Opini
Nafas yang Dirampas
Oleh: Hafsh
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Ada asap yang datang tanpa diundang. Lalu menyelinap ke paru-paru, menempel di pakaian, dan mengendap dalam kepala. Aku tidak pernah merokok, tapi seakan dipaksa menjadi bagian darinya. Sesak, getir, dan resah.
Pertanyaan ini selalu mengusik;
“Mengapa aku yang memilih hidup sehat justru harus ikut menanggung akibatnya?”
Di sudut jalan, terminal, dalam kendaraan, hingga ruang pertemuan yang mestinya nyaman, asap rokok hadir sebagai “teman akrab” sebagian orang. Dianggap lumrah, seperti sudah membudaya bahkan menjadi simbol kejantanan dan pergaulan. Padahal di balik kepulan itu, ada keluarga, anak-anak, ibu hamil, dan orang-orang lemah yang terpaksa ikut terpapar. Mereka tidak menyalakan api, namun tubuh mereka yang menanggung luka.
Sering kali perokok aktif berdalih bahwa rokok menenangkan atau meningkatkan konsentrasi.
Ada pula yang membandingkannya dengan gula atau makanan lain, seolah sama bahayanya. Padahal sifat zat itu berbeda, dan perbandingan itu lebih mirip mekanisme pertahanan diri daripada alasan yang sejati. Apa mereka tidak pernah berpikir bahwa rokok lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya?
Menurut data WHO yang dikutip GoodStats (26 Juli 2021), jumlah perokok di dunia mencapai 1,3 miliar orang. Sementara itu, sekitar 1,2 juta orang meninggal setiap tahun akibat menjadi perokok pasif. Lebih dari 80 persen pengguna rokok berasal dari negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Data WHO yang dikutip GoodStats (5 Mei 2022) menunjukkan bahwa angka kematian akibat rokok sudah mencapai 17,3 juta orang dan bisa meningkat menjadi 23,3 juta pada 2030. Perokok pasif juga menghadapi risiko serius: kemungkinan terkena kanker paru-paru meningkat 20–30 persen, sementara risiko penyakit jantung naik 25–35 persen. Bahkan, jutaan anak di bawah usia 5 tahun tercatat menjadi perokok pasif.
Menurut GoodStats (25 Agustus 2025) yang mengutip data BPS, persentase perokok berusia 15 tahun ke atas di Indonesia mengalami fluktuasi: 28,69% (2020), 28,96% (2021), turun menjadi 28,26% (2022), lalu kembali naik 28,62% (2023), hingga 28,99% pada 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa kampanye hidup sehat dan pembatasan rokok masih menghadapi tantangan besar.
Mengutip artikel kesehatan Bahaya Asap Rokok oleh RSUD Meuraxa Banda Aceh:
"Anak-anak yang terpapar asap rokok, baik di rumah atau di lingkungan sekitar, berisiko mengalami gangguan kesehatan serius. Mereka lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan, asma, dan masalah perkembangan paru-paru. Selain itu, paparan asap rokok juga dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah dan kelahiran prematur."
Bukankah ini bentuk kezaliman nyata, ketika hak hidup sehat seseorang dirampas oleh kebiasaan orang lain?
Islam telah memberi batas jelas. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Lā ḍarar wa lā ḍirār”
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri, dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” (HR. Ibn Majah no. 2340, dinyatakan shahih oleh Al-Albani)
Rokok mencerminkan keduanya sekaligus. Ia membakar harta yang seharusnya bermanfaat, merusak amanah tubuh yang Allah titipkan, dan menzalimi orang-orang di sekitar. Rasulullah ﷺ melarang kita melakukan hal sia-sia dan membahayakan.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
“…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (TQS. Al-Baqarah: 195)
Maka bagaimana mungkin asap yang merugikan diri sendiri dan orang lain ini dianggap sepele?
Aku masih ingat saat duduk di dekat kerumunan perokok, dada ini terasa berat. Bukan hanya napas yang sesak, hati pun perih. Asap itu seperti perampok yang merampas hakku bernapas lega. Lebih dari itu, ia meninggalkan aroma melekat di pakaian, seakan menodai kebersihan yang kuusahakan. Betapa tidak adilnya mereka bebas menyalakan rokok, tetapi aku harus memikul akibat yang tidak kupilih.
Jika ini disebut pilihan, maka sungguh tidak adil. Pilihan mereka merokok merenggut hak orang lain untuk hidup sehat tanpa asap.
Namun keresahan ini tidak boleh berhenti pada keluhan. Sebab kita dituntut mencari solusi. Meninggalkan rokok bukan sekadar perkara medis, tetapi jihad pribadi. Jihad melawan hawa nafsu dan kebiasaan yang telah mengakar. Butuh tekad, kesabaran, dan doa yang terus dipanjatkan agar Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberi kekuatan. Sebab Dia-lah yang Maha Membolak-balikkan hati.
Keluarga bisa memulai dari lingkup terkecil, saling mengingatkan, mendukung anggota yang ingin berhenti merokok, dan menciptakan rumah bebas asap. Masyarakat pun harus ikut berperan membangun budaya peduli lingkungan sehat. Kemudian ruang publik seharusnya benar-benar menjadi ruang aman, bukan ladang asap yang memaksa orang sehat ikut sakit.
Kepada para perokok, sesungguhnya keresahan ini bukan kebencian. Justru karena cinta kami bersuara, agar kita sama-sama terhindar dari bahaya. Kita ingin umat yang kuat, sehat, dan mampu menjaga amanah Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Bagaimana mungkin kita berharap melahirkan generasi tangguh, bila sejak kecil paru-paru mereka dipenuhi asap racun?
Aku menulis ini dengan harap, semoga keresahan kecilku menjadi pengingat bagi yang lain. Bahwa setiap kepulan asap rokok bukan sekadar urusan pribadi, tapi amanah besar yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Karena tubuh ini bukan milik kita sepenuhnya, melainkan titipan yang akan ditanya:
“Bagaimana kita menjaganya?”
Mari membaca dengan mata dan hati yang terbuka. Dengan pikiran dan hati yang tenang.
Ambil keputusan sekarang, karena waktu adalah milik-Nya yang kita tidak pernah tahu...
Adakah lagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Hidup tanpa asap jauh lebih tenang.
Napas lega adalah nikmat.
Jangan biarkan ia dirampas oleh asap.
Wallahu a'lam bishawab.
Via
Opini
Posting Komentar