Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda opini Banjir Bandang Sumatra: Cuaca Ekstrem atau Buah dari Eksploitasi Alam?
opini

Banjir Bandang Sumatra: Cuaca Ekstrem atau Buah dari Eksploitasi Alam?

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
11 Des, 2025 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Siti Aysyah
(Sahabat Tanah Ribath Media)

TanahRibathMedia.Com—Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, pada 27 November 2025, kembali menyisakan duka mendalam. Banyak korban jiwa berjatuhan, sejumlah fasilitas umum rusak berat, dan rumah-rumah warga tersapu arus deras.

Pihak pemerintah melalui Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH), Dyah Murtiningsih, menjelaskan bahwa hujan ekstrem akibat fenomena siklon tropis menjadi pemicu utama. Ia menambahkan bahwa sebagian besar DAS yang terdampak berada di wilayah Areal Penggunaan Lain (APL) sehingga lebih rentan mengalami bencana hidrometeorologi.

Namun, pandangan berbeda datang dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatra Utara. Menurut mereka, bencana tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada cuaca ekstrem. Manajer Advokasi WALHI Sumut, Jaka Kelana Damanik, menegaskan bahwa kerusakan ekologis akibat aktivitas manusia turut memperburuk keadaan.

Jaka mengungkapkan bahwa saat banjir terjadi, banyak kayu bekas tebangan terbawa arus. Citra satelit pun memperlihatkan area hutan di sekitar lokasi yang mengalami penurunan tutupan secara signifikan. Ia menilai bahwa keputusan politik dan arah pembangunan yang mengejar kepentingan ekonomi turut menjadi faktor pendorong kerusakan tersebut. Tidak mengherankan jika bencana ini digolongkan sebagai bencana ekologis, bukan sekadar musibah alam biasa.
Indonesia yang dulu dijuluki sebagai paru-paru dunia karena luasnya hutan hujan tropis, kini menghadapi krisis hutan yang semakin parah.

Pembalakan liar, ekspansi perkebunan kelapa sawit, hingga pembangunan industri ekstraktif dilakukan secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Dampaknya bukan hanya pada menurunnya kualitas lingkungan, tetapi juga meningkatnya kepunahan satwa endemik, pencemaran, dan risiko bencana alam yang kini dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitarnya.
Semua kerusakan ini berkelindan dengan kebijakan sistem Kapitalisme yang mendorong eksploitasi sumber daya alam demi keuntungan segelintir pihak. Alam, manusia, dan makhluk hidup lain menjadi korban dari kerakusan tersebut. Na‘udzubillāh min dzālik.

Padahal, manusia telah dibekali aturan hidup yang seharusnya menjaga keseimbangan alam, yakni syariat Islam. Ketika aturan Allah ditinggalkan, kerusakan demi kerusakan justru semakin nyata.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (TQS. Ar-Rum: 41)

Penerapan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan menuntun manusia untuk menjaga amanah bumi. Aturan-aturan syariat memiliki mekanisme yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam, pembagian hasil, hingga larangan eksploitasi yang merusak keseimbangan lingkungan.

Allah Ta'ala juga berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ…

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..." (TQS. Al-A‘raf: 96)

Sejarah telah menunjukkan bagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat menjalankan kepemimpinan Islam dengan menjaga masyarakat sekaligus melestarikan alam. Karena itu, mengembalikan kehidupan Islam secara menyeluruh (isti'nafu al-hayah al-Islamiyyah) adalah langkah yang harus diupayakan agar keberkahan bagi manusia dan alam dapat kembali terwujud.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Via opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Penyesatan Opini di Balik Topeng BoP

Maret 13, 2026
Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Normalisasi Gaul Bebas, Bikin Kebablasan

Maret 13, 2026
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Maret 13, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us