OPINI
Dirgahayu RI ke-81 dan Kemerdekaan Hakiki
Oleh: Agus Susanti
(Pegiat Literasi Serdang Bedagai)
TanahRibathMedia.Com—Pada 17 Agustus 2026, seluruh rakyat Indonesia telah merayakan hari kemerdekaannya yang ke 81. Bendera merah putih berkibar di halaman Istana dan seluruh wilayah Indonesia. Lagu Indonesia raya serta lagu kemerdekaan bergema di mana-mana, para pejabat tertawa gembira dengan semarak kemerdekaan yang di gelar. Semua teriak merdeka, namun benarkah rakyat Indonesia sudah merdeka!
Merdeka bukan hanya terlepas dari belenggu penjajahan fisik yang dilakukan oleh kolonialisme. Bung Karno pernah menawarkan gagasan trisakti : berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Kemerdekaan sejati bukan hanya persoalan siapa yang memerintah Indonesia. Kemerdekaan juga menyangkut siapa yang menguasai sumber daya alam, siapa yang menikmati hasil pembangunan, dan apakah rakyat memiliki posisi yang kuat dalam kehidupan ekonomi bangsa. Secara historis, Indonesia memang telah merdeka, namun secara ekonomi tidak (Waspada.id, 17-8-2026).
Peran Pemuda untuk Kemerdekaan
Peran pemuda dalam kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman kolonial tidak boleh dilupakan, sebaliknya para pemuda harus terus menjaga semangat perjuangan tersebut dengan sikap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Apalagi jika kebikajan-kebijakan tersebut justru secara nyata diperuntukkan kepada asing dan swasta. Dari sumpah pemuda 1928 hingga reformasi 1998, mahasiswa dan pemuda selalu hadir ketika bangsa membutuhkan keberanian untuk melakukan perubahan. Karena itu generasi pemuda hari ini tidak boleh kehilangan sejarah keberanian tersebut.
Pemuda saat ini harus lebih berani menyuarakan kebenaran, tanpa perasan takut dan terintimidasi oleh pihak manapun. Kemerdekaan Indonesia sudah seharunya menjadikan rakyatnya merdeka dalam setiap hal, tak terkecuali merdeka untuk memberikan pendapatnya di hadapan umum. Generasi pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dan menikmati hasil dari perjuangan para pahlawan kemerdekaan terdahulu. Jangan biarkan diri pemuda rusak dengan hanya mengikuti tren yang sedang viral, semata untuk menunjukkan jati diri di masyarakat. Peran pemuda sebagai penerus harus terus dijaga dengan bersikap objektif menghadapi berbagai persoalan. Beban berat ada di pundak para generasi, namun mungkinkah sistem hari ini menjaga generasi penerus sebagai pilar yang akan menjaga kehormatan dan dan kemajuan bangsa?
Indonesia Masih Terjajah
Secara fisik memang benar rakyat Indonesia telah berhasil merdeka, namun secara ekonomi dan pemikiran Indonesia jelas belum merdeka sepenuhnya. Saat ini Indonesia bahkan dengan sukarela mengijinkan negaranya terus dalam penjajajan pemikiran dan ekonomi. Dalam prinsip kapitalisme sekuler, keberadaan pemilik modal sebagai penguasa yang punya kendali terhadap kebijakan. Kedaulatan berada di tangan rakyat hanya slogan, seolah rakyatlah yang memiliki kuasa penuh terhadap kebijakan negara.
Kenyataan bahwa Indonesia masih terjajah dengan jelas dapat disaksikan oleh rakyat hingga ke pelosok dunia. Dengan berlimpahnya sumber daya alam yang ada di negara ini, rakyatnya justru masih jauh dari kata sejahtera, bahkan tak sedikit rakyat yang hidup dalam garis kemiskinan ekstrim. Papua misalnya, di sana terdapat gunung emas yang sangat melimpah namun sayang karena kerakusan segelintir orang kekayaan alam tersebut justru diserahkan ke pada Amerika untuk secara ugal-ugalan dikeruk kekayaan alam tersebut. Di sisi lain kita lihat papua sebagai wilayah yang justru di penuhi dengan rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan ekstrim, bahkan angka stunting sangatlah tinggi di daerah yang amat kaya tersebut.
Ini hanyalah satu contoh penjajahan ekonomi yang membelenggu negara kita saat ini, masih banyak SDA lain seperti, nikel, batu bara, dan lainnya yang saat ini dikuasai koorporasi dan asing. Rakyat Indonesia masih terjajah dengan kebijakan pemerintah yang mencekik seperti pajak yang terus naik, sementara keluarga para pejabat tanpa sungkan hidup dengan gaya hedonisnya. Rakyat dipakasa tunduk terhadap setiap kebijakan, sebaliknya aspirasi rakyat untuk kemajuan negeri justru dibungkam. Tak sedikit orang pintar yang menemukan ide brilian justru mendapat perlakukan seperti melakukan makar. Sementara di satu sisi asing dan aseng terus mencekoki Indonesia dengan pemikiran yang menjauhkan negara dari kemandirian ekonomi.
Rakyat Indonesia sedikit demi sedikit dijauhkan dari pola pikir yang cerdas, para imperialisme kini tidak menjajah menggunakan kekerasan fisik, namun dampaknya justru lebih besar dari yang dilakukan belanda dan jepang pada penjajahan sebelum kemerdekaan. Pemuda hari ini disibukkan dengan gaya, makanan, fashion dan kesenangan ala barat yang menyesatkan, sehingga mereka tak sadar bahwa diri dan negaranya masih dalam penjajahan gaya baru.
Kemerdekaan Hakiki Hanya dengan Penerapan Islam
Setiap individu baik muslim ataupun nonmuslim memiliki hak yang sama sebagai warga negara. Dalam sistem hari ini kemerdekaan ditunjukkan dengan adanya HAM dan jaminan kebebasan, namun kebebasan yang dimaksud bukanlah untuk menjadikan seseorang bisa hidup nyaman layaknya seseorang yang merdeka, sebaliknya kebebasan tersebut hanyalah berfungsi apabila digunakan untuk hal-hal pribadi yang tidak menyinggung dunia perpolitikan. Fakta Indonesia belum merdeka dengan tunduknya pemerintah Indonesia kepada asing dengan jalan investasi dan pinjaman hutang ribawi.
Padahal dalam Islam, haram hukumnya bagi negara lain mendikte kebijakan dari negara Islam. Islam memuliakan manusia dengan anggapan bahwa semua makhluk Allah memili hak dan kedudukan yang sama. Dalam Islam kekayaan alam adalah milik umum yang wajib dikelola secara mandiri dan hasilnya akan dikembalikan kepada umat dalam bentuk kemaslahatan seperti pendidikan, kesehatan gratis, dan lainnya. Jangankan urusan ekonomi, dalam hal sekecil apapun asing dan negara kafir tidak akan punya celah untuk mengatur.
Kemerdekaan hakiki hanya akan terwujud dengan menerapkan Islam dalam kehidupan bernegara. Negara yang menerapkan Islam akan mampu bersikap tegas dan mandiri dari campur tangan asing, baik urusan pendidikan dan perekonomian. Ketika syariat Islam ditegakkan maka tak ada lagi ruang bagi tikus berdasi untuk mencuri hak rakyat, tidak akan ada pemalakan dengan mengatasnamakan pajak untuk menopang roda perekonomian negara. Tidak akan ada lagi penggundulan hutan secara membabi buta, apalagi perampasan lahan rakyat dengan mengatasnamakan kemaslahatan. Sumber daya alam akan dikelola secara bijak, dan rakyat akan hidup sejahtera dalam akidah yang terjaga pula. Semua itu hanya akan terwujud ketika Islam dijadikan sebuah ideologi negara, bukan yang lainnya.
Allah Swt. berfirman: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf 96)
Wallahu a’lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar