SP
Nasib Palestina Menderita Terus, Kapan Berakhir?
TanahRibathMedia.Com—Kantor media pemerintah (GMO) di jalur Gaza, pada Ahad (28-12-2025), merilis bahwa pasukan pendudukan Israel telah melakukan 969 pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata di jalur Gaza sejak mulai berlaku pada 10-10-2025, menewaskan 418 warga Palestina dan melukai 1.141 lainnya. Terjadi pelanggaran selama 80 hari terakhir, kondisi Gaza sebagai kasus kematian perlahan dengan penembakan langsung terhadap warga sipil, serangan militer ke daerah pemukiman, pengeboman rumah, penghancuran skala besar dan penangkapan ilegal. Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata dan protokol kemanusiaan yang terlampir.
Rumah sakit, toko roti dan fasilitas air hampir lumpuh disebabkan bantuan yang memasuki Gaza hanya 19.764 truk dari 48.000 truk yang dibutuhkan, sementara hanya 425 truk pengiriman bahan bakar dari 4.000 truk yang disepakati.
Israel juga terus menutup perbatasan dan memblokir masuknya tenda dan rumah mobil hingga terjadi krisis tempat tinggal yang semakin memburuk. Akibat badai, menyebabkan puluhan bangunan yang rusak runtuh, warga sipil tewas, termasuk anak-anak yang membeku hingga meninggal di kamp-kamp pengungsian dan lebih dari 1,5 juta pengungsi tanpa perlindungan minimum.
Dalam hal ini, Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas pelanggaran yang terus berlanjut untuk melemahkan gecatan senjata, kebijakan kelaparan dan paksaan ditengah genosida yang sedang berlangsung. GMO mendesak komunitas internasional dan PBB menekan Israel agar sepenuhnya menerapkan perjanjian tersebut dan mengizinkan aliran bantuan, bahan bakar dan material tempat tinggal untuk mencegah hilangnya nyawa lebih lanjut (Minanews.net, 29-12-2025).
Penderitaan rakyat Palestina seakan tak pernah berakhir. Serangan, pembunuhan dan pencaplokan wilayah terus dilakukan oleh rezim Israel laknatullah. Bahkan Israel melarang bantuan kemanusiaan beroperasi di Palestina. Situasi ini menegaskan bahwa penderitaan Palestina merupakan tragedi panjang yang terus berulang. Ini semua karena keberadaan Israel itu sendiri. Selama Israel tetap eksis, diakui maupun tidak oleh dunia, penderitaan Palestina akan terus berlangsung. Israel memiliki ambisi besar, menuju cita-cita Israell Raya dan menguasai politik ekonomi global dengan segala cara.
Berbagai tawaran penyelesaian yang dipimpin AS hanyalah ilusi. Semua solusi ala Barat justru menjerumuskan Pelestina ke jurang penderitaan yang lebih dalam. Mengutuk, mengirim bantuan, berharap belas kasihan Israel tidak akan pernah cukup untuk membebaskan Palestina. Pengkhianatan penguasa muslim yang memilih diam atau tunduk pada tekanan global juga harus dihentikan. Fakta ini harus membuka mata umat Islam. Kesadaran kaum muslim untuk bangkit dan bersatu dalam naungan Khilafah harus terus dikobarkan.
Rasulullah saw bersabda, "Sungguh imam (Khalifah) adalah junnah (perisai). Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya." (HR. Muslim)
Hanya dengan adanya adidaya Khilafah, umat memiliki kekuatan politik, militer dan ekonomi untuk menghentikan penjajahan dan membebaskan Palestina. Palestina adalah milik umat Islam, tempat suci yang harus dijaga. Perjuangan menegakan Khilafah bukan hanya solusi untuk Palestina tapi jalan untuk mengakhiri hegemoni kapitalisme global yang melanggengkan penjajahan. Saatnya umat bersatu, menguatkan dakwah ideologis dan menyiapkan langkah nyata agar penderitaan Palestina benar-benar berakhir.
Wallhahu'alam
Sadawa
(Muslimah Kebumen)
Via
SP
Posting Komentar