OPINI
Jangan Biarkan Putus Asa Menjadi Jalan Keluar
Oleh: Ilma Nafiah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Ada kabar yang seharusnya tidak hanya membuat kita berduka, tetapi juga membuat kita berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sedang terjadi pada masyarakat kita? Dua dugaan kasus bunuh diri terjadi di Kabupaten Karimun dalam waktu yang sama, Kamis, 10 September 2026. Kepolisian pun mendorong penguatan peran Bhabinkamtibmas sebagai bagian dari upaya pencegahan dan mengajak masyarakat agar tidak menghadapi persoalan hidup seorang diri (Kupasonline.com, 11 September 2026).
Peristiwa yang terjadi berdekatan seperti ini semestinya tidak dianggap sebagai dua kejadian yang berdiri sendiri. Memang, setiap orang memiliki persoalan dan kondisi psikologis yang berbeda sehingga penyebabnya tidak boleh disimpulkan secara serampangan. Namun, kemunculan kasus secara berdekatan merupakan alarm bahwa persoalan kesehatan mental dan tekanan hidup membutuhkan perhatian yang lebih serius.
Kapolres Karimun menyebut persoalan keluarga, tekanan ekonomi, penyakit berkepanjangan, maupun beban psikologis dapat membutuhkan dukungan dan penanganan yang tepat. Masyarakat juga diimbau untuk mencari bantuan keluarga maupun tenaga profesional ketika menghadapi tekanan berat (Kupasonline.com, 11 September 2026).
Pesan tersebut penting. Sebab, membicarakan bunuh diri tidak cukup dengan mengatakan bahwa seseorang harus “lebih kuat”. Orang yang sedang mengalami tekanan berat membutuhkan lingkungan yang mau mendengar, keluarga yang tidak menghakimi, serta akses terhadap pertolongan profesional. Namun, ada persoalan yang lebih besar yang juga layak dipikirkan. Mengapa semakin banyak orang dapat sampai pada titik merasa hidupnya tidak memiliki jalan keluar?
Krisis manusia tidak lahir dalam ruang kosong. Kesehatan mental memang merupakan persoalan individu, tetapi individu tidak hidup sendirian. Ia tumbuh dalam keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, dunia kerja, dan sistem kehidupan yang memengaruhi cara seseorang memandang dirinya serta kehidupannya.
Masyarakat hari ini menghadapi tekanan yang berlapis. Kesulitan ekonomi, konflik keluarga, tuntutan pendidikan dan pekerjaan, tekanan sosial, budaya membandingkan diri, hingga rasa kesepian dapat menjadi beban yang berat. Jika seseorang tidak mempunyai lingkungan yang mendukung, persoalan kecil pun dapat terasa semakin besar.
Di sinilah krisis jati diri menjadi persoalan penting. Manusia yang hanya mengukur keberhasilan dari materi, pencapaian, popularitas, atau pengakuan manusia akan mudah merasa gagal ketika standar tersebut tidak tercapai. Kehidupan seolah kehilangan makna ketika apa yang diinginkan tidak diperoleh.
Padahal, manusia tidak diciptakan hanya untuk mengejar kesenangan dunia. Allah Swt. berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ayat ini memberikan perspektif yang sangat penting. Ketenangan hati tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya jabatan, keberhasilan akademik, atau terpenuhinya seluruh keinginan. Ada kebutuhan ruhani yang hanya dapat dipenuhi dengan hubungan yang benar kepada Allah.
Namun, ayat tersebut juga tidak boleh digunakan untuk menyederhanakan persoalan kesehatan mental. Mengingat Allah bukan alasan untuk mengabaikan terapi atau pertolongan medis. Seseorang yang mengalami gangguan psikologis tetap membutuhkan bantuan profesional. Islam justru mendorong manusia untuk mencari pengobatan dan mengambil sebab yang mampu membantunya keluar dari kesulitan.
Islam tidak membiarkan manusia berjuang sendirian. Islam memandang kehidupan sebagai amanah. Karena itu, manusia tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan keputusasaan sesaat. Allah melarang manusia mencelakakan dirinya sendiri dan memberikan harapan bahwa rahmat-Nya jauh lebih luas daripada persoalan yang sedang dihadapi.
Dalam sejarah Rasulullah ﷺ, perhatian terhadap orang yang mengalami kesulitan juga terlihat dalam kuatnya budaya saling menolong. Para sahabat tidak dibentuk menjadi individu yang hidup sendiri-sendiri. Mereka dipersaudarakan, saling membantu, dan saling menguatkan. Contohnya adalah persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Ansar setelah hijrah ke Madinah. Kaum Ansar memberikan dukungan kepada kaum Muhajirin yang meninggalkan harta dan tempat tinggal mereka. Hubungan sosial semacam ini menunjukkan bahwa Islam tidak membangun masyarakat berdasarkan individualisme. Kesulitan seseorang menjadi perhatian komunitas.
Prinsip tersebut sangat relevan hari ini. Jangan sampai seseorang tinggal di tengah keramaian, memiliki banyak teman di media sosial, tetapi tidak memiliki satu orang pun yang dapat menjadi tempat bercerita ketika hidup terasa berat. Karena itu, menjaga kesehatan mental bukan hanya tugas psikolog atau rumah sakit. Keluarga harus menjadi tempat pertama yang memberikan rasa aman. Sekolah harus memiliki lingkungan yang mendukung peserta didik. Masyarakat harus menghilangkan budaya mengejek orang yang sedang mengalami masalah psikologis. Negara juga harus memastikan layanan kesehatan mental mudah dijangkau dan tidak menjadi kemewahan.
Islam membangun sistem yang menjaga manusia. Di sinilah penerapan nilai Islam memiliki dimensi yang lebih luas. Islam tidak hanya mengajarkan seseorang untuk beribadah secara individual, tetapi juga mengatur kehidupan sosial agar manusia mendapatkan haknya. Negara berkewajiban mengurus rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam adalah pemimpin yang mengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan rakyat bukan persoalan sampingan. Pemimpin bertanggung jawab memastikan masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan layak.
Dalam konteks kesehatan mental, tanggung jawab itu dapat diwujudkan melalui pendidikan berbasis akidah yang membentuk manusia berkepribadian Islam, penguatan keluarga, lingkungan sosial yang saling peduli, pemenuhan kebutuhan dasar, serta pelayanan kesehatan yang dapat diakses masyarakat.
Pendidikan juga tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang pintar bekerja. Anak-anak perlu dibekali pemahaman tentang tujuan kehidupan, hubungan dengan Allah, tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain, serta kemampuan menghadapi masalah secara sehat.
Dengan begitu, ketika menghadapi kegagalan, seseorang tidak langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak berharga. Ketika mengalami kesulitan ekonomi, ia tidak merasa kehidupannya telah selesai. Ketika menghadapi penyakit atau persoalan keluarga, ia tahu bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.
Jangan ubah tragedi menjadi sekadar berita. Dua dugaan kasus di Karimun harus menjadi alarm bersama. Bukan untuk mencari siapa yang patut disalahkan, apalagi menghakimi mereka yang mengalami tekanan berat. Justru masyarakat perlu belajar lebih peka.
Jika seseorang mulai menunjukkan perubahan perilaku, menarik diri, atau mengungkapkan keputusasaan, jangan disepelekan. Dengarkan tanpa menghakimi dan bantu menghubungkannya dengan orang yang dipercaya maupun tenaga profesional. Polres Karimun sendiri menekankan pentingnya kepedulian keluarga, masyarakat, tokoh agama, pemerintah, dan berbagai unsur lain dalam pencegahan (Lensapesisir.com, 12 September 2026).
Di sisi lain, negara tidak boleh hanya hadir setelah tragedi terjadi. Pencegahan harus dilakukan melalui kebijakan yang membangun keluarga, pendidikan, ekonomi, layanan kesehatan, dan lingkungan sosial yang sehat.
Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia memiliki kemuliaan. Karena itu, bunuh diri bukan jalan keluar dari persoalan. Tetapi menyampaikan hal tersebut kepada orang yang sedang berada dalam tekanan tidak cukup dengan hukuman atau ceramah. Mereka perlu dirangkul, didengarkan, dibantu, dan didekatkan kepada Allah sekaligus memperoleh pertolongan yang tepat.
Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang tidak pernah memiliki masalah. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang tidak membiarkan seseorang menghadapi masalahnya sendirian. Ketika keluarga menjadi tempat berlindung, masyarakat menjadi ruang kepedulian, layanan profesional mudah dijangkau, dan kehidupan dibangun dengan nilai Islam, seseorang akan memiliki lebih banyak alasan untuk bertahan dan mencari pertolongan.
Karimun tidak cukup hanya membutuhkan seruan agar masyarakat “lebih peduli”. Yang dibutuhkan adalah budaya hidup yang benar-benar membuat kepedulian itu nyata. Sebab, di balik setiap manusia yang sedang berjuang ada kehidupan yang berharga, ada keluarga yang membutuhkan kehadirannya, dan ada rahmat Allah yang jauh lebih luas daripada masalah yang sedang dihadapinya. Jalan keluar harus dicari, pertolongan harus diberikan, dan tidak seorang pun boleh dibiarkan menghadapi gelapnya persoalan seorang diri.
Via
OPINI
Posting Komentar