Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Memaknai Kepemimpinan Islam dari Peristiwa Isra' Mi'raj
OPINI

Memaknai Kepemimpinan Islam dari Peristiwa Isra' Mi'raj

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
18 Jan, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Lisa Herlina
(Sahabat Tanah Ribath Media)  

TanahRibathMedia.Com—Umat Islam tidak boleh lupa peristiwa bersejarah yang di terjadi pada bulan Rajab salah satunya adalah momentum Isra' Mi'raj Rasulullah Muhammad saw. Peristiwa yang menunjukkan bukti kemukjizatan Rasulullah dari Allah Swt. bahwa kebenaran kerasulan beliau itu benar adanya. Sebagaimana dalam firman-Nya: 

"Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu alam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepada dia sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (TQS. Al-Isra' ayat: 1)

Isra Mi‘raj bukan hanya peristiwa spiritual yang sarat mukjizat. Isra Mi‘raj juga mengandung pesan politik dan peradaban khas yang sangat mendalam. Isra Mi‘raj merupakan penegasan bahwa Islam bukan hanya sekadar agama ritual melainkan sebuah ideologi yang mampu memimpin kehidupan manusia di muka bumi di bawah kepemimpinan Islam.

Dimensi Spiritual

Sebagai satu-satunya ibadah yang Allah Swt. wajibkan secara langsung kepada Rasulullah di Sidratul Muntaha tanpa perantara melalui momentum Isra' Mi'raj ialah sholat 5 waktu. Hal ini mengindikasikan kedudukan shalat sebagai dasar utama agar membentuk manusia yang bertakwa, layak dan mampu memikul amanah besar kepemimpinan mendunia.

Salat sekaligus menjadi pembeda antara yang beriman dan yang kufur. Juga menjadi amal yang dihisab pertama kali di hari kiamat. Selain itu, al-Quran juga menegaskan “fungsi sosial” shalat yaitu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Maka dari itu, salat tidak hanya membentuk kesalehan individual. Shalat juga semestinya menghasilkan manusia-manusia yang baik  secara sosial seperti jujur, amanah dan adil. Ini adalah di antara sifat-sifat yang dibutuhkan bagi sebuah kepemimpinan Islam.

Isra Mi‘raj dalam dimensi politik tampak jelas ketika Rasulullah memimpin shalat para nabi di Masjid al-Aqsha. Peristiwa ini bukan simbol belaka namun isyarat dari Allah tentang kepemimpinan Islam atas seluruh umat manusia dan seluruh risalah sebelumnya. Prof. Dr. Rawwas Qal‘ah Ji menegaskan bahwa peristiwa ini adalah indikasi politik yang sangat kuat tentang kepemimpinan umat Islam atas dunia. Ia menulis bahwa kepemimpinan Rasulullah atas para nabi merupakan isyarat kepemimpinan Islam atas seluruh agama dan bangsa setelah beliau diutus sebagai rasul terakhir (Rawwas Qal‘ah Ji, Qirâ’ah Siyâsiyyah li as-Sîrah an-Nabawiyyah hlm.115-116).

Isyarat ini kemudian secara nyata terwujud setelah Rasulullah hijrah ke Madinah. Lalu di saat yang sama beliau menegakkan Negara Islam disana. Negara Islam tersebut memimpin masyarakat yang majemuk  termasuk kaum Muslim dan nonMuslim. Sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah (Watsîqah al-Madînah). Piagam ini antara lain mengatur sisi hubungan sosial dan politik manusia berkeadilan di bawah kepemimpinan Islam.

Bukti Historis Kepemimpinan Islam

Setelah era Negara Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah, kepemimpinan Islam mencapai bentuk institusionalnya dalam bingkai Khilafah Islam. Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq ra. adalah khalifah pertama. Setelah beliau wafat digantikan oleh Sahabat, Umar bin al-Khaththab ra. Yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., Kota al-Quds tempat yang pernah disinggahi Rasulullah dalam peristiwa Isra Mi’raj dibebaskan tanpa pertumpahan darah. Khalifah Umar ra. menerima kunci kota tersebut dari Patriark Nasrani dengan penuh kehormatan. Ini merupakan sebuah peristiwa yang diakui oleh sejarawan Muslim maupun nonMuslim sebagai teladan kepemimpinan yang adil lagi beradab.

Namun sebuah musibah terjadi dan menimpa umat Islam hingga hari ini saat Khilafah diruntuhkan pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M). Dalam pidatonya saat Peringatan Keruntuhan Khilafah, Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah menyebut peristiwa ini sebagai “gempa dahsyat” yang menghancurkan kekuatan politik umat Islam dan membuka pintu penjajahan secara global.

Rasulullah telah mengingatkan fungsi urgent sebuah kepemimpinan Islam:

"Imam (Khalifah) itu adalah perisai (pelindung); orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dia." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Umat Islam terpecah menjadi puluhan negara lemah yang mudah dikendalikan, diintervensi bahkan dijajah jika tanpa khilafah. Itulah yang terjadi sejak Khilafah Islam tiada hingga saat ini. Palestina yang dijajah Yahudi selama puluhan tahun hingga hari ini hanyalah salah satu contohnya. Padahal dulu, selama ratusan tahun, Palestina aman, damai di bawah kekuasaan Khilafah Islam.

Sistem Kapitalis, Zalim dan Gagal

Kepemimpinan Islam yang kosong kemudian diisi oleh kepemimpinan Kapitalisme yang saat ini dipimpin oleh Amerika Serikat (AS). Kepemimpinan ini sudah banyak terbukti melahirkan kezaliman sistemik. Karena sistem Kapitalisme global ini tidak dibangun di atas wahyu Allah. Kapitalisme berdiri di atas asas sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan yang menjadikan kepentingan materi, modal dan kekuasaan sebagai tolak ukur utama pengambilan keputusan. Sementara Amerika Serikat sebagai pemimpin Kapitalisme global, secara konsisten menempatkan dirinya sebagai “polisi dunia”. Padahal faktanya peran ini bukan untuk menegakkan keadilan, akan tetapi untuk menjaga kepentingan geopolitik dan korporasi raksasa. Dukungan AS tanpa syarat terhadap genosida di Palestina, agresi militer AS ke Irak dan Afganistan, sanksi ekonomi AS atas sejumlah negara yang mencekik rakyat sipil hingga intervensi politik dan penculikan pemimpin negara berdaulat oleh AS seperti di Venezuela baru-baru ini menampilkan wajah asli Kapitalisme yang kuat memangsa yang lemah. Dalam kasus penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya pada Januari 2026 ini, lebih 190 negara di dunia tak satupun berani menegur Amerika. Semua membisu karena takut. Melemah dihadapan penguasa durjana. Begitu pula penguasa negeri-negeri muslim lebih memilih diam. Menjadi bukti bahwa dunia hari ini hidup di bawah teror hegemoni Kapitalisme global.

Selain zalim, Kapitalisme ini juga adalah ideologi yang gagal. Bahkan kegagalan Kapitalisme  ini disorot oleh para pemikir Barat sendiri. Termasuk Joseph E. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi, dalam Globalization and Its Discontents (2002), ia mengakui bahwa globalisasi kapitalistik yang dipimpin Amerika Serikat dan institusi seperti IMF justru memperparah kemiskinan, ketidakstabilan politik dan ketimpangan sosial di banyak negara berkembang. Ia menegaskan bahwa pasar bebas tanpa kendali moral dan keadilan hanya menguntungkan segelintir elit global.

Juga seorang Thomas Piketty, dalam karyanya Capital in the Twenty-First Century (2014) membuktikan secara empiris bahwa kapitalisme modern secara sistematis melebarkan  jurang antara si kaya dan si miskin. Ketika tingkat pengembalian modal lebih besar dari pertumbuhan ekonomi, kekayaan akan terkonsentrasi pada oligarki, sementara mayoritas sumber daya manusianya terpinggirkan.

Begitulah, pengakuan dari pemikir-pemikir Barat ini menekankan bahwa saat Kapitalisme yang memimpin manusia secara mendunia, hasilnya bukan hanya gagal secara moral tetapi juga gagal secara empiris.

Wajib Adanya Kepemimpinan Islam Global

Islam sangat berbeda dan bertolak belakang dengan Kapitalisme. Ideologi Islam tidak membenarkan penjajahan, perampasan sumber daya alam maupun pembunuhan massal demi kepentingan ekonomi atau  politik. Dalam Islam, penguasa adalah pelayan umat dan penjaga hukum-hukum Allah Swt. Maka dari itu, ideologi Islam dengan kepemimpinan global bernama Khilafah bukan sekadar alternatif, melainkan solusi peradaban yang rasional, historis dan manusiawi karena berbasis wahyu Allah, bukan hawa nafsu. Inilah yang harus menjadi bahan perhatian kita.

Maka tidak dipungkiri Islam dalam bentuk kepemimpinan Khilafah (mendunia) menjadi ancaman ideologis terbesar bagi Kapitalisme. Sebabnya, Islam menawarkan tatanan dunia alternatif yang adil, independen dan bebas dari dominasi modal serta hegemoni militer. Selama Khilafah belum tegak, dunia akan terus berada dalam lingkaran kezaliman global terus menerus. Selama Kapitalisme memimpin dunia, keadilan sejati hanyalah slogan tanpa bukti.

Menurut Prof. Dr. Rawwas Qal‘ah Ji, kepemimpinan Islam mensyaratkan dua hal utama. Pertama: Adanya sistem Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Ini sejalan dengan firman Allah Swt:

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh." (TQS al-Baqarah: 208).

Kedua: Adanya pemimpin yang amanah, yakni Khalifah yang menerapkan hukum-hukum Allah Swt. secara kaffah. Bukan penguasa boneka yang tunduk pada dominasi Barat.

Selain kewajiban shalat lima waktu, pesan berikutnya dari peristiwa Isra' Mi'raj agar senantiasa menegakkan kepemimpinan Islam yang mendunia (Khilafah). Khilafah yang menerapkan syariah Islam secara kaffah yang mampu  mewujudkan keadilan sejati sekaligus memimpin manusia menuju kesejahteraan dan keridhaan Allah Swt. sebagaimana dulu selama Islam menjadi adidaya dunia hampir 13 abad lamanya. Apalagi Allah Swt. telah menjanjikan kekuasaan bagi kaum beriman:

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." (TQS an-Nur: 55).

Rasulullah juga memberikan kabar gembira:

"Kemudian akan ada kembali Khilafah di atas manhaj kenabian." (HR Ahmad)

Sebagai Muslim, kita semua wajib menyambut janji Allah Swt. dan kabar gembira dari Rasulullah ini. Caranya dengan berjuang mewujudkan janji dan kabar gembira tersebut dengan bersungguh-sungguh serta mengerahkan segala bentuk pengorbanan. Bukan dengan cara berpangku tangan, apalagi menjadi penghalang perjuangan. 

Wallahu a‘lam bi shawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Satu Bulan Bencana, Keselamatan Rakyat Masih Jadi Taruhan

Tanah Ribath Media- Januari 17, 2026 0
Satu Bulan Bencana, Keselamatan Rakyat Masih Jadi Taruhan
Oleh: Amirah Desi (Sahabat Tanah Ribath Media)   TanahRibathMedia.Com— Kurang lebih satu bulan pascabencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Suma…

Most Popular

Ketika Statistik Kriminal Turun, Benarkah Akar Masalah Telah Teratasi?

Ketika Statistik Kriminal Turun, Benarkah Akar Masalah Telah Teratasi?

Januari 14, 2026
Lumpur Bencana Sumatra, Antara Empati dan Ladang Cuan

Lumpur Bencana Sumatra, Antara Empati dan Ladang Cuan

Januari 14, 2026
Mengincar Untung dari Lumpur Bencana

Mengincar Untung dari Lumpur Bencana

Januari 14, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Oktober 02, 2025

Popular Post

Ketika Statistik Kriminal Turun, Benarkah Akar Masalah Telah Teratasi?

Ketika Statistik Kriminal Turun, Benarkah Akar Masalah Telah Teratasi?

Januari 14, 2026
Lumpur Bencana Sumatra, Antara Empati dan Ladang Cuan

Lumpur Bencana Sumatra, Antara Empati dan Ladang Cuan

Januari 14, 2026
Mengincar Untung dari Lumpur Bencana

Mengincar Untung dari Lumpur Bencana

Januari 14, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us