SP
Ironi di Tengah Tragedi
TanahRibathMedia.Com—Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada November 2025 menyisakan tumpukan lumpur di jalan-jalan dan fasilitas umum. Tumpukan lumpur di Aceh Tamiang khususnya di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin mencapai ketinggian sekitar 4meter dan luas sekitar 2 hektar. Tumpukan ini terdiri dari lumpur dan kayu-kayu besar yang terbawa arus. Butuh upaya dan waktu yang tidak sedikit untuk memulihkan kembali akses jalan dan fasilitas umum lainnya.
Di tengah upaya pemulihan pasca bencana, Presiden Prabowo Subianto mengungkap bahwa terdapat pihak swasta yang terarik untuk membeli material lumpur akibat banijir. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Prabowo Subianto dalam rapat kerja yang dipimpin oleh Presiden sendiri beserta jajaran kabinetnya antara lain: Menteri Pertahanan Sjafrie Syamsoedhin, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Panglima TNI Agus Subiyanto, dan Menteri Investasi Kepala Danantara Rosan Roeslani (SindoNews, 01-12-2026).
Tumpukan lumpur dan kayu-kayu besar memang perlu untuk segera diangkat, namun adanya ketertarikan pihak swasta akan material lumpur menjadi ironi di tengah kondisi warga yang masih berjibaku menghadapi dampak bencana. Sikap penguasa yang menyambut baik wacana ini terkesan lebih mengedepankan aspek ekonomi dibandingkan penderitaan warga. Inilah realita pahit yang harus ditelan rakyat yang hidup di bawah sistem kapitalisme. Ketertarikan pihak swasta dianggap sebagai “aji mumpung” yang digunakan untuk melempar tanggung jawab kepada mereka demi meraih keuntungan. Sikap seperti ini semakin memperjelas watak kapitalistik penguasa.
Masyarakat belum sepenuhnya pulih dan masih menyimpan kekecewaan yang mendalam terkait penanganan bencana yang terkesan lamban. Saat ini mereka lebih membutuhkan bantuan pokok. Kebijakan terkait penjualan material lumpur tak seharusnya mengalihkan perhatian kita pada prioritas utama yakni menyalurkan bantuan pokok untuk masyarakat terdampak bencana, karena pada faktanya masih banyak masyarakat yang belum tersentuh bantuan secara optimal. Minat yang ditunjukkan pihak swasta akan material lumpur sisa bencana mungkin dianggap sebagai sebuah solusi yang menguntungkan, namun sejatinya solusi seperti ini hanyalah solusi yang pragmatis karena hanya fokus pada hasil tanpa memikirkan dampak lebih jauh. Penerapan kebijakan ini jika tidak disertai pengawasan yang ketat dan regulasi yang jelas, maka akan timbul kemungkinan pihak swasta melakukan eksploitasi.
Negara adalah ra’in (pengurus) dan junnah (pelindung) yang seharusnya bertanggung jawab penuh dalam penanggulangan bencana, namun sayang, kita tak akan pernah mendapatkan periayahan dan perlindungan selama masih berada dalam sistem kapitalisme. Kita justru acapkali menjadi korban dari berbagai kebijakan karena pada dasarnya sistem kapitalisme memang hanya berfokus pada keuntungan materi bukan pada kemaslahatan umat.
Berbeda halnya dengan sistem Islam, pemerintahan dalam Islam akan senantiasa mendahulukan kemaslahatan rakyat di atas kepentingan materiil. Mengingat material lumpur yang tertumpuk bukan hanya di jalan-jalan dan fasilitas umum, melainkan juga di area persawahan, perkebunan, hutan dan area yang terdapat sumber daya alam lainnya, maka membiarkan pihak swasta mengelola dan memanfaatkan material lumpur sama halnya dengan membiarkan mereka mengelola sumber daya milik umum. Kebijakan ini sangat bertentangan dengan syariat, karena Islam melarang swastanisasi dalam hal apapun termasuk pemanfaatan material lumpur.
Dalam penanganan bencana, pemerintahan dalam Islam akan memprioritaskan kebutuhan dasar rakyat. negara akan mengerahkan segala upaya dalam memulihkan seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat dan wilayah yang terdampak bencana dari segala aspek. Baik ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya hingga kondisi masyarakat akan kembali seperti sediakala.
Hanya dengan menerapkan Islam, kita akan cepat keluar dari keterpurukan akibat bencana. Hanya dengan Islam pula tentu kita tak akan pernah merasakan pahitnya diabaikan dan dikesampingkan. Maka dari itu bersegeralah kembali kepada Islam, sebagai satu-satunya yang layak dijadikan sandaran kehidupan.
Wallahualam bish shawab.
Irohima
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Via
SP
Posting Komentar