SP
‘Game Online’ Bukan Hiburan, Tapi Ancaman
TanahRibathMedia.Com—Siapa yang menyangka, seorang anak berumur 12 tahun, berani dan tega membunuh ibu yang melahirkannya. Itulah fakta yang terjadi di Medan Sumatera Utara. Penyidikan yang agak lama, karena sebagian pihak menduga pelaku adalah suaminya. Setalah penyidikan dilakukan dengan bukti-bukti yang kuat. ternyata memang benar anak perempuan yang duduk di bangku kelas 6 SD tega melakukan itu.
Kasus pembunuhan yang terjadi di Medan Sumatra Utara terinspirasi dari game online (kompas.com, 29-12-2025). Begitu juga kasus teror bom sekolah di Depok juga terinspirasi dari game online (cnnindonesia.com, 26-12-2025).
Berbagai kasus kekerasan akibat terinspirasi game online banyak terjadi seperti: bullying, bundir, teror bom di sekolah, dan pembunuhan. Kebanyakan game online mengandung kekerasan, bebas dan mudah diakses anak-anak sehingga berpengaruh pada emosi dan kesehatan mental mereka. Media digital tidaklah netral karena keberadaannya diciptakan dengan maksud dari kreatornya. Konten-konten merusak dan membahayakan anak dikemas sedemikian rupa agar game terlihat menarik. Sehingga orang tua pun tidak menyangka game tersebut bisa merusak mental anak mereka karena menganggap itu hanya hiburan semata.
Ruang digital dimanfaatkan oleh Kapitalisme global untuk meraup keuntungan tanpa memedulikan kerusakan generasi dan kehidupan manusia. Bagi mereka, yang terpenting cuan mengalir ke kantong mereka. Mereka akan melakukan apa saja termasuk merusak generasi.
Negara tidak mampu dan tidak mau melindung generasi dari bahaya kerusakan akibat game online dengan konten kekerasan karena negara memakai sistem kapitalis sekuler demokrasi, hanyalah sebagai regulator. Negara akan mengatur sedemikian rupa, bagaimana aturan yang mereka buat tidak merugikan mereka.
Islam sebagai sistem yang sempurna mempunyai aturan terkait hal ini. Islam mewajibkan negara sebagai penanggung jawab atas rakyatnya untuk menjaga dan melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan. Negara dalam Islam diwajibkan menjadi rain, pelindung umat dan rakyatnya. Ditegaskan Rasulullah ﷺ melalui lisannnya yang mulia,dalam sebuah hadits yang artinya,
“Seorang imam (pemimpin) adalah bagaikan pengembala, dan dia bertanggungjawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari).
Maka sesuatu yang memberikan kemudharatan akan ditutup aksesnya oleh negara Islam. Penguasaan ruang digital oleh para elit global Kapitalisme harus dilawan dengan kekuatan kedaulatan digital yang dimiliki sistem Islam. Maka kedaulatan digital negara islam sangat dibutuhkan kehadirannya karena menjaga generasi adalah hal utama demi keberlangsungan manusia ke depannya.
Kerusakan generasi bisa ditangkal dengan 3 pilar (ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan perlindungan negara) jika diterapkan sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial dan budaya Islam. Maka kita harus menyuarakan penerapan sistem Islam. Untuk menyelamatkan generasi masa depan.
Vonny Khasibah Nujud S.E
(Aktivis Dakwah dan Pemerhati Ibu Generasi)
Via
SP
Posting Komentar