OPINI
Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup
Oleh: Rahimah S.Pd.I
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Generasi Z tumbuh di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang sangat cepat. Di satu sisi, mereka memiliki akses yang sangat luas terhadap dunia pendidikan, teknologi, Informasi, dan juga berbagai peluang baru. Namun, dari sisi lain Gen Z juga memiliki tekanan ekonomi dan sosial yang tidak ringan.
Dalam survei Deloitte Global Gen Z and Millenial Survey 2025 menunjukkan bahwa 48 % Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Kondisi ini juga menunjukkan adanya suatu kekhawatiran yang nyata terhadap masa depan. Ironisnya, ditengah tekanan tersebut pengeluaran utk self-reward, healing, dan berbagai gaya hidup konsumtif justru semakin meningkat karena dianggap sebagai kebutuhan nasional, bukan sekadar kemewahan (Kompas.com, 12-8-2026).
Ditengah tekanan tersebut, muncul sebuah paradoks. Ketika sebagian Gen Z merasa sulit membangun keamanan finansial; budaya self-reward, nongkrong, hedon, atau shopping malah justru budaya-budaya ini semakin dekat pada mereka. Suatu hal yang wajar memang jika Gen Z merasa selfreward ini tidak semua hedonisme namun beristirahat, membahagiakan diri, menikmati kuliner, berpergian atau membeli sesuatu setelah bekerja
keras bukanlah sebuah dosa.
Lalu muncullah masalah ketika konsumsi dijadikan pelarian utama dari tekanan hidup. Setelah diteliti, self-reward, fomo, media Sosial, dan orientasi hedonis berkaitan dengan
meningkatnya kecendrungan Gen Z pada pembelian. Oleh karena itu, sesuatu yang dianggap hadiah untuk diri Sendiri, bisa berubah menjadi mekanisme membonding rasa senang meskipun hanya bertahan sejam dua jam bahkan bisa dikatakan sebentar.
Dari sinilah bisa dilihat bahwasannya ekonomi tidak bisa dilepaskan dari sistem yang membentuk cara manusia memandang kebutuhan. Masalahnya, konsumsi tidak benar-benar menyelesaikan persoalan batin. Kenikmatan membeli biasa berlangsung, setelah itu, muncul kebutuhan baru untuk mengoleksi pengalaman ataupun barang branded yang baru lagi, lagi dan lagi terus berulang. Disinilah persoalan gen z bukan hanya tekanan ekonomi, tapi juga krisis makna dan tujuan hidup yang sebenarnya.
Ketika manusia tidak memiliki pemahaman yg benar tentang suatu tujuan hidup, kebahagiaan sangat mudah diukur dengan materi, popularitas, pengalaman yang menyenangkan dan juga pengakuan sosial.Karena itu, persoalan gen z tidak cukup hanya berupa nasehat belaka, namun harus ada perubahan paradigma dan sistem yang mampu menjamin kesejahteraan sekaligus membangun kepribadian generasi. Karenanya dalam perspektif Islam negara
memiliki tanggung jawab besar sebagai ra'in (pengurus) dan pelindung rakyat serta menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab negara.
Islam Menutup Gaya Hidup Hedonis
Dalam pandangan Islam, kehidupan di dunia hanya sementara. Apa yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Sebagaimana firman Allah Swt.:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ
”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya) pula.” (QS Al-Zalzalah [99]: 7-8).
Dalam kurikulum pendidikan Islam, yang membentuk visi kehidupan yang benar, sehingga sikap hedonisme nggak akan ada. Dalam Islam visi yang dibentuk yaitu dunia ini hanya sebagai ladang untuk beramal dan akhirat adalah tujuan akhir.
Daulah Islam akan terus memastikan tontonan dan apa yang berita tersebar di media masa. Daulah Islam tidak akan membiarkan asing untuk bebas membentuk opini publik demi kepentingan mereka. Daulah Islam akan mengisi media dengan konten edukasi dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.
Wallahu 'alam bish sawwab.
Via
OPINI
Posting Komentar