Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Kemerdekaan: Antara Islam dan Demokrasi
OPINI

Kemerdekaan: Antara Islam dan Demokrasi

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
07 Agu, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Lisa Herlina
(Aktivis Muslimah Medan)

TanahRibathMedia.Com—Bulan Agustus menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, bulan yang di identikkan dengan hari kemerdekaan Indonesia menjadi euforia tersendiri bagi seluruh masyarakat Indonesia. Namun dibalik euforia itu semua, timbul sebuah pertanyaan. Apa yang sedang masyarakat rayakan? Kemerdekaan nya atau ikut-ikutan merdeka?

Ironi Demokrasi 

Beberapa waktu lalu presiden Prabowo menyampaikan pidatonya dalam acara Indian Community Reception, di JCC Senayan Jakarta, 7-7-2026. Beliau menegaskan bahwa demokrasi masih menjadi sistem terbaik, meskipun dalam praktiknya tidak mudah dijalankan. “Demokrasi bukan jalan mudah, bukan sistem yang mudah, itu tak mudah. Terkadang sangat berantakan. Tapi saya pikir kita setuju bahwa itu adalah sistem terbaik untuk keadilan, untuk harapan, untuk inklusivitas,” paparnya (Presidenri.go.id, 7-7-2026).

Di saat yang sama presiden juga menegaskan bahwa demokrasi tidak lepas dari ATHG, sampai-sampai ada orang yang ingin membajaknya. Namun, ia menegaskan bahwa kita harus percaya pada demokrasi dan berusaha mempertahankannya. Bahkan beliau mengapresiasi dan mengajak masyarakat untuk belajar dari India yang katanya berhasil dalam mempertahankan demokrasi dengan menjaga stabilitas pemerintahan ditengah macam keberagaman.

Menjadi pertanyaan kembali, benarkah demokrasi merupakan sistem politik terbaik hingga timbul keharusan bagi kita untuk berusaha menjaga dan mempertahankannya?

Tentu fakta yang bisa kita indera hari ini menjadi salah satu barometer sistem demokrasi yang katanya sistem terbaik. Sengkarut nya pendidikan, dari biaya UKT mahal, dosen atau guru menggugat gaji, didaerah krisis fiskal. Belum lagi pungutan pajak. 80% pendapatan negara berasal dari pajak. Rakyat disuruh efisiensi anggaran sementara pejabat menikmati uang rakyat.

Pada faktanya slogan demokrasi sendiri seakan menjanjikan karena menempatkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan alias sumber pembuat aturan. Kata demokrasi berarti "pemerintahan oleh rakyat" atau "kekuasaan rakyat" di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Demokrasi juga punya slogan dan kredo yang terkenal yaitu vox populi vox dei (suara rakyat suara Tuhan) atau "dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat." 

Dalam perjalanannya, konsep ini justru mengandung racun mematikan sebab membuka celah kezaliman dan kerusakan akibat telah menempatkan akal manusia yang lemah dan terbatas sumber pembuat aturan dan UU. Apalagi dalam praktiknya, demokrasi mengharuskan adanya konsep perwakilan, baik dalam kekuasaan, maupun pembuatan UU, maka sangat memungkinkan akan muncul tirani minoritas (dari mereka yang disebut wakil rakyat) atas mayoritas. Yaitu rakyat yang kedaulatannya diserahkan kepada para wakil rakyat mereka melalui mekanisme pemilihan umum yang katanya adil dan bebas.

Sistem Sekuler yang Mengakar

Adanya pemisahan agama dari seluruh lini kehidupan   menjadikan masyarakat kehidupannya kosong dari aspek ruhiyah. Segalanya diukur dengan standar adakah manfaatnya atau tidak. Berujung materi atau bersifat fisik. Begitu pun dalam hal politik kekuasaan, semuanya dikerdilkan hanya untuk meraih sebesar-besarnya keuntungan. Maka wajar saja, ketika kekuasaan dimiliki oleh seseorang dan menjadi bahan rebutan serta masifnya sistem transaksional yang membuka celah penyalahgunaan kekuasaan dan berujung pada munculnya kezaliman struktural.

Wajarlah dalam demokrasi akan muncul penguasa yang sebagai regulator bagi para kapitalis dan oligarki bukan malah menjadi pejabat yang menjadi pelayan dan penjaga seluruh rakyat karena mereka lahir dari para pemilik modal. Dari sini jangan harap pula akan ada UU atau kebijakan yang adil karena  dari semua kebijakan dan UU yang dibuat harus memperhitungkan dulu- karena ada saham para pemilik modal (kapitalis) dalam menghantarkan para penguasa tersebut ke kursi kekuasaan. Ini tampak pada yang seperti terlihat sebelum-sebelumnya, setiap 5 tahunan, mereka seakan memberi hak politik pada rakyat untuk menentukan nasib dengan memilih calon pemimpinnya, namun suara rakyat diajak untuk melegitimasi kebijakan yang kerap anti rakyat.

Berbeda dengan demokrasi, Islam justru menegaskan bahwa kedaulatan hanyalah hak milik Allah Swt. Tuhan Pencipta alam. Urgensinya dalam kehidupan manusia bahwa Allah adalah pencipta alam semesta yang Maha Pengatur, Mahaadil, Mahasempurna, Maha Menyaksikan. Maka tentu Dialah yang tahu hakikat kebaikan dan apa yang dibutuhkan ciptaan-Nya. Dalam hal ini sudah Allah turunkan melalui Rasulullah dalam bentuk ajaran Islam yang dipastikan bebas dari kepentingan, adil, serta membawa keberkahan dan kebaikan untuk semua.

Ajaran Islam mencakup seluruh dimensi kehidupan makhluk hidup. Ada dimensi yang mengatur hubungan manusia dengan Allah termasuk sholat, puasa, bersedekah, dsb. Hubungan manusia meliputi muamalah dalam bidang ekonomi, sosial/pergaulan, hankam, politik. Juga uqubat (persanksian). Sedang dimensi dengan dirinya sendiri mencakup akhlak, makanan, minuman, pakaian. Semua aturan tersebut begitu harmonis dan mampu menjadi solusi problematika kehidupan setiap orang yang hidup didalamnya.

Sementara pendapat bahwa kekuasaan ada ditangan rakyat sebagaimana demokrasi. Tapi kekuasaan ini bermakna kewenangan untuk memilih penguasa (imam/khalifah) dengan keridhoan dan ikhtiar dalam rangka menegakkan kedaulatan Tuhan, yaitu menerapkan syariat Islam. Jadi bukanlah memilih penguasa dalam rangka melaksanakan kehendak rakyat yang dirumuskan sebagai UU dalam gedung parlemen. Justru saat penguasa melenceng dari amanah menegakkan syariat Islam dan tetap dalam kondisi demikian, maka rakyat melakukan muhasabah serta amar ma'ruf nahi munkar, rakyat juga berhak dan wajib untuk mencabut kekuasaannya dan menggantinya dengan yang lain.

Jika pada praktiknya terdapat masalah cabang dan perbedaan pandangan soal syariat Islam, dalam hal ini seorang khalifah mentabbani (mengadopsi) hukum tertentu termasuk hukum takzir yaitu sanksi-sanksi dan mukhalafat (hukum-hukum administratif) yang diperuntukkan untuk menjaga keamanan dan keselamatan. Namun perlu digarisbawahi bahwa tabani hukum oleh Khalifah tidak boleh keluar dari prinsip-prinsip syariat Islam. Dengan adanya hak tabani ini, tiada celah bagi seorang khalifah untuk menerapkan syariat diluar syariat Islam.

Menjadi rahasia sebuah kebangkitan adalah adanya kesempurnaan dalam penerapan syariat Islam oleh negara. Kecemerlangannya dalam peradaban manusia sangat panjang, hampir 13 abad lamanya. Umat hidup dalam level kesejahteraan yang sangat tinggi dan diliputi keberkahan hingga tampil sebagai khoiru ummah (umat terbaik). Semua fakta sejarah ini diakui oleh para intelektual Barat yang jujur dan mengagumi Islam lewat tulisan dalam buku-bukunya. 

Will Durant dalam bukunya menuliskan, "para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukan dana memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan, menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mencapai luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad." (Will Durant, The Story of Civilization).

Renungan dalam Kemerdekaan

Sungguh semua aturan Islam adalah demi kebaikan manusia agar kebahagiaan dan kemerdekaan hakiki bisa diraih dunia akhirat. Justru ketika jauhnya umat dari syariat Islam dan lepasnya mereka dari sistem pemerintahan Islam telah menjadi pintu pembuka datangnya berbagai kesempitan, merebaknya kemaksiatan, terbukanya celah perampok SDA dan penjajahan asing melalui UU, terbukanya kran yang berpotensi konflik, dll.

Maka sebagai orang yang beriman kita tidak selayaknya menjadi pengikut sistem yang tidak berasal dari Wahyu Allah (Islam). Karena kemerdekaan sejatinya adalah bebasnya manusia dalam beribadah, menghamba pada Allah, tidak terikat pada hukum buatan manusia agar tidak terjajah fisik, pemikiran dan segala potensi yang dimiliki di bumi Allah ini. Tanpa ragu menyampaikan kebenaran yang datangnya dari Islam. Merdeka. Takbir. Allahu akbar.

Allah Swt. mengingatkan akibat berpaling dari ajaran Islam: "Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (Al Qur'an), bagi Dia penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkan dirinya pada hari kiamat dalam keadaan buta." TQS Thaha ayat 124.
Wallahu a'lam bishshowab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Karhutla Meluas, Korban Berjatuhan: Akumulasi Eksploitasi Negara Korporasi

Tanah Ribath Media- September 27, 2026 0
Karhutla Meluas, Korban Berjatuhan: Akumulasi Eksploitasi Negara Korporasi
Oleh: Ayuningtiyas ( Aktivis Muslimah ) TanahRibathMedia.Com—  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menunjukkan wajah buruk pengelolaan lin…

Most Popular

Keracunan Massal MBG Akibat Masalah Sistemik

Keracunan Massal MBG Akibat Masalah Sistemik

September 23, 2026
Mengurai Racun Kapitalisme dalam Piring MBG

Mengurai Racun Kapitalisme dalam Piring MBG

September 23, 2026
‎Keracunan Massal MBG, Ketika Urusan Perut Rakyat Dijadikan Ladang Cuan

‎Keracunan Massal MBG, Ketika Urusan Perut Rakyat Dijadikan Ladang Cuan

September 18, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024

Popular Post

Keracunan Massal MBG Akibat Masalah Sistemik

Keracunan Massal MBG Akibat Masalah Sistemik

September 23, 2026
Mengurai Racun Kapitalisme dalam Piring MBG

Mengurai Racun Kapitalisme dalam Piring MBG

September 23, 2026
‎Keracunan Massal MBG, Ketika Urusan Perut Rakyat Dijadikan Ladang Cuan

‎Keracunan Massal MBG, Ketika Urusan Perut Rakyat Dijadikan Ladang Cuan

September 18, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us