Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI ‘Game Online’: Ketika Digital di Tangan Kapitalis, Generasi Jadi Bengis
OPINI

‘Game Online’: Ketika Digital di Tangan Kapitalis, Generasi Jadi Bengis

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
13 Jan, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)


TanahRibathMedia.Com—Kemajuan teknologi digital sering dielu-elukan sebagai penanda peradaban modern. Namun di balik tampilan layar gawai yang seolah ramah dan tak berbahaya, tersembunyi risiko besar yang mengancam masa depan generasi. Salah satu gejala yang makin meresahkan ialah menjamurnya game online bermuatan kekerasan, yang dalam sejumlah kasus bahkan memicu tragedi nyata di kehidupan

Berbagai kasus menunjukkan bahwa game online tak sekadar hiburan. Ia kerap menjadi inspirasi kekerasan: mulai dari bullying ekstrem, percobaan bunuh diri (bundir), ancaman teror di sekolah, hingga pembunuhan. Kekerasan dalam game disajikan secara vulgar, bebas, dan mudah diakses anak-anak tanpa filter yang memadai. Dalam jangka panjang, hal ini memengaruhi emosi, empati, serta kesehatan mental anak.

Salah satu kasus yang mengguncang publik terjadi di Medan. Polrestabes Medan mengungkap dugaan pembunuhan seorang ibu berinisial F (42) oleh anak kandungnya sendiri, AL (12). Kapolrestabes Medan Kombes Pol Calvin Simanjuntak menjelaskan bahwa sebelum kejadian, korban tidur bersama dua anaknya dalam satu kamar. Peristiwa ini menambah daftar panjang tragedi kekerasan dalam keluarga yang pelakunya masih anak-anak (Kompas.com, 29 Desember 2025).

Lebih jauh dipahami, platform digital tidak pernah netral. Ia dibangun, diatur, dan dioperasikan berdasarkan nilai kapitalisme sekuler. Game online yang beredar luas hari ini sarat dengan narasi kekerasan, pembunuhan, balas dendam, dan dehumanisasi nyawa manusia. Semua itu dikemas secara visual menarik, interaktif, dan adiktif sehingga tampak “sekadar hiburan”. Padahal sejatinya, game-game tersebut berfungsi sebagai sarana internalisasi nilai yang merusak fitrah anak, mengaburkan batas benar atau salah, serta menumpulkan empati. Dalam jangka panjang, kekerasan tidak lagi dipandang sebagai kejahatan, melainkan sebagai sesuatu yang normal dan bisa “dimainkan”.

Sejatinya, ruang digital dimanfaatkan secara masif oleh korporasi raksasa untuk meraih laba sebesar-besarnya. Oleh sebab itu, industri game bekerja mengikuti logika pasar kapitalistik, bukan kepentingan kemaslahatan generasi, termasuk anak-anak sebagai komoditas. Selama sebuah game menghasilkan profit besar, maka unsur kekerasan, sadisme, bahkan glorifikasi pembunuhan akan terus diproduksi tanpa rasa bersalah. 

Dalam logika kapitalisme, kerusakan mental generasi, hancurnya keluarga, bahkan hilangnya nyawa manusia bukanlah persoalan, selama cuan tetap mengalir. Inilah wajah asli sistem yang menuhankan materi dan menyingkirkan nilai kemanusiaan.

Hal ini membuktikan negara tidak mampu melindungi generasi dari bahaya game online berkonten kekerasan. Negara hanya berperan sebagai regulator lemah, membiarkan platform global beroperasi bebas atas nama kebebasan dan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan pembatasan usia, rating konten, atau imbauan literasi digital tidak menyentuh akar persoalan. 

Dengan demikian negara gagal bertindak sebagai pelindung (ra'in) bagi rakyatnya, khususnya anak-anak. Karena, tunduk pada kepentingan industri dan tekanan pasar kapitalis global. Akibatnya, ruang digital menjadi liar, sementara generasi dibiarkan tumbuh dalam ekosistem yang merusak akal, jiwa, dan perilaku.

Berbeda dengan Islam, perlindungan generasi dalam Islam bukan sekedar urusan privat keluarga semata, melainkan tanggung jawab politik negara sebagai ra'ùin. Negara menjaga dan melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan serta memastikan seluruh lingkungan hidup termasuk ruang digital aman dari konten yang merusak akal, jiwa, dan akhlak. 

Dalam Islam, keselamatan generasi didahulukan dari kepentingan ekonomi, investasi, maupun tekanan pasar global. Islam harus memiliki kedaulatan digital. Sehingga, hegemoni ruang digital oleh kapitalisme mampu dilawan. Tentu saja hal utama adalah tidak membiarkan ruang strategis digital dikuasai korporasi transnasional yang berorientasi profit. 

Oleh karena itu, negara berdaulat wajib mengendalikan platform digital, menyaring konten berdasarkan standar halal-haram, serta memutus dominasi industri global yang mengeksploitasi anak dan menormalisasi kekerasan. Kedaulatan digital dalam Islam bukan sensor represif, melainkan mekanisme perlindungan generasi dan penjagaan nilai.

Hal yang lebih mendasar, kerusakan generasi hanya dapat ditangkal melalui penerapan tiga pilar perlindungan secara simultan. Pilar pertama adalah ketakwaan individu, yang membentuk kontrol diri berbasis iman. Pilar kedua adalah kontrol masyarakat, melalui amar makruf nahi mungkar yang hidup dan efektif. Pilar ketiga adalah perlindungan negara, yang hadir dengan hukum dan kebijakan tegas. 

Tentu saja, ketiga pilar ini hanya dapat berjalan optimal jika diterapkan sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial, dan budaya Islam secara menyeluruh, bukan parsial dan simbolik.
Dengan konstruksi ini, Islam tidak sekadar menawarkan solusi moral, tetapi solusi sistemik dan politis yang mampu menghentikan kerusakan generasi dari akarnya.

Dengan demikian, maraknya kekerasan anak yang terinspirasi dari game online bukanlah persoalan individual atau teknis semata, melainkan masalah dan politis. Selama sistem kapitalisme sekuler masih menjadi fondasi pengelolaan ruang digital, maka kerusakan generasi akan terus berulang. Islam menawarkan jalan keluar mendasar dengan menjadikan negara sebagai pelindung akidah, akhlak, dan keselamatan jiwa manusia termasuk dalam dunia digital berdasarkan standar halal-haram, bukan kepentingan bisnis.

Wallahu'alam bissawab
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Teror terhadap Konten Kreator Kritis, Paradoks Demokrasi Otoriter

Tanah Ribath Media- Januari 13, 2026 0
Teror terhadap Konten Kreator Kritis, Paradoks Demokrasi Otoriter
TanahRibathMedia.Com— Fenomena teror dan intimidasi terhadap konten kreator serta influencer yang kritis terhadap kebijakan rezim menunjukkan wajah…

Most Popular

Pendidikan Ditumbalkan Demi Makan Bergizi Gratis?

Pendidikan Ditumbalkan Demi Makan Bergizi Gratis?

Januari 08, 2026
Rumah dan Cinta

Rumah dan Cinta

Januari 08, 2026
Ketika Seragam Kehilangan Marwah

Ketika Seragam Kehilangan Marwah

Januari 08, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Oktober 02, 2025

Popular Post

Pendidikan Ditumbalkan Demi Makan Bergizi Gratis?

Pendidikan Ditumbalkan Demi Makan Bergizi Gratis?

Januari 08, 2026
Rumah dan Cinta

Rumah dan Cinta

Januari 08, 2026
Ketika Seragam Kehilangan Marwah

Ketika Seragam Kehilangan Marwah

Januari 08, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us