OPINI
Ketaatan Jalan Keselamatan
Oleh: Umi Hanifah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Selamat adalah hal yang diinginkan setiap orang, akan lengkap jika ditambah sehat. Sehat tapi dalam kondisi bahaya atau selamat dari bencana tapi tidak sehat, orang pasti ingin keduanya ya sehat dan selamat. Selamat dari bahaya apapun dan di mana pun berada.
Selamat bukan dominasi orang tertentu, pejabat, rakyat, si kaya atau papa, tua maupun muda semuanya ingin hidup selamat. Faktanya dalam sistem sekularisme kapitalis hari ini semuanya berbayar dan hanya bisa dinikmati yang punya uang dan kuasa. Mereka berlomba mendapatkan uang dengan harapan bisa meraih keselamatan dan bahagia. Faktanya, semakin banyak uang bukannya kesehatan dan keselamatan yang didapat, justru kesusahan seakan tidak pernah usai.
Kekayaan alam lndonesia seharusnya membawa berkah, sebaliknya justru mendatangkan musibah. Para oligarkilah yang tertawa puas di atas linangan air mata dan genangan keringat masyarakat. Mereka sudah merencanakan makan siang di mana, liburan kemana, sementara wong cilik masih bertanya apakah besok bisa makan atau tidak.
Kecanggihan teknologi menjadi sarana kemudahan dalam berbagai pekerjaan. Akan tetapi, semua itu tidak bisa mendatangkan ketenangan apalagi keselamatan karena jiwanya yang sakit, merasa kurang dengan yang sudah ada di depan mata. Terbukti marak bunuh diri menjadi solusi ketika berhadapan dengan masalah. Lebih ironi, banyak pelakunya orang yang terpelajar bukan mereka yang buta pengalaman.
Aturah hidup sarat ketidakadilan dan menjerumuskan, keserakahan segelintir orang mengakibatkan kesengsaraan banyak orang. Bahkan, di tengah masyarakat menjerit menutupi kebutuhan sehari-hari, para pejabat tetap sibuk membangun citra diri demi kursi kekuasaan lima tahun kedepan. Rakyat bukan prioritas hanya sekedar legimitasi suara menghantarkan mereka pada kekuasaan. Alam juga tidak bersahabat, musibah tiada henti menerpa negeri ini. Banjir bandang, longsor, kebakaran, gempa, dan berbagai bencana silih berganti. Dari semua musibah ada yang lebih besar dari banjir bandang dan tanah longsor, yaitu kemusyrikan yang tersistemik.
Sekularisme kapitalis itulah kemusyrikan atau syirik yang mengakibatkan manusia membuang aturan Pencipta Allah Swt. Akibatnya negeri ini tidak pernah merasakan keselamatan, terus menerus dirundung musibah. Akibat ulah tangan manusia sombong yang mengakibatkan hidup banyak orang celaka.
“Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (TQS Taha 124).
Bencana yang terjadi di ahir tahun 2025 menjadi saksi eksploitasi alam yang ugal-ugalan oleh pemodal sah dilakukan karena ada dukungan pejabat. Lagi dan lagi rakyat yang menanggung resiko kesalahan kebijakan.
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Tiga hal yang tidak boleh dimonopoli: air, rumput, dan api." (HR. Ibnu Majah).
Para ulama sepakat bahwa air, rumput atau hutan, dan api atau tambang adalah milik umum atau rakyat. Individu atau swasta di larang untuk menguasainya, dan negaralah yang akan mengelola, hasilnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat gratis dengan kualitas terbaik.
Di sisi lain korupsi semakin menggila dengan nilai yang fantastis. Mirisnya, hukuman tidak lebih seru dengan drakor hanya sekedar pentas peredam sesaat kemarahan masyarakat. Pengadilan layaknya panggung hiburan murahan tanpa dukungan, justru cacian hingga kutukan karena janji tidak pernah dipenuhi. Masyarakat terus disuguhi keponggahan, sedang kritik mendapat ancaman pasal. Hidup sempit melanda, hanya para raja dan saudagar yang hidup sejahtera di balik keputusan yang muncul dari kesepakatan. Sungguh, hari ini kita menyaksikan kedurhakaan berbuah bencana.
Tidakkah kita ingin berubah dari kondisi gelap menuju kebaikan cahaya yang menerangi setiap langkah? Satu jawabannya, hanya dengan ketaatan pada aturan Sang Pemberi kehidupan Allah Swt, akan mendatangkan keselamatan dan ketenangan.
Wallahu a’lam
Via
OPINI
Posting Komentar