OPINI
Konflik Geopolitik, Iran versus Amerika Serikat dan Israel, dan Tawaran Solusi Islam
Oleh: Marlina Wati,S.E
(Muslimah Peduli Umat)
TanahRibathMedia.Com—Konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel adalah salah satu konflik paling rumit dan berbahaya di dunia saat ini. Selama bertahun-tahun, konflik ini terjadi secara diam-diam, seperti lewat serangan rahasia, perang siber, dan dukungan ke kelompok lain. Namun, dalam situasi terbaru di Timur Tengah, konflik ini mulai berubah menjadi bentrokan militer yang lebih terbuka dan nyata. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menunjukkan bahwa meskipun kekuatan militer besar dimiliki, kemampuan mempertahankan perang dalam jangka panjang tetap memiliki batas. Sejak awal, intensitas serangan sangat tinggi. AS dan Israel telah melancarkan ribuan serangan, sementara Iran membalas dengan ratusan rudal dan ribuan drone.
Hal ini menandakan bahwa kedua pihak langsung mengerahkan kekuatan maksimal sejak awal konflik. Namun, seiring berjalannya waktu, kemampuan Iran terlihat mulai menurun. Jumlah peluncuran rudal dan drone mengalami penurunan drastis dibandingkan hari-hari pertama pertempuran. Penurunan ini bisa disebabkan oleh berkurangnya stok senjata atau strategi untuk menghemat persediaan agar dapat bertahan lebih lama. Di sisi lain, dominasi udara oleh AS dan Israel juga membuat posisi Iran semakin tertekan. Amerika Serikat sendiri masih berada di posisi lebih unggul dalam hal persenjataan dan logistik.
Dengan cadangan senjata yang lebih besar dan kemampuan produksi yang lebih stabil, AS dapat menyesuaikan strategi dengan menggunakan senjata yang lebih murah untuk mempertahankan intensitas serangan. Namun demikian, AS juga menghadapi tantangan, terutama pada keterbatasan sistem pertahanan udara seperti rudal Patriot yang mahal dan produksinya terbatas.
Secara keseluruhan, meskipun kedua pihak memiliki kekuatan besar, perang berkepanjangan akan tetap menjadi beban berat. Iran diperkirakan akan lebih cepat mengalami kesulitan dalam mempertahankan tempo perang, sementara AS memiliki peluang lebih besar untuk bertahan lebih lama. Meski begitu, konflik ini tetap menunjukkan bahwa tidak ada pihak yang benar-benar memiliki sumber daya tanpa batas dalam peperangan (Bbc.Indonesianew.com, 11-03-2026).
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran bukan cuma soal dua negara yang bertikai, tapi juga gambaran dari sistem kapitalisme dunia. Dalam sistem ini, kepentingan ekonomi seperti minyak dan kekuasaan sering jadi alasan utama di balik perang. Kawasan Timur Tengah yang kaya minyak pun jadi tempat perebutan pengaruh negara besar.
Dalam kapitalisme, minyak bukan sekadar kebutuhan, tapi juga alat untuk menguasai dunia. Oleh karena itu, ketegangan antara AS dan Iran berkaitan dengan siapa yang mengontrol energi dunia. Perang pun bukan lagi soal ideologi saja, tapi soal kekuasaan dan sumber daya. Kapitalisme juga mendorong negara kuat untuk memperluas pengaruhnya. AS ingin tetap jadi penguasa di Timur Tengah, sementara Iran berusaha melawan dominasi itu. Akibatnya, konflik terus berlanjut dan melibatkan banyak aspek, seperti militer, politik, dan ekonomi. Menariknya, ada pihak yang justru diuntungkan dari konflik ini. Industri senjata berkembang, harga minyak naik turun, dan pasar dunia ikut bergerak. Artinya, perang bisa jadi “bisnis” bagi sebagian pihak.
Di sisi lain, rakyat biasa yang paling menderita. Mereka menghadapi kemiskinan, sanksi ekonomi, dan krisis hidup. Konflik AS vs Iran terjadi karena sistem kapitalisme yang lebih mementingkan keuntungan daripada kemanusiaan. Selama sistem ini masih ada, konflik seperti ini kemungkinan akan terus terjadi.
AS vs Iran dalam Pandangan Islam: Ketika Kapitalisme Memicu Konflik, Islam Memberi Solusi
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran dalam pandangan Islam bukan hanya soal politik atau militer. Konflik ini terjadi karena sistem kehidupan yang rusak, yaitu kapitalisme. Dalam sistem ini, manusia lebih mengejar kekuasaan, harta, dan kepentingan sendiri. Akibatnya, peperangan sering terjadi demi mencapai tujuan tersebut.
Islam mengajarkan bahwa jika manusia hanya mengejar dunia, maka kerusakan dan pertumpahan darah akan sulit dihindari. Allah Swt. telah mengingatkan bahwa manusia seharusnya menjaga bumi dengan aturan-Nya, bukan malah merusaknya. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi dalam QS. Al-Baqarah: 30. Artinya, manusia punya tanggung jawab untuk memimpin dengan adil sesuai hukum Allah, bukan mengikuti hawa nafsu.
Sistem kapitalisme saat ini terbukti gagal menghadirkan keadilan. Negara kuat sering menindas yang lemah, dan konflik seperti AS vs Iran terus terjadi. Berbeda dengan itu, Islam menawarkan sistem yang lengkap, yang mengatur seluruh aspek kehidupan mulai dari ibadah, ekonomi, hingga politik dan hubungan antarnegara.
Dalam Islam, kepemimpinan bertujuan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan.
Allah Swt. juga berjanji bahwa jika manusia beriman dan menjalankan aturan-Nya, maka akan diberikan kekuasaan, keamanan, dan ketenangan (QS. An-Nur: 55). Ayat ini menunjukkan bahwa penerapan hukum Allah akan membawa kedamaian, bukan konflik. Rasulullah ï·º juga menjelaskan bahwa akan ada kepemimpinan yang mengikuti jalan kenabian (HR. Ahmad). Artinya, kepemimpinan dalam Islam bukan hanya soal kekuasaan, tapi membawa rahmat dan keadilan bagi manusia. Islam juga menekankan pentingnya persatuan umat, karena perpecahan justru menjadi penyebab lemahnya kaum Muslim saat ini. Kesimpulannya, konflik seperti AS vs Iran adalah bukti bahwa sistem saat ini belum mampu menciptakan perdamaian.
Islam menawarkan solusi dengan menerapkan syariat secara menyeluruh dalam kehidupan. Dengan itu, keadilan, keamanan, dan kesejahteraan bisa dirasakan oleh semua manusia. Selama sistem yang rusak masih digunakan, konflik akan terus terjadi. Karena itu, umat perlu kembali kepada aturan Islam dan terus berdakwah agar tercipta kehidupan yang lebih baik.
Via
OPINI
Posting Komentar