NAFSIAH
Sibuk Mengejar Dunia, Lupa Menata Jiwa(Ketika Kesuksesan Materi Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Ketenangan Hati)
Oleh: Eka Sulistya
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Pagi dimulai dengan mengecek notifikasi. Siang waktu dihabiskan mengejar target pekerjaan. Malam masih disibukkan dengan membalas pesan dan menyelesaikan tugas yang belum rampung. Hari demi hari berlalu dalam ritme yang sama. Kita bangga menyebutnya produktif. Namun, pernahkah kita bertanya, benarkah kesibukan itu membawa kita semakin dekat kepada Allah Swt.?
Inilah potret kehidupan masyarakat modern saat ini. Banyak orang berangkat sebelum matahari terbit dan pulang ketika anak-anak telah terlelap. Waktu habis untuk mengejar karier, omzet, jabatan, dan pengakuan. Ironisnya, semakin tinggi pencapaian dunia, justru semakin banyak yang mengeluhkan hati yang gelisah, hubungan keluarga yang renggang, hingga ibadah yang terasa semakin berat.
Fenomena ini dikenal sebagai hustle culture, budaya yang memuliakan kesibukan dan mengukur nilai seseorang dari produktivitasnya. Seolah-olah hidup hanya tentang bekerja lebih keras,karier sukses, memperoleh lebih banyak, dan terus bersaing. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Allah Swt. berfirman, "Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." (TQS. Al-A'la: 17).
Ayat ini bukan berarti Islam melarang bekerja atau menjadi kaya. Justru Islam mendorong umatnya untuk berkarya, berdagang dan membangun peradaban. Namun, semua itu harus berada dalam koridor ibadah dan menjadi sarana meraih ridha Allah, bukan tujuan hidup.
Ketika dunia menjadi orientasi utama, syaksiyah Islam mulai melemah. Salat ditunda karena rapat, Al-Qur'an tak sempat dibaca karena terlalu lelah, majelis ilmu dianggap tidak sepenting pertemuan bisnis, sementara keluarga hanya mendapatkan sisa waktu dan tenaga. Kesibukan yang seharusnya menjadi ladang pahala justru berubah menjadi sebab jauhnya seorang hamba dari Rabb-nya.
Rasulullah ï·º bersabda: "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara." (HR. Bukhari)
Hadis ini mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Seorang musafir tentu mempersiapkan bekal untuk tujuan akhirnya, bukan sibuk menghias tempat persinggahannya hingga melupakan perjalanan yang sesungguhnya.
Di sinilah pentingnya membangun syaksiyah Islam, yaitu kepribadian yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir dan bersikap. Seseorang yang memiliki syaksiyah Islam akan tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menggadaikan salat demi pekerjaan. Ia mengejar rezeki dengan cara yang halal, menyisihkan waktu untuk keluarga, menghadiri majelis ilmu, memperbanyak tilawah, serta menjadikan setiap aktivitas sebagai ibadah.
Syaksiyah Islam juga melahirkan keseimbangan. Kesuksesan tidak hanya diukur dari besarnya gaji atau tingginya jabatan, tetapi juga dari kedekatan dengan Allah, ketenangan hati, keberkahan rezeki, dan manfaat yang diberikan kepada sesama. Rasulullah ï·º dan para sahabat adalah teladan terbaik. Mereka adalah pedagang, pemimpin, panglima perang, dan pengelola negara. Namun, kesibukan itu tidak pernah melalaikan mereka dari zikir, salat, dan dakwah. Dunia berada di tangan mereka, bukan di dalam hati mereka.
Sayangnya, kehidupan modern justru sering membalik keadaan. Banyak orang memiliki segalanya, tetapi kehilangan ketenangan. Rumah semakin besar, tetapi waktu bersama keluarga semakin sedikit. Penghasilan meningkat, tetapi rasa syukur semakin menurun. Jadwal penuh, tetapi hati terasa kosong.
Islam menawarkan solusi yang berbeda. Bukan dengan meninggalkan dunia, melainkan dengan mengembalikan dunia pada posisinya sebagai sarana menuju akhirat. Ketika akidah menjadi fondasi, setiap pekerjaan bernilai ibadah, setiap rezeki disyukuri, setiap keberhasilan melahirkan kerendahan hati, dan setiap kesibukan tidak pernah menggeser kewajiban kepada Allah Swt.
Karena sejatinya, manusia tidak akan pernah kehilangan apa pun ketika mendahulukan Allah. Sebaliknya, manusia bisa kehilangan segalanya ketika menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.
Maka, di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah "Sudah sejauh mana karier kita berkembang?", melainkan "Sudah sedekat apa kita dengan Allah?" Sebab, pada akhirnya bukan jabatan, popularitas, atau kekayaan yang akan menyelamatkan kita di hadapan-Nya, melainkan iman, amal saleh, dan syaksiyah Islam yang terus kita jaga sepanjang kehidupan.
Via
NAFSIAH
Posting Komentar