OPINI
Maulid: Momentum Meneladan Metode Perjuangan Nabi ﷺ
Oleh: Syaima Putri
(Sahabat Tansh Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Setiap kali Rabiulawal tiba, kecintaan umat Islam kepada Rasulullah ﷺ kembali bergema. Masjid, majelis taklim, sekolah, hingga berbagai lembaga menggelar peringatan Maulid Nabi. Shalawat dilantunkan, kisah kehidupan Rasulullah ﷺ disampaikan, bahkan kegiatan pawai dan tabligh akbar turut memeriahkan momentum tersebut. Tahun ini, misalnya, Kementerian Agama menggelar Blissful Mawlid 1448 H dan mengajak 1.781.945 umat Islam mengikuti Gema Selawat Kebangsaan sebagai momentum memperkuat kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dan meneladani akhlaknya (nasional.sindonews.com, 23-8-2026).
Hal serupa disampaikan dalam pemberitaan RRI. Maulid disebut sebagai momentum untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ juga ditekankan agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui perilaku dan akhlak (rri.co.id, 22-8-2026).
Tentu, mencintai Rasulullah ﷺ dan meneladani akhlaknya adalah perkara yang mulia. Namun, apakah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ cukup diwujudkan dengan memperbanyak shalawat, mengenang kelahirannya, dan meneladani akhlak beliau secara pribadi? Bukankah Rasulullah ﷺ bukan hanya seorang manusia yang memiliki akhlak agung, tetapi juga seorang Rasul yang membawa risalah untuk mengubah kehidupan manusia?
Di sinilah makna Maulid perlu dikembalikan kepada makna yang lebih mendalam: meneladan Rasulullah ﷺ secara utuh, termasuk dalam menjalankan risalah dan metode perjuangan beliau.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ Harus Melahirkan Ittiba'
Allah Swt. berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ**
"Katakanlah, Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (QS. Ali Imran [3]: 31)
Ayat ini menunjukkan bahwa cinta bukan sekadar perasaan. Cinta kepada Rasulullah ﷺ harus dibuktikan dengan ittiba', yaitu mengikuti beliau. Mengikuti Rasulullah ﷺ tentu tidak hanya dalam akhlak individual, tetapi juga dalam menjalankan seluruh risalah yang beliau bawa.
Rasulullah ﷺ datang ketika masyarakat berada dalam kehidupan jahiliah. Beliau tidak sekadar mengajarkan kejujuran kepada individu, sementara sistem kehidupan tetap berjalan dengan aturan jahiliah. Beliau mengubah cara pandang manusia tentang kehidupan, membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia, dan mengajak mereka hanya tunduk kepada Allah Swt.
Karena itu, jika hari ini umat Islam memperingati Maulid dengan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, seharusnya muncul pertanyaan: sudahkah kita mengikuti perjuangan beliau dalam mengubah kehidupan berdasarkan wahyu Allah?
Jahiliah tidak hanya berarti kondisi masyarakat Arab sebelum Islam. Secara lebih luas, jahiliah adalah kehidupan yang tidak menjadikan wahyu Allah sebagai dasar pengaturan kehidupan. Ketika manusia menjadikan hawa nafsu, kepentingan materi, dan aturan buatan manusia sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan, maka persoalan penghambaan kepada selain Allah masih menjadi masalah yang harus diselesaikan.
Hari ini, umat Islam hidup dalam sistem sekuler-kapitalistik yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Demokrasi menempatkan manusia sebagai pembuat hukum, sementara kapitalisme menjadikan materi dan keuntungan sebagai orientasi penting dalam kehidupan. Liberalisme pun mengagungkan kebebasan individu hingga batas-batas syariat sering kali dikesampingkan.
Akibatnya, Islam sering kali ditempatkan hanya pada wilayah ibadah ritual, akhlak pribadi, dan kegiatan keagamaan. Sementara dalam urusan ekonomi, pendidikan, politik, hukum, pemerintahan, dan kehidupan bermasyarakat, umat diarahkan untuk menerima aturan yang bersumber dari selain wahyu Allah.
Padahal, Islam adalah agama yang sempurna. Allah Swt. berfirman:
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian." (TQS. Al-Maidah [5]: 3)
Maka, meneladani Rasulullah ﷺ seharusnya juga berarti menyadari bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
Meneladani Metode Perjuangan Rasulullah ﷺ
Perubahan besar yang dilakukan Rasulullah ﷺ tidak terjadi secara TIBA-TIBA. Beliau menempuh metode perjuangan yang jelas. Di Makkah, Rasulullah ﷺ membina para sahabat dengan pemikiran dan keimanan Islam. Inilah tahap tatsqif, yakni pembinaan dan pembentukan kepribadian Islam.
Setelah itu, dakwah Rasulullah ﷺ berkembang kepada masyarakat. Beliau melakukan tafa'ul ma'al ummah, yaitu berinteraksi dengan umat untuk membangun kesadaran Islam di tengah masyarakat, menjelaskan kebatilan pemikiran dan sistem jahiliah, serta mengajak umat untuk menjadikan Islam sebagai dasar kehidupan.
Selanjutnya, Rasulullah ﷺ sampai pada tahap istilamul hukmi, yaitu penerimaan kekuasaan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh. Setelah mendapatkan kekuasaan di Madinah, Rasulullah ﷺ menerapkan Islam dalam kehidupan masyarakat dan membangun negara berdasarkan risalah yang beliau bawa.
Inilah metode yang perlu dipelajari ketika umat berbicara tentang perubahan. Sebab, perubahan hakiki bukan sekadar pergantian pemimpin, perubahan kebijakan, atau perbaikan akhlak individu. Perubahan hakiki adalah perubahan kehidupan dari aturan yang bersumber dari manusia menuju kehidupan yang diatur berdasarkan hukum Allah.
Maulid Jangan Berhenti pada Seremonial
Tuntutan perubahan sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi umat Islam. Banyak kaum Muslim yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, menginginkan keadilan, kesejahteraan, dan terbebas dari berbagai persoalan yang menimpa umat. Namun, perubahan yang tidak dibangun berdasarkan pemahaman Islam dan metode perjuangan Rasulullah ﷺ berisiko hanya menghasilkan perubahan tambal sulam.
Sebab, selama sistem kapitalisme, liberalisme dan sekulerisme yang menjadi akar persoalan tetap dipertahankan, berbagai masalah akan terus bermunculan dalam bentuk yang berbeda.
Di sinilah pentingnya menjadikan Maulid bukan sekadar momentum untuk mengulang kisah kelahiran Rasulullah ﷺ, melainkan momentum untuk mempelajari mengapa Rasulullah ﷺ diutus, apa risalah yang beliau bawa, bagaimana beliau membina umat, bagaimana beliau menghadapi masyarakat jahiliah, dan bagaimana Islam akhirnya menjadi sistem yang mengatur kehidupan.
Perjuangan Rasulullah ﷺ tentu bukan perjuangan untuk kepentingan pribadi. Beliau membawa risalah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah Swt. berfirman:
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (TQS. Al-Anbiya [21]: 107)
Maka, jika Maulid hendak dijadikan momentum kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, kecintaan itu semestinya melahirkan kesungguhan untuk mengikuti risalah dan metode perjuangan beliau. Umat membutuhkan lebih dari sekadar perasaan haru ketika mendengar kisah Rasulullah ﷺ. Umat membutuhkan kesadaran bahwa Islam harus dipahami secara menyeluruh, diperjuangkan dengan metode yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, dan diterapkan dalam kehidupan.
Maulid semestinya tidak berhenti pada shalawat dan perayaan. Maulid harus menjadi momentum untuk kembali kepada risalah Rasulullah ﷺ, meneladan perjuangannya, membangun kesadaran umat, dan memperjuangkan tegaknya kehidupan Islam. Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak hanya terucap di lisan, tetapi benar-benar diwujudkan melalui ittiba' terhadap risalah dan perjuangan beliau.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar