opini
Banjir Tak Kunjung Usai, Tahun Baru Jadi Saksi, Islam Satu-Satunya Solusi
Oleh: Marlina Wati, S.E
(Muslimah Peduli Umat)
TanahRibathMedia.Com—Sudah hampir sebulan banjir melanda, namun air belum juga surut sepenuhnya. Rakyat dipaksa hidup dalam kondisi darurat berkepanjangan, rumah terendam, aktivitas lumpuh, dan beban ekonomi kian menekan. Pergantian tahun kembali disambut dengan bencana banjir di berbagai daerah. Alih-alih menikmati harapan baru, rakyat justru harus berada di genangan air, kehilangan harta benda, bahkan nyawa.
Banjir yang terus berulang bukan sekadar musibah alam, melainkan cermin gagalnya sistem pengelolaan lingkungan dan tata kota. Banjir bandang yang melanda Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, pada dini hari menjadi tragedi kemanusiaan yang memilukan. Datang secara tiba-tiba saat warga terlelap. Air dengan suara gemuruh membawa kayu dan batu besar, menyapu permukiman tanpa memberi kesempatan menyelamatkan diri.
Peristiwa ini tak hanya merusak rumah dan lingkungan, tetapi juga merenggut rasa aman masyarakat. Dari kisah keluarga Yosua Lahinta menggambarkan betapa bencana ini meninggalkan trauma mendalam, terlebih dengan hilangnya seorang anak kecil yang hingga kini belum ditemukan. Tragedi ini kembali menegaskan bahwa bencana bukan sekadar peristiwa alam, melainkan juga akibat lemahnya perlindungan dan mitigasi dari negara. Warga menjadi korban dari sistem penanganan bencana yang reaktif, hadir setelah musibah terjadi, namun minim pencegahan (Kompas.com 05-01-2026).
Banjir Bukan Musibah Alam Semata, Tetapi Ulah Tangan Manusia yang Serakah
Banjir kerap disebut sebagai musibah alam, seolah datang tanpa sebab dan di luar kendali manusia. Padahal, di balik air yang meluap, ada jejak tangan manusia yang serakah. Hutan ditebang tanpa ampun, sungai dipersempit, dan ruang hidup rakyat dikorbankan demi keuntungan segelintir pihak. Alam dipaksa menanggung beban keserakahan, sementara rakyat menjadi korban paling menderita.
Selama kerusakan lingkungan dilegalkan dan keselamatan rakyat tidak menjadi prioritas, banjir akan terus berulang. Menyebutnya sebagai musibah alam semata justru menutup mata dari akar persoalan sesungguhnya. Sudah saatnya ada keberanian untuk menghentikan keserakahan dan menghadirkan sistem yang benar-benar menjaga alam serta melindungi manusia.
Negara seharusnya menjadi pelindung, namun kenyataannya rakyat justru dibiarkan menghadapi bencana sendirian. Ketika banjir datang, negara hadir sebentar dengan bantuan darurat dan janji-janji, lalu perlahan menghilang sementara penderitaan rakyat terus berlangsung. Rumah rusak, ekonomi lumpuh, dan trauma berkepanjangan seolah menjadi beban yang harus ditanggung sendiri oleh warga terdampak.
Kegagalan negara melindungi rakyat tampak dari penanganan yang selalu reaktif, bukan preventif. Kerusakan lingkungan dibiarkan, tata ruang yang dilegalkan, dan kepentingan pemilik modal lebih diutamakan daripada keselamatan manusia. Selama negara abai pada tanggung jawab dasarnya, rakyat akan terus menjadi korban dalam bencana yang seharusnya bisa dicegah.
Dalam sistem sekuler-kapitalisme, negara hanya berperan sebagai regulator. Penanganan banjir sebatas bantuan darurat, tanpa pencegahan serius. Proyek normalisasi dan tanggul justru kerap menjadi ladang bisnis, bukan solusi hakiki.
Islam Hadir Menyelesaikan sampai Akar Masalah
Islam tidak memandang bencana sekadar peristiwa alam, tetapi sebagai akibat dari rusaknya tata kelola kehidupan. Karena itu, Islam menawarkan solusi yang menyentuh akar masalah, bukan sekadar penanganan darurat. Dalam Islam, alam adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga, bukan komoditas yang boleh dieksploitasi demi keuntungan segelintir orang.
Negara berkewajiban mengatur pemanfaatan hutan, sungai, dan ruang hidup sesuai syariat demi keselamatan rakyat. Berbeda dengan sistem hari ini yang menormalisasi kerusakan, Islam menempatkan negara sebagai pelindung sejati rakyat. Pencegahan bencana menjadi prioritas melalui pengelolaan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.
Dengan aturan Islam, keserakahan dibatasi, kepentingan umum diutamakan, dan keselamatan manusia dijaga. Inilah sebabnya Islam mampu menyelesaikan persoalan dari hulunya, bukan hanya meredam dampaknya. Negara dalam Islam (Khilafah Islamiyyah) bertanggung jawab penuh atas keselamatan rakyat, mulai dari pencegahan, mitigasi bencana, hingga pemulihan. Kebijakan dibuat bukan demi keuntungan, tapi demi ridha Allah dan kemaslahatan umat.
Allah berfirman:
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan beramal saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana dia menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (TQS. An-Nur: 55)
Ayat ini ditafsirkan oleh para ulama sebagai janji bahwa umat yang benar-benar beriman, berakhlak, berilmu, dan menjunjung kebenaran, akan diberikan pertolongan dan kejayaan oleh Allah.
Di tahun baru ini seharusnya menjadi awal harapan, namun realitas yang muncul justru penuh duka karena bencana terus berulang. Setiap pergantian tahun, rakyat kembali menghadapi banjir, longsor, hingga krisis ekonomi yang tak kunjung usai. Ini menjadi cermin bahwa perubahan kosmetik tidak lagi cukup. Selama sistem yang melahirkan kerusakan tetap dipertahankan, penderitaan rakyat akan terus terulang tanpa henti.
Tahun baru bukan sekadar perpindahan tanggal, tapi kesempatan untuk mengevaluasi arah kehidupan dan keberanian untuk meninggalkan sistem yang terbukti gagal.
Perubahan hakiki hanya akan terjadi ketika kita berani kembali pada aturan yang benar-benar memprioritaskan keselamatan manusia dan kelestarian alam.
Negara Islam hadir sebagai pelindung rakyat, lingkungan dijaga sebagai amanah, dan kebijakan dibuat bukan untuk kepentingan segelintir elit, melainkan demi kemaslahatan seluruh masyarakat.Tahun baru ini dapat menjadi momentum untuk menata ulang cara pandang, memilih solusi yang menyeluruh, dan memulai perjalanan menuju kehidupan yang lebih adil dan bermartabat. Maka hanya sistem Islamlah satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah umat sampai ke akar penyebabnya.
Via
opini
Posting Komentar