Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda PUISI Sandiwara Bumi di Tanah Ilahi
PUISI

Sandiwara Bumi di Tanah Ilahi

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
10 Des, 2025 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Rianti Budi Anggara

TanahRibathMedia.Com—Tak ada kata yang bisa terucap
ketika langit mendadak gelap
Mata melihat, telinga jelas menangkap
tangan dan kaki bergerak serentak
Namun hati dan akal tetap bertanya
adakah manusia yang tak sanggup berdiri nyata?
Apakah mereka sungguh mati
atau mematikan nurani yang dulu hidup di dada
Sudahkah mereka melihat, mendengar, dan memakai akal serta hati seutuhnya

Kurangkah teguran Tuhan bagi kita?
Kurangkah bukti kuasa-Nya di semesta
Tanah bergetar, laut bersuara
gunung memuntahkan murkanya
namun sebagian manusia masih membutakan mata

Lihatlah! 
gunakan matamu menerima cahaya-Nya
Dengarlah! 
gunakan telingamu menyimak tanda-tanda-Nya.
Geraklah! 
gunakan tangan dan kakimu untuk kebaikan nyata.
Berpikirlah! 
gunakan akalmu yang dicipta sempurna
Renungkanlah! 
gunakan hatimu agar tak buta rasa

Ratusan anak tak bersalah merasakan derita
ibu tak tahu ia dihancurkan tiba-tiba
ayah berjuang dengan seluruh jiwa raga


Semua
semua makhluk ciptaan-Nya
hancur dalam satu Sandiwara Bumi-Nya
Sandiwara yang tertulis di panggung fana
tempat segala yang megah berubah hina dina adanya

Dengarlah! 
Kami para korban bertanya dalam lirih suara
mengapa takdir ini singgah di rumah kami hari ini
Namun di balik tangis yang tertahan di dada
kami mengingat firman Ilahi
bahwa setiap musibah mengandung hikmah tersembunyi

Maka kami bersujud di tanah yang retak
menggenggam harapan yang nyaris pecah
Kami berucap, “Inna lillāh"
sebab kami tahu, kepada-Nya semua kembali pada akhirnya

Bumi mungkin bersandiwara pahit hari ini
namun langit tetap membuka pintu rahmat-Nya tanpa henti
Dari puing-puing kami belajar berdiri
dari luka kami belajar mengerti
bahwa cinta Allah tak pernah pergi
meski dunia runtuh di depan diri

Di sana tanah berbau duka air berwarna nelangsa
jeritan menggema menembus kabut yang menua
Tubuh-tubuh basah menggigil tanpa sandang apa adanya
namun tangan-tangan saling menggenggam di tengah derita
Pelukan menguatkan jiwa yang hampir tiada
seakan berkata, “Allah tak akan meninggalkan kalian, yakinlah selalu pada-Nya.”

Dan di sana malam bukan sekadar gelap biasa,
terang oleh doa yang tak pernah sirna
Anak-anak tidur di pangkuan reruntuhan yang patah,
sementara hujan mengulang kisah yang lelah
Namun di sela isak yang menahan pasrah
nama Allah hidup dalam setiap napas yang resah
bergema di jiwa-jiwa yang rapuh
bergantung pada langit yang retak dan luluh

Lalu aku, menulis ini dengan tangan yang ikut bergetar
seakan jarak tak memisahkan duka yang mengalir dan membakar
Setiap huruf menjadi saksi luka yang ikut tersambar
melihat saudaraku diuji sedalam-dalamnya musibah.
Aku bukan korban bencana, namun jiwaku menderita
melihat nestapa yang tak bisa kubantu banyak
Tangan dan kaki terbatas bergerak
mata dan telinga hanya menyimak
dan hati serta akal kadang redup mendadak

Di sana aku sadar, begitu lemahnya manusia di hadapan Sang Pencipta Semesta

Dan ketika pena berhenti, hatiku tetap berdoa
“Ya Allah, kuatkan mereka yang Kau pilih untuk menerima ujian-Nya.”
Semoga kata menjadi doa yang terbang ke angkasa,
menyatu bersama harapan yang tak pernah padam selamanya
Jika bumi bersandiwara maka aku bersaksi apa adanya
bahwa kasih sayang manusia tetap berdiri
meski tanah tempat berpijak pergi
Via PUISI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026
Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us