SP
Saat ‘Game Online’ Menjadi Sumber Malapetaka
TanahRibathMedia.Com—Peristiwa tragis tengah menimpa sebuah keluarga kecil di kota Medan, Sumatera Utara. Seorang anak yang masih sangat belia, di usia 12 tahun tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri. Peristiwa naas tersebut terjadi terjadi di malam hari ketika sang Ibu sedang tertidur lelap bersama anak-anaknya. Pelaku menusuk ibunya berkali-kali hingga tewas bersimbah darah (Kompas, 29-11-2025).
Berdasarkan keterangan dari Kapolrestabes Medan, sang anak nekat melakukan tindakan terlarang tersebut dikarenakan sering melihat tindakan kekerasan yang dilakukan sang ibu dan terinspirasi dari game online yang dimainkannya.
Game online sejatinya merupakan sarana untuk menghibur diri, menghilangkan penat dan merilekskan ketegangan otot, namun bagaimana jika keberadaan justru berubah menjadi sumber malapetaka bagi peminat dan orang -orang di sekitarnya?
Lemahnya Peran Negara
Anak-anak sangat rentan dengan pengaruh negatif game online, berbungkus aplikasi yang menghibur, terdapat fitur-fitur dan aksi-aksi dalam game yang mendukung pada kekerasan. Anak tanpa sadar menyerap dan menyimpan informasi tersebut seolah-olah sebagai hal yang wajar dan boleh dilakukan. Dampaknya, anak cenderung meniru dan menjadi impulsif dalam bertindak.
Media sejatinya bersifat netral. Namun era hari ini keberadaan platform digital, justru sebaliknya, tidak netral. Berbagai platform memproduksi dan mempromosikan game-game yang didalamnya mengandung unsur pandangan hidup yang jauh dari nilai-nilai dan ajaran agama. Budaya sekulerisme dan liberalisasme dikemas dalam game-game yang menarik, sehingga diminati banyak orang-orang.
Platform digital mengendalikan pikiran, dan minat pengguna, melalui algoritma. Mereka merekam hal-hal yang menarik bagi pengguna hanya dengan satu kali klik. Selanjutnya, platform menyuguhkan konten-konten yang semisal menjadikan pengguna semaki larut dan kesenangan. Tanpa sadar warganet telah menghabiskan waktu berjama-jam hanya demi menikmati konten/ game. Di sinilah keuntungan didapatkan oleh perusahaan melalui banyaknya iklan yang muncul saat konten diakses.
Hadirnya konten-konten dan game online yang merusak tentu tidak bisa dilepaskan dari lemahnya peran negara dalam menjaga keamanan masyarakat. Banyaknya konten dan game online, serta iklan yang mudah diakses menunjukkan betapa negara abai dalam memfilter tontonan dan game only yang seharusnya bisa menghibur dan memberikan edukasi yang positif. Inilah gambaran negara yang mengadopsi sistem kapitalis, yang selalu mengedepankan keuntungan dibandingkan dengan keselamatan warga masyarakatnya. Semua konten, game online dibiarkan bebas berkeliaran asal masyarakat suka, laku dijual dan berkontribusi bagi pendapatan negara melalui pajak. Pada akhirnya, negara dalam sistem kapitalis gagal melindungi generasi dari ancaman kekerasan yang diakibatkan game online.
Islam Menjaga Generasi
Islam tidak melarang seseorang memainkan game online. Bermain game didalam Islam hukumnya mubah, selama tidak ada unsur-unsur yang diharamkan, seperti tidak kekerasan, merugikan orang lain, judi atau pornografi. Tujuan game dalam Islam adalah untuk relaksasi, bukan menjadi pusat kehidupan yang melalaikan pelakunya dari kewajiban utama sebagai manusia.
Rasulullah Muhammad saw. sebagai teladan terbaik umat, pernah mencontohkan bagaimana aktivitas bermain diperbolehkan untuk menghibur diri. Beliau melakukan lomba lari bersama istrinya Aisyah Radhiyallahu. Beberapa permainan lainnya yang juga dibolehkan di dalam Islam antara lain, berkuda, bergulat, lempar tombak /lembing dan juga memanah.
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang artinya:
"Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda). Dan jika kalian melempar (panah) itu lebih aku sukai daripada kalian menungganginya (kuda)." (HR. Muslim no. 1917)
Saat ini game tidak hanya dijadikan sebagai aktivitas menghibur diri, namun telah dijadikan alat untuk melemahkan dan menguasai umat Islam. Dengan berbagai fitur yang yang disediakan oleh platform digital, orang-orang kafir barat melalui perusahaan raksasa yang hari ini berkuasa tengah memegang kendali dalam menciptakan algoritma yang sesuai dengan pandangan hidup barat. Melalui hegemoni dunia digital, semua data-data dapat dengan mudah didapatkan dan dipergunakan untuk mengendalikan segala bentuk aktivitas yang mengarah kepada kebangkitan Islam.
Berbagai serangan digital hari ini sudah sangat masif dan tersistem. Perlu dilakukan perlawanan yang massif dan tersistem pula. Hal ini bisa dilakukan melalui level terendah yakni individu, kemudian masyarakat dan yang terakhir adalah negara.
Di level individu, seseorang dibekali dengan aqidah yang kuat terkait pandangan hidup yang benar, tujuan beraktifitas dan dampaknya untuk kehidupan akhirat. Seorang mukmin, akan menjauh hal-hal yang tidak berguna, dan cenderung melalaikan akhiratnya. Semua perbuatannya dinilai berdasarkan halal haram, bukan suka atau tidak suka, manfaat ataukah tidak.
Di level masyarakat, Islam menganjurkan untuk tidak abai terhadap peristiwa disekitarnya, segala bentuk penyimpangan menjadi tanggung jawab bersama, ada seruan untuk beramal makruf nahi mungkar. Aktivitas ini jika dijalankan, akan mampu mencegah dan menghentikan hancurnya generasi yang lebih dalam.
Terakhir di level pemerintah, negara dengan seperangkat aparatur negara dan kecanggihan teknologinya wajib melarang dan menghentikan segala hal-hal yang mampu merusak generasi,dan tentu saja melalui penegakkan sanksi yang tegas pada setiap pelanggangarnya. Ini merupakan langkah efektif untuk menyelamatkan generasi dari segala pengaruh buruk game online.
Generasi yang hebat tidak akan muncul dalam sistem yang serba permisif, membebaskan apapun demi meraih kesenangan, namun generasi yang hebat akan muncul dari sistem yang menerapkan aturan yang sempurna tanpa cacat, yang berasal dari dzat yang menciptakan manusia, yakni khilafah.
Wallahu alam bishowab
Zahra Tenia
(Aktivis Muslimah)
Via
SP
Posting Komentar