Pada 22 Desember kali ini tema peringatan hari ibu adalah “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045", melalui tema ini Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini mengingatkan para ibu akan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan bangsa (menpan.go.id, 22-12-2025).
Tantangan Ibu dalam Era Digitalisasi kapitalisme
Kondisi umat Islam yang terpuruk saat ini seharusnya menyadarkan umat bahwa urgensi peran ibu sebagai pencetak generasi pelopor kebangkitan hendaknya menjadi prioritas utama. Fakta membuktikan bahwa menjadi ibu pada era digitalisasi seperti sekarang ini sangat tidak mudah.
Digitalisasi dalam hegemoni sistem kapitalis berperan penting dalam penyebaran faham-faham yang membawa ideologi batil dan merusak pemikiran. Berkembangnya faham liberalisme, Sekulerisme, feminisme maupun hedonisme sangat berbahaya terutama bagi ibu dan generasi muda. Oleh karena ibu memiliki tugas untuk mengawal pertumbuhan generasi muda, maka musuh-musuh Islam menargetkannya sebagai sasaran penghancuran. Sedangkan generasi muda adalah tonggak masa depan umat, musuh Islam menyadari bahwa merusak generasi muda sangat mudah yaitu dengan melemahkan peran ibu dalam pendidikan.
Penyebaran faham-faham batil ini sangat masif, dikemas menjadi konten-konten menarik dan minim edukasi, yang kemudian dikonsumsi oleh para ibu dan generasi muda, meninabobokan pikiran para ibu yang sudah lelah dengan keseharian hingga jumud.
Konten-konten ini pun meracuni pemikiran generasi muda, ide-ide di dalamnya menjadi pemahaman kemudian diemban sehingga mempengaruhi pola kehidupan generasi maupun para ibu. Alih-alih muncul kesadaran akan kebangkitan umat, mereka semakin terjerumus dan kehilangan jati diri sebagai muslim dan pelopor perubahan.
Negara sekuler memandang generasi muda dan kaum ibu sebagai objek komersial, mengekploitasi mereka melalui iklan, media sosial, maupun sebagai tenaga kerja murah demi keuntungan ekonomi. Padahal seharusnya negara menjamin perlindungan ibu dan generasi muda dari hal-hal yang demikian.
Prinsip sekulerisme yang menjadi dasar setiap kebijakan pada negara sekuler menjauhkan generasi muda dan para ibu dari pemahaman Islam yang sebenarnya, bahkan menjauhkan kehidupan mereka dari Islam, sehingga Islam hanya diterapkan pada ranah individu saja, sedangkan pada ranah ekonomi, sosial dan negara tidak diterapkan.
Lingkungan yang dibangun dalam sistem kapitalis pun tidak kondusif, keadaan perekonomian yang tidak stabil memaksa para ibu untuk membantu suaminya mencari nafkah sehingga mengikis peran para ibu sebagai Ummu warobatul bait. Banyak para ibu yang akhirnya mengalami depresi dan keputusasaan, keadaan ini sangat rentan terhadap tindak kejahatan terutama pada anak. Pada akhirnya alih-alih mendidik generasi pelopor perubahan mereka justru merusak dan melahirkan generasi dengan luka pengasuhan dan tindak kejahatan.
Oleh karena itu dibutuhkan peran aktif negara dalam mengupayakan atmosfer kehidupan yang kondusif untuk tumbuh kembang para ibu dan generasi muda. Hal itu hanya bisa terwujud di bawah penerapan syariat Islam.
Dibutuhkan Jamaah Dakwah Islam Ideologis
untuk Membimbing Ibu dan Generasi Muda
Gencarnya serangan musuh-musuh Islam terhadap ibu sebagai pendidik generasi muda telah membuahkan hasil. Hal itu bisa kita lihat dengan kondisi mayoritas ibu dalam sistem kapitalis saat ini yang tergerus arus digitalisasi akibatnya banyak kita temui para ibu yang kehilangan rasa malunya, nir empati, mudah stress dan rawan melakukan tindak kejahatan. Oleh karena itu hadirnya jama'ah dakwah yang dibekali dengan pemahaman Islam yang benar dan menjadikan Islam sebagai pandangan hidup juga sosok-sosok yang memiliki kesadaran dan semangat untuk memperjuangkan penerapan syariat Islam sangat dibutuhkan. Para ibu yang bergabung dalam jama'ah inilah yang akan menarik para ibu lainnya dari jurang-jurang kapitalisme. Sehingga mereka memiliki kesadaran terhadap kebangkitan umat. Allah Swt. berfirman dalam QS Al Imran ayat 104 artinya:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Ayat ini menunjukkan bahwa keberadaan jamaah dakwah memiliki peran penting sebagai pembimbing yang akan menghantarkan ibu dan generasi muda kembali pada rel perjuangan dakwah Islam.
Islam memandang peran ibu dalam membangun peradaban sangatlah penting, oleh karena itu perempuan di dalam Islam di perintahkan untuk menuntut ilmu layaknya kaum laki-laki. Pada masa Rasulullah Saw perempuan diperkenankan untuk menghadiri majelis-majelis ilmu walaupun dengan hijab, mendengarkan khutbah Jum'at dan belajar dari istri-istri Rasulullah saw., para shahabiyah pun tak sungkan menitipkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat sensitif pada ummahatul mukminin agar disampaikan kepada Rasulullah saw.
Tidak mengherankan bila perempuan di bawah naungan sistem Islam adalah individu-individu yang memiliki kepribadian Islam, beriman, pintar, tangguh dan juga siap berkorban dalam perjuangan menegakkan syari'at islam. Contoh terbaik tentu saja ummahatul mukminin ra. dan para shahabiyah ra. Oleh karena itu kehadiran jamaah dakwah Islam Ideologis sangat urgent sebagai pembina para ibu sehingga mereka mendapatkan pemahaman yang benar tentang Islam, memiliki kesadaran dan bersemangat mencetak generasi muda pelopor kebangkitan Islam.
Wallahu a'lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar