OPINI
Banjir Kisah Nyata, Penyebab yang Tersembunyi, dan Solusi Islam
Oleh: Fitri Yani
(Aktivis Dakwah)
TanahRibathMedia.Com—Wilayah Maninjau di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, kembali terkena serangan banjir bandang pada hari Kamis (25-12-2025). Kejadian ini dipicu oleh hujan deras yang membuat Sungai Batang Aia Pisang meluap serta merendam jalan raya dan permukiman warga di kawasan tersebut.
Camat Tanjung Raya, Al Hafid, menyampaikan informasi tersebut di Lubuk Basung, yang kemudian dikutip oleh CNNIndonesia pada Jumat (26-12-2025). Menurutnya, puluhan rumah di Jorong Pasar, Nagari Maninjau, tergenangi air yang disertai material lumpur berbatuan. Dampak banjir juga mencapai jalan penghubung penting antara Lubuk Basung dan Bukittinggi, yang berpotensi mengganggu akses transportasi di kawasan.
Saat ini, curah hujan di daerah tersebut masih tinggi, sehingga ia mengimbau warga untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir susulan. Hal ini tidak pertama kalinya Maninjau mengalami banjir bandang; sebelumnya, kejadian serupa juga terjadi setelah hulu sungai longsor di Kelok 28, yang membuat saluran sungai menjadi dangkal. Untuk menangani masalah ini, pemerintah setempat telah mengerahkan alat berat untuk melakukan normalisasi Sungai Batang Aia Pisang.
Banjir, Bukan Hanya karena Hujan
Pernah nggak sih, pas hujan deras cuma beberapa jam, langsung banjir di sekitar rumah? Banyak orang pasti langsung ngomong, "Ah, karena hujan terlalu deras aja!" Tapi tahu nggak, banjir itu bukan disebabkan oleh satu hal saja, namun ada banyak faktor yang saling berkaitan.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, perubahan iklim terjadi karena udara di bumi jadi berbeda karena apa yang kita lakukan sehari-hari. Misalnya, kalau kita bakar minyak bumi, kayu bakar, atau buang gas dari kendaraan, gas-gas itu nempel di lapisan udara dan bikinnya jadi lebih tebal. Ini bikin panas dari matahari yang menyinari bumi tidak bisa keluar lagi kayak rumah yang ditutup rapat, jadi suhunya naik. Ini yang namanya efek rumah kaca.
Ketika suhu bumi naik, udara di atas kita bisa menampung lebih banyak uap air. Jadi, ketika hujan turun, jumlahnya lebih banyak dan intensitasnya lebih padat. Nah, kalo hujan gitu turun, tapi gak ada tempat yang bisa nyimpen atau mengalirkan airnya dengan baik apa yang terjadi? Tentu saja air akan meluap dan bikin banjir!
Tempat yang seharusnya nyimpen air itu apa? Misalnya hutan pohon-pohon di hutan bisa menangkap air hujan dengan daunnya, dan akarnya bisa menahan tanah agar tidak longsor. Tapi kalo hutan diubah jadi pemukiman, gedung, atau perkebunan yang terlalu banyak, maka tidak ada yang nyimpen air lagi.
Selain itu, alih fungsi lahan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan juga bikin masalah. Misalnya, kalo selokan atau saluran air ditutup buat bangun rumah, air tidak bisa mengalir lancar. Sampah yang kita buang sembarangan kayak plastik, kardus, atau sampah makanan juga sering menumpuk di selokan dan menyumbatnya. Akhirnya, air buntu dan meluap ke jalan.
Jadi, banjir itu adalah hasil dari banyak hal: perubahan iklim akibat aktivitas manusia yang bikin hujan lebih ekstrem, kurangnya hutan yang nyimpen air, alih fungsi lahan yang tidak tepat, dan sampah yang menyumbat saluran air. Karena penyebabnya banyak, cara menangani banjir juga harus komprehensif – tidak cuma membersihkan saluran, tapi juga melestarikan hutan, mengatur pembangunan, dan mengurangi dampak aktivitas kita terhadap lingkungan.
Keserakahan Sistem Kapitalisme
Kita udah tahu banjir bukan cuma karena hujan tapi ada sisi lain yang bikin sedih: keserakahan manusia dan sistem yang cuma ngutamain keuntungan segelintir orang. Ini yang bikin bumi jadi tidak stabil, dan yang paling menderita ya masyarakat rakyat.
Ya, keserakahan itu akarnya. Pembangunan sekarang seringkali cuma mengejar uang (kapitalistik) bukan kesejahteraan semua. Kebijakan pun seringkali memihak keuntungan, jadi alih fungsi lahan jadi hal biasa karena uang yang jadi tujuan utama.
Perkotaan yang tadinya ada pohon dan lahan kosong, sekarang jadi hutan beton gedung tinggi semuanya. Semua ini buat “pertumbuhan ekonomi” yang cuma dirasakan orang kaya. Bahkan rencana tata ruang dan analisis lingkungan cuma jadi formalitas akhirnya diizinkan juga karena kepentingan kapitalis.
Penguasa sering ngomong mau bikin “kota hijau”, tapi nyatanya cuma buat kalangan tertentu. Lihat aja perumahan yang katanya “bebas banjir” dan “ramah lingkungan” harganya mahal banget, cuma orang kaya yang bisa beli. Slogan “hunian masa depan” itu cuma buat elite doang.
Yang paling parah, perumahan elite yang aman dari banjir itu malah bikin daerah sekitarnya lebih rawan. Mereka bikin saluran khusus, jadi air hujan malah mengalir ke tempat tinggal rakyat bikin rakyat yang jadi korban.
Sekarang, hunian ramah lingkungan udah jadi hak istimewa orang kaya. Sementara rakyat miskin harus tinggal di daerah rawan banjir dan kalo banjir dateng, mereka yang paling terdampak. Ya, mereka yang tidak punya kekuasaan dan uang, yang selalu jadi korban keserakahan sedikit orang.
Solusi Islam
Dalam pandangan Islam, negara tidak akan sembarangan mengubah fungsi lahan apalagi buat bikin perumahan elite di daerah resapan air atau reklamasi pantai yang merusak ekosistem. Pembangunan harus mengikuti prinsip pengelolaan lahan yang adil dan universal artinya, ngutamain kesejahteraan semua, bukan cuma orang kaya.
Allah Swt. juga mengingatkan kita dalam QS Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan lautan ada karena perbuatan tangan manusia. Tujuan nya agar kita merasakan akibatnya, jadi kita mau kembali ke jalan yang benar. Ini bukti bahwa Islam sangat memahami hubungan antara aktivitas manusia dan alam.
Bagaimana dengan warga yang tinggal di pesisir atau daerah rendah? Negara akan dulu memetakan semua daerah yang rawan banjir rob atau tanah yang gak bisa nyerap air. Lalu bikin kebijakan khusus buat mereka misalnya, bikin sumur dalam, penampungan air hujan yang besar, atau cara lain agar mereka tetap bisa dapet air bersih tanpa khawatir banjir.
Pembangunan yang ramah lingkungan itu bukan cuma slogan di dalam Islam itu visi yang sudah terbukti berjalan di masa lalu. Kekhalifahan Islam yang pernah ada bikin kota-kota yang hijau, teratur, dan jarang ada bencana alam parah. Mereka tahu betul, bahwa kesejahteraan manusia tergantung pada keseimbangan alam.
Waktu akan terus berubah, teknologi juga akan makin canggih – tapi intinya, spirit pembangunan Islam yang ramah lingkungan hanya bisa terwujud kalo ada pemimpin yang benar-benar memegang prinsip-prinsip Islam dalam sistem khalifah. Ini solusi yang lengkap dan terstruktur buat ngentaskan masalah banjir yang makin parah di era kapitalistik sekarang. Tidak cuma ngatasi akibatnya, tapi juga menyembuhkan akarnya – keserakahan dan pengabaian terhadap alam.
Via
OPINI
Posting Komentar