OPINI
Dunia Membutuhkan Kepemimpinan Global yang Membawa Rahmat
Oleh: Ilma Nafiah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Dunia saat ini tengah berada pada persimpangan kritis. Di satu sisi, kekuatan global utama terutama Amerika Serikat terus mempromosikan ideologi kapitalisme dan dominasi militer sebagai “aturan dunia”. Di sisi lain, realitas hidup menunjukkan penderitaan umat manusia akibat sistem tersebut: umat Islam di berbagai belahan dunia makin terjajah dan terpinggirkan, tatanan sosial tergerus sekularisme, serta krisis ekologis makin parah akibat dominasi kepentingan modal.
Salah satu contoh terbaru adalah agresi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela, yang memicu gelombang kritik internasional karena dianggap melanggar hukum internasional dan kedaulatan sebuah negara merdeka (analisis serangan militer, penangkapan Presiden Nicolás Maduro) — bahkan dikritik sebagai preseden buruk yang mengancam hukum internasional (termasuk Piagam PBB) dan mencederai prinsip hubungan antarnegara.( detikNews.com, 17 Oktober 2025)
Kapitalisme Sekuler Merusak Sendi-Sendi Peradaban
Ideologi kapitalisme sekuler menempatkan modal dan kekuasaan sebagai panglima utama, sementara nilai-nilai moral dan spiritual menjadi sekunder bahkan sering diabaikan. Sistem semacam ini telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam dan masyarakat secara umum:
1. Akidah menjadi rapuh karena sekularisme menjauhkan manusia dari sumber nilai hakiki.
2. Muamalah dipaksa tunduk pada aturan pasar bebas yang menggiring ketimpangan.
3. Akhlak tergerus oleh budaya konsumtif dan individualisme.
4. Ekonomi & sosial budaya menjadi arena persaingan tajam yang semakin memiskinkan yang lemah.
5. Pendidikan mudah dikomersialkan dan kehilangan arah moral.
Dalam konteks hubungan internasional, AS sering menggunakan berbagai cara termasuk tekanan militer dan ekonomi untuk menguasai sumber daya dan mengekang negara yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingannya. Serangan terhadap Venezuela bukan sekadar operasi militer, tetapi juga aksi yang memicu krisis hukum dan kemanusiaan global, ditentang banyak negara sebagai pelanggaran prinsip kedaulatan bangsa (reaksi dunia Internasional).
(jatim.times.co.id, 4 Januari 2026).
Melihat realitas ini, jelas bahwa kehidupan dunia membutuhkan kepemimpinan baru yang membawa rahmat — bukan sekadar dominasi kekuatan militer atau hegemoni ekonomi. Dunia butuh sistem yang:
1. Menjaga martabat manusia, bukan memperdagangkannya.
2. Mengutamakan keadilan dan kemaslahatan umat, bukan kepentingan segelintir elite.
3. Memperbaiki hubungan antarmanusia, bukan menciptakan konflik berkepanjangan.
Dalam tradisi Islam, terdapat madzhab pemikiran yang menyatakan bahwa kepemimpinan tidak hanya untuk satu kelompok, tetapi untuk seluruh umat manusia — kepemimpinan yang menjunjung tinggi keadilan, kebenaran, dan keselamatan umat.
Islam bukan hanya agama ritual; ia juga merupakan sebuah madzhab hidup dan sistem peradaban yang lengkap, mencakup hukum, moral, politik, ekonomi, dan hubungan internasional. Mabda Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati adalah yang memuliakan manusia, menegakkan keadilan, serta melindungi hak hidup setiap individu.
Dalam sejarah Islam, pernah ada bentuk kepemimpinan global yang diakui mampu membawa kesejahteraan dan tatanan yang harmonis — itulah Khilafah Islam yang tegak pada prinsip tauhid, syariah, dan keadilan universal.
Kepemimpinan yang Membawa Rahmat
Khilafah Islam bukan sekadar bentuk pemerintahan. Ia merupakan sistem hukum dan politik yang bertumpu pada syariat yang membawa rahmat bagi seluruh manusia, bukan hanya Muslim.
Salah satu contoh ketegasan kepemimpinan Islam terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Ketika wilayah kekuasaan Islam bertambah luas dan berhubungan dengan bangsa lain, Umar menegaskan dua prinsip penting:
1. Penegakan keadilan tanpa diskriminasi — setiap individu, baik Muslim maupun non-Muslim, memiliki hak atas keadilan.
2. Perlindungan terhadap yang lemah dan yang tertindas — negara bertanggung jawab melindungi rakyatnya dari penindasan eksternal maupun internal.
Dalam beberapa kasus konflik dengan negara tetangga, Khalifah Umar menginstruksikan perundingan damai dan penegakan aturan yang memperlakukan semua pihak dengan hormat, bukan dominasi militer. Keputusan-keputusan politiknya sering didasari pemikiran strategis untuk menjaga stabilitas, menghormati perjanjian internasional, serta melindungi rakyat dari penderitaan.
Sikap tegas namun penuh hikmah ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Islam tidak mengejar dominasi agresif, melainkan menegakkan prinsip tauhid — bahwa manusia adalah makhluk istimewa yang harus hidup dalam sistem moral dan adil.
Kepemimpinan Islam memiliki potensi untuk mengembalikan tatanan dunia yang penuh rahmat karena:
• Ia menjunjung tinggi keadilan universal, bukan sekadar hukum kuat menguasai lemah.
• Ia menjadikan hukum sebagai alat untuk melindungi hak asasi manusia, bukan untuk memperluas hegemonik kekuasaan satu negara atas negara lain.
• Ia menempatkan manusia dan planet sebagai amanah yang harus dijaga, bukan objek eksploitasi.
Khilafah Islam tidak hanya akan melindungi umat Islam dari eksploitasi ekonomi, kolonialisme modern, atau tekanan militer; ia juga menjamin perlindungan terhadap seluruh umat manusia dari kezaliman, kemungkaran, dan berbagai bentuk kerusakan — baik sosial, ekonomi, maupun ekologis.
Dunia saat ini berada dalam persimpangan pilihan: terus terjebak dalam hegemoni kekuatan yang merusak, atau bangkit menuju sistem yang membawa rahmat dan keadilan. Kepemimpinan Islam bukan sekadar cita-cita; ia adalah harapan hidup yang nyata, karena hanya dengan prinsip-prinsip rahmat, keadilan, dan kemanusiaan yang tegak, maka dunia ini bisa dibentuk menjadi tempat yang damai, adil, dan sejahtera bagi seluruh umat manusia.
Via
OPINI
Posting Komentar