OPINI
Ketika Laboratorium Alam Krisis, Daya Kritis Generasi Kian Miris
Oleh: Hawilawati, S.Pd
(Praktisi Pendidikan)
TanahRibathMedia.Com—Di sebuah kelas sekolah dasar, anak-anak tampak antusias mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial dengan tema kenampakan alam: daratan dan perairan. Guru memperlihatkan berbagai gambar alam untuk didiskusikan, lalu bertanya, “Apa yang kalian ketahui tentang sungai?” Siswa pertama menjawab, “Sepanjang perjalanan pulang sekolah, sungai yang saya lihat itu kotor, Bu.” Siswa kedua menambahkan, “Sungai di dekat rumah saya bau dan banyak sampah, Bu.” Siswa ketiga berkata perlahan, “Saat saya pulang kampung, sungainya tercemar limbah pabrik, tampak berbusa menutupi air seperti spons.” Tiga pengalaman berbeda itu mengungkapkan satu kenyataan, dan apa yang diungkapkan oleh beberapa siswa tersebut tidaklah salah, sebab itulah realita kerusakan sungai yang dapat mereka indera dalam keseharian.
Fakta mencemaskan: 70,7% lokasi sungai tercemar sedang, sementara hanya 29,3% memenuhi baku mutu (Antaranews.com, 27 September 2025). Laut Indonesia menghadapi tekanan serius, dengan jutaan ton sampah plastik per tahun yang sebagian besar tidak dikelola (WorldBank.org, 2021). Gunung dan lembah tergerus pertambangan dan erosi, sementara luas sawah subur berkurang drastis akibat alih fungsi lahan (Kompas.com, 15 Agustus 2025).
Data ini bukan sekadar angka. Anak-anak yang seharusnya belajar dari sungai, laut, gunung, dan sawah secara langsung kini hanya mengenalnya melalui gambar atau layar. Kesempatan mengobservasi, menganalisis, dan berpikir kritis pun hilang, sehingga daya pikir generasi menjadi terbatasi.
Alam sejatinya adalah laboratorium hidup yang sarat makna. Sungai yang mengalir, laut yang luas, gunung yang kokoh, dan sawah yang subur menyediakan ruang belajar alami: mengamati, membandingkan, menganalisis, dan mengambil keputusan. Proses ini menumbuhkan kepekaan hidup, karakter ilmiah, dan kesadaran spiritual. Ketika hilang, generasi belajar dari representasi semu, bukan pengalaman nyata.
Ironisnya, alam yang tersisa kini dikomersialkan. Gunung, lembah, laut, dan sawah menjadi destinasi berbayar. Media pembelajaran yang seharusnya gratis dan universal berubah menjadi eksklusif, hanya dapat diakses mereka yang mampu membayar.
Krisis ini bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga pendidikan dan etika. Alam sebagai objek berpikir telah dirusak oleh manusia yang menjadikannya komoditas semata untuk keuntungan pribadi. Dampaknya, daya kritis generasi melemah, dan mereka belajar dari dunia yang rusak, bukan keseimbangan alami yang seharusnya membimbing mereka.
Dalam perspektif Islam, alam adalah ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah yang menuntut tafakur dan kesadaran. Allah Swt. berfirman:
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, sebagai rahmat dari‑Nya.” (TQS. Al-Jatsiyah: 13)
Alam mengajarkan hukum-hukum kehidupan dan hikmah penciptaan, sekaligus menumbuhkan rasa syukur. Manusia diangkat sebagai khalifah di bumi, sebagaimana firman:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (TQS. Al-Baqarah: 30)
Amanah ini menuntut tanggung jawab untuk menjaga, mengelola, dan memanfaatkan alam dengan bijak, sekaligus menyediakan sarana belajar nyata bagi generasi.
Islam menegaskan larangan merusak bumi:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Rasulullah saw. menekankan bahwa menjaga alam adalah amal kebajikan yang bernilai ibadah, sehingga kepedulian ekologis menjadi bagian dari pendidikan moral dan spiritual.
Eksploitasi alam demi keuntungan instan menciptakan krisis pendidikan yang sistemik. Anak-anak kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dengan alam secara langsung, sehingga daya pikir mereka dangkal, kesadaran ekologis rendah, dan kapasitas inovatif terbatas.
Sungai tercemar, laut penuh sampah, gunung tergerus, dan sawah berkurang bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga masalah strategi pendidikan dan peradaban bangsa.
Generasi yang tidak mengenal alam nyata akan kesulitan memecahkan persoalan hidup dan mengelola sumber daya secara berkelanjutan. Negara harus menyadari bahwa akar laboratorium alam mengalami krisis tiada lain adalah sistem Sekulerisme Kapitalisme. Jika akar ini terus ditancapkan, generasi tidak hanya mengalami krisis berpikir tetapi juga akan diwarisi kerusakan alam yang sangat parah, yang memerlukan waktu panjang, biaya besar, dan tenaga ekstra untuk memulihkannya.
Kebijakan publik dan pendidikan harus selaras: menyediakan akses bebas terhadap laboratorium alam, memulihkan sungai, menjaga laut, memelihara gunung, dan merawat sawah sebagai sarana belajar. Kisah di kegiatan belajar IPS sekolah dasar menjadi renungan bersama: ketika alam dijauhkan dari anak-anak, mereka kehilangan pengalaman nyata yang membentuk karakter ilmiah, moral, dan spiritual. Masa depan intelektual, ekologis, dan peradaban bangsa dipertaruhkan.
Sudah sepatutnya negara menyadari bahwa kecerdasan, kekritisan, kepakaan, dan daya pikir generasi, beserta fungsi dan kekayaan alam, harus segera diselamatkan dan dikembalikan pengaturannya sesuai sunnatullah dan syariat Allah berdasarkan Kitabullah Al-Qur’an, karena generasi ini kelak yang akan menjadi penjaga, pengelola, dan penerus amanah bumi.
Wallahu’alam.
Via
OPINI
Posting Komentar