SP
Langkah Kecil Melawan Fatherless
TanahRibathMedia.Com—Di tengah arus kehidupan modern yang kian menekan keluarga, sebuah kabar baik datang dari Kepulauan Riau. Gubernur Kepri menerbitkan Surat Edaran Gerakan Mengambil Rapor Bersama Ayah, sebuah ajakan sederhana namun sarat makna: menghadirkan kembali sosok ayah dalam ruang pendidikan anak (Batam Pos,18 Desember 2025).
Di banyak keluarga, momen pembagian rapor selama ini identik dengan ibu. Ayah kerap absen—bukan karena tak peduli, tetapi karena peran pengasuhan secara tak sadar telah dipersempit menjadi urusan domestik semata. Surat edaran ini seolah mengetuk pintu kesadaran bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah atau ibu, melainkan juga ayah.
Makna di Balik Gerakan Ayah Mengambil Rapor
Gerakan ayah mengambil rapor bukan sekadar soal kehadiran fisik di sekolah. Ia adalah simbol keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembang anak, sebuah pesan bahwa prestasi, perilaku, dan masa depan anak adalah urusan bersama kedua orang tua.
Namun sejatinya, peran ayah dalam pendidikan anak tidak berhenti pada rapor. Pendidikan sejati berlangsung setiap hari di rumah: melalui teladan, komunikasi, pendampingan belajar, serta perhatian terhadap kondisi mental dan moral anak. Jika ayah hanya hadir saat rapor dibagikan, maka makna pengasuhan belum sepenuhnya terwujud.
Fatherless dalam Kehidupan Sekular
Dalam kehidupan yang diwarnai nilai sekular, anak-anak kian akrab dengan fenomena fatherless—kehadiran ayah yang minim secara emosional meski hadir secara fisik. Ayah diposisikan semata sebagai pencari nafkah, sementara urusan pendidikan dan pengasuhan dianggap bukan wilayah utamanya.
Kesibukan bekerja, tekanan ekonomi, dan tuntutan karier membuat banyak ayah jauh dari keseharian anak. Akibatnya, anak tumbuh tanpa figur pembimbing yang kuat, kehilangan arah, dan rentan terhadap krisis identitas, perilaku menyimpang, serta problem emosional.
Mengapa Peran Ayah Harus Dikembalikan
Gerakan ini penting karena mengingatkan bahwa ayah adalah aktor utama dalam pendidikan anak, bukan peran tambahan. Ayah semestinya membersamai anak, memastikan pendidikan berjalan selaras antara sekolah, rumah, dan nilai kehidupan.
Ketika ayah terlibat aktif, anak tidak hanya mengejar angka di rapor, tetapi juga tumbuh dengan rasa aman, disiplin, dan tujuan hidup yang jelas. Sebaliknya, absennya ayah dalam pengasuhan sering kali meninggalkan ruang kosong yang tak bisa digantikan oleh materi atau teknologi.
Perspektif Sistem Pendidikan Islam
Dalam sistem pendidikan Islam, peran ayah dan ibu sama-sama vital sebagai pendidik. Meski kewajiban utama ayah adalah mencari nafkah, Islam tidak pernah membebaskannya dari tanggung jawab mendidik dan membina anak.
Ayah diposisikan sebagai pemimpin keluarga yang memastikan:
• pendidikan anak berjalan sesuai nilai keimanan dan akhlak,
• lingkungan rumah kondusif untuk belajar dan tumbuh,
• anak mendapat teladan nyata dalam sikap, tanggung jawab, dan keteguhan prinsip.
Islam memandang pendidikan sebagai amanah bersama. Anak bukan sekadar calon pekerja, tetapi generasi penerus yang harus dibina secara utuh—akal, jiwa, dan moralnya.
Surat Edaran Gerakan Mengambil Rapor Bersama Ayah adalah langkah awal yang patut diapresiasi. Namun langkah ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi pintu masuk untuk mengembalikan peran ayah secara utuh dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Karena sejatinya, masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh sekolah yang baik, tetapi oleh ayah yang hadir, peduli, dan terlibat.
Ilma Nafia
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Via
SP
Posting Komentar