OPINI
SD Negeri Minim Siswa Baru, Sekolah Swasta Diburu, Ada Apakah?
Oleh: Miftahul Jannah S.Si
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Setiap bulan Juli, tahun ajaran baru di dunia pendidikan dimulai. Pada tahun ajaran 2026/2027 ini, setiap sekolah menyiapkan berbagai kegiatan MPLS untuk siswa baru. Guru antusias merancang program, bahkan mendekorasi kelas bersiap menyambut siswa baru dan siswa lama setelah libur panjang. Sayangnya sukacita menyambut siswa ini tidak dirasakan oleh semua sekolah. Beberapa SD negeri mendapatkan siswa yang minim bahkan ada sekolah yang tidak mendapat murid sama sekali.
Di Sumatera, SDN Gedang Meneng, Rajabasa, Bandar Lampung hanya menerima dua siswa baru. Di Bengkulu terdapat 13 sekolah yang tidak mendapat siswa baru sama sekali. Di pulau Jawa, SDN Purwoyoso 1 Semarang hanya memiliki tiga siswa yang mendaftar (cnnIndonesia.com, 15-7-2026). Di SDN Potrobangsan 4 Magelang hanya mendapat empat siswa baru. Di Kabupaten Blitar terdapat 3 SDN yang tidak mendapat siswa baru. Kondisi ini juga dialami beberapa SDN di daerah lain (bbc.com, 20-7-2026).
Banyak Faktor Penyebab
Minimnya penerimaan siswa baru di beberapa SDN di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah minimnya jumlah angka anak sekolah. Ini dipengaruhi oleh angka kelahiran yang terus menurun. Menurut data BPS angka kelahiran pada 1971 sebesar 5,61 tapi pada 2025 angka kelahiran menurun menjadi 2,13. Penyebab berikutnya adalah karena perpindahan penduduk (urbanisasi) yang menyebabkan sejumlah wilayah kekurangan anak. Banyak keluarga lebih memilih tinggal di daerah penyangga atau perkotaan karena pekerjaan atau fasilitas yang lebih memadai.
Selain dua hal tersebut, minimnya angka kelahiran dan urbanisasi. Saat ini banyak orang tua lebih memilih sekolah berbasis agama dibandingkan sekolah negeri. Karena sarana dan prasarana yang lebih baik dan pertimbangan membekali anak dengan agama yang baik.
Melihat fenomena ini, beberapa pemerintah daerah mengambil kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah yang sepi peminat menjadi satu sekolah. Tapi kebijakan ini dianggap tidak mampu menyelesaikan akar masalah bahkan akan merugikan sekelompok orang terutama kalangan tidak mampu dan yang memiliki keterbatasan akses.
Perlu Perbaikan Menyeluruh
Upaya untuk menyelesaikan problem menurunnya penerimaan siswa SDN harus mendapat perhatian khusus. Tidak cukup hanya dengan penggabungan sekolah saja. Problem minimnya jumlah angka anak sekolah harus dipahami bahwa ini adalah buah pemahaman di masyarakat bahwa keberadaan anak sebagai beban ekonomi. Sehingga tidak sedikit pasangan yang memilih membatasi kelahiran bahkan menganut paham childfree. Mengingat tingginya biaya hidup dan biaya kebutuhan dasar lainnya termasuk pendidikan. Pemerintah harusnya memberikan solusi serta memastikan kebutuhan dasar rakyatnya terpenuhi sehingga kesejahteraan terwujud. Sehingga rakyat pun tidak khawatir jika memiliki banyak anak.
Masalah urbanisasi, harusnya pemerintah juga melakukan evaluasi atas kebijakan ekonominya mengingat saat ini kegiatan ekonomi, pembangunan ataupun sarana prasarana dan kemudahan akses hanya terpusat di perkotaan dan wilayah tertentu sehingga ada ketimpangan ekonomi pedesaan dan perkotaan. Ini sekali lagi menunjukkan gagalnya negara mewujudkan kesejahteraan yang adil dan merata.
Banyaknya orangtua yang lebih memilih sekolah swasta dibanding sekolah negeri kebanyakan didasari oleh kesadaran orangtua yang menginginkan membekali anaknya dengan agama mengingat begitu rusaknya kondisi moral generasi dan banyaknya tindak kriminal yang dilakukan oleh remaja. Kekhawatiran inilah yang menyebabkan banyak orangtua memilih sekolah berbasis agama untuk anaknya dengan harapan anak mereka terlindungi dari kerusakan moral dan tindak kriminal dengan akidah kuat yang mereka dapatkan dari sekolah berbasis agama.
Meskipun berulang kali pemerintah melakukan perubahan kurikulum pendidikan, sayangnya upaya ini tidak berhasil membendung kerusakan moral generasi, gagal memberikan solusi bahkan menambah kebingungan guru, murid serta orangtua.
Islam sebagai Solusi Mendasar
Berulangkali kurikulum diganti, nyatanya tidak mampu mengurai problem pendidikan yang berdampak pada tingginya kasus kriminalitas dan rendahnya moral generasi. Kondisi ini terjadi tentu saja akibat penerapan sistem sekuler liberal yang diterapkan di negeri ini. Maka tidak layak jika kita masih berharap pada sistem sekuler liberal ini. Sebagai muslim, kita perlu an wajib menjadikan sistem Islam sebagai pengatur hidup kita. Islam sebagai aturan yang bersumber dari Allah, telah terbukti selama 14 abad menjadi peradaban gemilang yang mampu mensejahterakan rakyat dan menghasilkan generasi berkualitas yang diliputi nuansa keimanan dan ketakwaan.
Negara Islam, dengan perannya sebagai raain (pelayan dan pengatur) serta junnah (perisai dan pelindung) rakyatnya akan menjamin pemenuhan kebutuhan pendidikan secara gratis, berkualitas dan merata untuk seluruh rakyatnya tanpa diskriminasi. Pendidikan diarahkan demi terwujudnya pelajar yang berkepribadian Islam, menguasai IPTEK dan tsaqofah Islam. Oleh karena itu kurikulum disusun berbasiskan akidah Islam, difasilitasi sarana dan prasarana terbaik serta guru yang berkompeten.
Kondisi ideal ini hanya bisa terjadi pada negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh,yakni khilafah. Maka masyarakat harus disadarkan akan urgensitas penerapan Islam oleh negara khilafah. Umat dibentuk kesadarannya bahwa penyelamatan generasi tidak cukup hanya menyekolahkan anaknya di sekolah Islam tapi dibentuk kesadaran politiknya bahwa kerusakan saat ini dalah buah penerapan sistem sekuler liberal.
Upaya penyadaran inilah yang disebut dengan dakwah. Dakwah yang mencontoh dan meneladani metode dan karakter dakwah Rasulullah. Semoga dengan upaya dakwah terus menerus tegaknya khilafah akan terwujud tidak lama lagi. InsyaAllah.
Via
OPINI
Posting Komentar