OPINI
Cerminan Pendidikan di Era Kapitalis
Oleh: Neni Arini
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Dunia pendidikan kembali mencuri perhatian khalayak ramai. Sebuah peristiwa yang memalukan kembali terjadi. Tentu saja ini menjadi kisah yang sangat memprihatinkan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Sebuah tontonan yang diperlihatkan di media sosial, di mana seorang guru SMK Jambi dikeroyok oleh muridnya sendiri. Peristiwa ini bukan sekadar insiden kriminal biasa, tetapi wujud nyata potret buram dunia pendidikan. Hubungan yang seharusnya tercipta harmonis antara guru dan murid, tetapi justru menunjukkan hubungan yang kehilangan adab, penghormatan, dan keteladanan.
Menurut sang guru yang bernama Agus Saputra, kejadian bermula saat dirinya diejek oleh seorang murid dengan kata-kata yang dianggap tidak pantas. Agus mengaku bereaksi secara spontan karena diejek dengan kata tak pantas. Agus refleks menampar murid tersebut. Tetapi berbeda halnya dengan pengakuan dari seorang siswa berinisial MUF, siswa ini memberikan versi berbeda terkait sosok Agus di mata murid. Ia menyebut gurunya dikenal keras dan kerap berbicara kasar. Bahkan siswa tersebut juga mengungkapkan bahwa Agus ingin dipanggil dengan sebutan khusus yaitu ‘prince’ atau pangeran, bukan bapak (Tribunnews, 18-01-2026).
Sementara itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengecam insiden kekerasan yang melibatkan penamparan dan ancaman dengan senjata tajam oleh guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengatakan peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak (Detik.com, 18-01-2026).
Kasus ini tidak bisa disederhanakan sebagai luapan emosi sesaat atau konflik personal. Ini adalah gejala dari sistem pendidikan yang tak terarah. Murid kehilangan adab dan batas penghormatan, sementara guru kehilangan wibawa dan keteladanan. Keduanya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kehancuran marwah pendidikan.
Tentu saja peristiwa ini tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan sekuler yang memisahkan antara agama dan kehidupan. Pendidikan hanya terbatas pada proses mencetak tenaga kerja dan mengejar nilai akademik. Keberhasilan ditentukan oleh barusan nilai angka, bukan akhlak. Kurikulum pun dibuat tanpa standar yang jelas, sehingga tidak membentuk manusia yang berkepribadian yang lurus.
Dalam sistem kapitalis sekularis, akhlak bukan menjadi prioritas. Murid hanya dijadikan sebagai objek sebuah kurikulum yang selalu berganti. Bukan manusia yang harus dibina ahlaknya, lalu dirangkul dengan menitikberatkan nilai-nilai spiritual. Ketika ruh Islam dijauhkan bahkan disingkirkan maka sekolah akan kehilangan arah sebagai fungsi utamanya yaitu sebagai tempat pembentukan generasi yang memilki adab dan penghormatan.
Pendidikan Islam: Adab Dulu Baru ilmu
Islam menekankan bahwa etika dan akhlak harus didahulukan sebelum mempelajari ilmu agar ilmu yang diperoleh berkah, bermanfaat, dan tidak berbahaya. Adab adalah pondasi yang membimbing penggunaan ilmu secara benar. Adab adalah landasan agar ilmu mudah diterima dan membawa kebaikan, seperti tubuh tanpa jiwa (ilmu tanpa adab) atau jasad tanpa ruh (adab tanpa ilmu). Jadi pendidikan tidak hanya soal kecerdasan intelektual saja, tetapi bagaimana pendidikan dapat menjadi pilar pembentukan akhlak. Rasulullah saw. diutus untuk menyempurnakan akhlak dan para sahabatnya diajarkan adab terlebih dahulu, seperti tidak meninggikan suara di hadapan Nabi.
Di dalam pendidikan Islam, adab harus didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan para gurunya. Begitu pun sebaliknya, guru pun diwajibkan menjadi contoh teladan, mendidik peserta didiknya dengan penuh kelembutan, kesabaran, serta kasih sayang. Bukan dengan kata-kata kasar berupa cacian dan hinaan yang bisa melukai hati muridnya. Menjadi sosok guru tidak hanya menjadi penyampai materi saja, tetapi bagaimana keberadaan dirinya bisa menjadi figur teladan bagi muridnya.
Perlunya Negara sebagai Jalan Keluar
Di dalam Islam, keberadaan negara sangatlah penting karena sebagai penanggung jawab atas urusan umat termasuk dalam hal pendidikan. Negara wajib memastikan kurikulum pendidikan berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran yang disampaikan dalam rangka membentuk kerangka berpikir yang dapat membentuk murid berkepribadian Islam. Kemudian hubungan antara guru dan murid dibangun atas dasar iman, bukan emosi. Lalu dibangun Ruhiyahnya bahwa segala aktifitas yang dilakukan akan menjadi sebuah pertanggungjawaban dihadapan Allah.
Peristiwa di Jambi menjadi sebuah alarm keras akan rusaknya pendidikan dengan sistem sekuler yang tidak bisa mencari akar permasalahannya. Sudah saatnya sistem pendidikan dikembalikan pada sistem pendidikan Islam yang dapat mencetak manusia berilmu dan beradab. Dengan sistem pendidikan islam sekolah akan menjadi tempat aman dalam menjemput masa depan bukan tempat yng terus melahirkan luka, sehingga merusak mental para generasi sebuah peradaban. Untuk itu teruslah berjuang untuk menjadikan Islam sebagai solusi sebuah permasalahan dengan ikut begerak dalam sebuah kelompok ideologis yang mampu membentuk manusia yang berkepribadian Islam.
Wallahu'alam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar